POJOKSATU.id - Di tengah persoalan malaria yang masih menjadi tantangan kesehatan di wilayah tropis, sekelompok peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mencoba mencari jawaban dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap tidak berguna.

Rambut jagung dan daun pepaya, dua bahan yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, diolah menjadi Eco-Repel Spray, cairan semprot yang dikembangkan sebagai penangkal nyamuk Anopheles, vektor penyakit malaria.

Tim yang mengembangkan inovasi tersebut terdiri atas La Ode Aman, Dizky Ramadani Putri Papeo, dan Yuniarty Antu.

Baca Juga: DPR Dorong Gaji Guru dan Dosen Naik, Anggaran Pendidikan 2027 Capai Rp820,9 Triliun, Purbaya Jelaskan Ini

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui pendekatan Community-Based Participatory Approach (CBPA) kepada masyarakat Desa Botumoito, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

Bagi para peneliti, langkah tersebut bukan sekadar membuat produk berbahan alam. Ada dua persoalan yang ingin disentuh sekaligus, yakni membantu upaya pencegahan penyakit dan mengurangi limbah pertanian.

Dari Limbah Menjadi Penangkal Nyamuk
Rambut jagung selama ini sering kali langsung dibuang setelah jagung dikonsumsi. Padahal, bagian tanaman tersebut mengandung sejumlah senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan minyak atsiri.

Baca Juga: Ramai Prabowo Kenalkan Pengupas Bawang Penghasilan Rp700 Ribu per Kilogram, Jadi Ingat Momen Lain

Minyak atsiri menghasilkan senyawa volatil yang dapat mengganggu kemampuan penciuman nyamuk dalam mengenali manusia sebagai inang.

Kajian yang menjadi dasar pengembangan Eco-Repel Spray juga menyebut adanya senyawa norbergenin pada ekstrak rambut jagung yang memiliki aktivitas terkait pertumbuhan parasit malaria.

Sementara itu, daun pepaya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan senyawa fenolik yang berpotensi memberikan efek antinyamuk maupun antiparasit.

Baca Juga: 11 Sekjen Parpol Merapat ke Rumah Menlu Sugiono, Pengamat Intelijen Kaitkan Stabilitas Politik

Kedua bahan tersebut kemudian dikombinasikan dalam bentuk cairan semprot agar lebih praktis digunakan.

Dikenalkan kepada Masyarakat Desa Botumoito
Inovasi tersebut sebelumnya diperkenalkan melalui kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) UNG di Desa Botumoito.

Masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai manfaat bahan-bahan lokal tersebut, tetapi juga melihat langsung proses pembuatannya.

Kegiatan itu dipandu Dosen Pembimbing Lapangan, apt. Dizky R. Putri Papeo, M.S.Farm.

Baca Juga: Kado Kemerdekaan: Tarif Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Hanya Rp8 pada 17 Agustus 2026

Dizky mengatakan pemanfaatan bahan alami di sekitar masyarakat dapat menjadi salah satu langkah preventif yang diperkenalkan kepada warga.

“Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, serta mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan komunitas lokal,” ujar Dizky.

Kepala Desa Botumoito, Muhammad Wiramufti Umar, S.STP., turut mengapresiasi kegiatan tersebut.

Menurutnya, inovasi berbasis potensi lokal penting karena masyarakat dapat belajar memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka untuk mendukung kesehatan.

Baca Juga: Simpan Dana Bunga Cair di Muka, Bank Bandung Luncurkan 'Deposito Cuan di Depan' Hingga 6 Persen

Antusiasme masyarakat juga terlihat karena proses yang diperkenalkan relatif sederhana dan menggunakan bahan yang mudah diperoleh.

Bahan dan Cara Membuat Eco-Repel Spray
Berdasarkan informasi UNG, bahan yang digunakan untuk membuat Eco-Repel Spray terdiri atas:
- 50–100 gram rambut jagung.
- 10–15 helai daun pepaya segar.
- 1.000 mililiter air bersih.
- 100 mililiter etanol 70 persen.
- 1 mililiter minyak sereh atau citronella oil.

Rambut jagung dan daun pepaya terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Setelah itu, keduanya direbus dalam 1.000 mililiter air selama sekitar 20–30 menit.

Air rebusan kemudian disaring dan didinginkan. Ekstrak tersebut selanjutnya dicampurkan secara bertahap dengan etanol 70 persen dan minyak sereh.

Baca Juga: Empat Nama Mencuat Calon Ketum PBNU, Mulai Nasaruddin Umar hingga Marsudi Syuhud

Campuran diaduk hingga menyatu, kemudian dimasukkan ke dalam botol semprot yang telah disiapkan.

Minyak sereh digunakan karena mengandung senyawa seperti geraniol dan citronellal yang dikenal memiliki aroma yang tidak disukai nyamuk.

Meski menggunakan bahan alami, Eco-Repel Spray tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum dapat dianggap sebagai pengganti repelan komersial.

Efektivitas, lama perlindungan, konsentrasi optimal, keamanan, serta kemungkinan penggunaannya pada kelompok rentan perlu dibuktikan melalui pengujian ilmiah yang memadai.

Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Kimia Analisis, Materi Budaya Kerja hingga Mikrobiologi

Bukan Sekadar Melawan Nyamuk
Ada gagasan yang lebih besar di balik inovasi tersebut. Rambut jagung dan daun pepaya tidak lagi dipandang hanya sebagai sisa tanaman, tetapi sebagai bahan yang berpotensi memiliki nilai guna.

Pendekatan itu sejalan dengan konsep zero waste, yakni mengurangi bahan yang berakhir sebagai limbah dengan mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Bagi masyarakat desa, pemanfaatan bahan lokal juga membuka kemungkinan pengembangan produk yang dapat bernilai ekonomi.

Jika terus dikembangkan dengan penelitian dan standar keamanan yang memadai, inovasi berbasis bahan alam semacam ini berpeluang menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung upaya kesehatan lingkungan.

Baca Juga: Menteri Purbaya Angkat Bicara Soal Rencana Kenaikan Gaji Guru 2027, Simak Penjelasannya

UNG Juga Kembangkan Larvasida dari Kulit Nanas
Eco-Repel Spray bukan satu-satunya inovasi berbasis limbah organik yang dikembangkan lingkungan UNG.

Sebelumnya, tim Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG mengembangkan limbah kulit nanas (Ananas comosus) menjadi Aqola Bomb.

Produk tersebut ditujukan sebagai larvasida alami untuk membunuh jentik Aedes aegypti, nyamuk yang menjadi vektor utama penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Aqola Bomb diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi dan peluncuran di Desa Langge, Kabupaten Bone Bolango.

Dua inovasi tersebut memperlihatkan arah yang serupa: mencari solusi pengendalian vektor penyakit dari bahan yang tersedia di sekitar masyarakat.

Baca Juga: BMKG Beberkan Penyebab Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Simalungun Sumut, Jenis Tektonik

Jika Aqola Bomb menyasar jentik Aedes aegypti, Eco-Repel Spray diarahkan untuk membantu mencegah gigitan nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria.

Pengembangan Eco-Repel Spray yang tercatat sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat di basis data SINTA melibatkan La Ode Aman sebagai ketua, bersama Dizky Ramadani Putri Papeo dan Yuniarty Antu sebagai anggota.

Pada akhirnya, inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana sesuatu yang sederhana dapat memunculkan gagasan besar.

Rambut jagung dan daun pepaya yang sebelumnya mudah berakhir sebagai limbah kini dicoba diberi kehidupan baru sebagai bagian dari upaya menghadapi penyakit yang masih menjadi persoalan kesehatan.

Baca Juga: Viral di Media Sosial, Pria di Pelabuhan Aimere Sempat Peringatkan Warga Sebelum Gempa Flores

Namun, perjalanan dari inovasi masyarakat menuju produk yang dapat digunakan secara luas tetap membutuhkan satu hal penting: pembuktian ilmiah.

Sebab, bahan alami bukan berarti otomatis aman dan efektif, sehingga penelitian lanjutan tetap menjadi kunci agar Eco-Repel Spray benar-benar dapat memberi manfaat tanpa mengabaikan keselamatan penggunanya.***