POJOKSATU.id - Tes Kemampuan Akademik (TKA) Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) dirancang untuk mengukur kemampuan murid dalam memahami, menerapkan, dan menganalisis konsep yang berkaitan dengan perencanaan, pemodelan, serta konstruksi bangunan.
Muatan TKA DPIB merujuk pada elemen dalam Capaian Pembelajaran berdasarkan Salinan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 046/H/KR/2025.
Materi yang diujikan mencakup wawasan dunia kerja bidang DPIB, kecakapan kerja dasar, K3LH dan budaya kerja, gambar teknik dan Building Information Modeling (BIM), perhitungan statika bangunan, serta dasar konstruksi bangunan.
Baca Juga: Indonesia Tegaskan Komitmen Diplomasi Kemerdekaan Palestina pada Pertemuan di Yordania
Cakupan Materi TKA DPIB
Ada lima elemen utama yang menjadi cakupan TKA DPIB, yaitu:
-
Wawasan dunia kerja bidang desain pemodelan dan informasi bangunan, meliputi sistem informasi bangunan dan perkembangan teknologi.
-
Kecakapan kerja dasar, K3LH dan budaya kerja, meliputi pengoperasian serta perawatan alat ukur, penerapan mutu, dan keselamatan kerja.
-
Gambar Teknik dan Building Information Modeling (BIM), meliputi standar gambar teknik serta fungsi dan contoh teknologi BIM.
-
Perhitungan Statika Bangunan, meliputi keseimbangan gaya dan perhitungan gaya batang.
-
Dasar Konstruksi Bangunan, meliputi jenis pekerjaan konstruksi serta isu global mengenai green building dan sustainable building.
Baca Juga: 30 Ide Kostum 17 Agustus yang Unik dan Kreatif, Murah Meriah tapi Berpeluang Jadi Juara
TKA DPIB mengukur kemampuan murid melalui tiga level kognitif, yakni Pengetahuan dan Pemahaman (Knowing and Understanding), Aplikasi (Applying), serta Penalaran (Reasoning).
Pada level pengetahuan dan pemahaman, murid dituntut mampu menjelaskan dan mengidentifikasi konsep dasar DPIB.
Level aplikasi mengukur kemampuan menggunakan, menerapkan, mengoperasikan, menghitung, dan menyematkan informasi pada model CAD/BIM.
Sementara itu, level penalaran mengukur kemampuan mengevaluasi, menganalisis, dan merencanakan pekerjaan konstruksi berdasarkan standar yang berlaku.
Contoh Soal TKA DPIB
Soal Nomor 1
Kompetensi: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengoperasian dan perawatan alat ukur
Sub Kompetensi: Pengoperasian dan perawatan alat ukur
Bentuk Soal: Pilihan Ganda (PG)
Sebuah perusahaan konstruksi akan membangun gedung perkantoran baru di atas sebidang tanah kosong.
Sebelum desain arsitektur difinalisasi, tim survei pemetaan (surveyor) perlu menentukan batas-batas tanah secara presisi, menentukan posisi koordinat (x,y) untuk sudut-sudut bidang tanah, serta mengukur beda tinggi tanah.
Surveyor memerlukan data sudut horizontal untuk menentukan arah batas tanah (azimuth) dan data sudut vertikal untuk menghitung jarak datar yang akurat dari jarak miring pada lahan berbukit.
Alat optik yang digunakan untuk mengukur sudut horizontal dan sudut vertikal dalam penentuan posisi koordinat (x,y) adalah ....
A. Waterpass
B. Pita ukur
C. Theodolite
D. Barometer
E. Rambu ukur
Kunci Jawaban: C. Theodolite
Pembahasan: Theodolite merupakan alat ukur optik yang digunakan untuk mengukur sudut horizontal dan sudut vertikal. Data hasil pengukuran tersebut dapat digunakan dalam pekerjaan survei dan pemetaan untuk menentukan arah serta posisi suatu titik.
Baca Juga: Langkah Kemensos Bentengi Rekening Bansos KPM dari Kejahatan dan Penggunaan Bansos yang Tepat!
Soal Nomor 2
Kompetensi: Memahami dan menerapkan perangkat teknologi sesuai perkembangan teknologi
Sub Kompetensi: Perkembangan teknologi
Bentuk Soal: Pilihan Ganda Kompleks (PGK) Kategori
Petunjuk: Bacalah setiap pernyataan berikut. Tentukan apakah pernyataan tersebut Benar atau Salah berdasarkan penggunaan teknologi dalam pekerjaan konstruksi.
Dalam dunia konstruksi modern, pemilihan metode, teknologi, dan alat berat sangat krusial untuk memastikan kualitas struktur, efisiensi waktu, dan efektivitas biaya.
Kesalahan prosedur pada tahap teknis, seperti pengecoran, atau kesalahan pemilihan metode, seperti modular dibandingkan konvensional, dapat berdampak pada lifecycle bangunan dan membengkaknya anggaran.
Baca Juga: Pejabat Eselon I dan II BGN Dibagi-bagi, Ditugaskan ke Daerah Awasi SPPG Provinsi dan Kabupaten
Pernyataan A
Concrete vibrator digunakan pada pekerjaan pengecoran beton untuk menghaluskan permukaan akhir beton agar mengkilap.
Benar atau Salah?
Pernyataan B
Teknologi modular dan prefabrikasi diterapkan untuk mempercepat waktu pengerjaan bangunan dengan membuat komponen struktur di pabrik, bukan di lokasi proyek.
Benar atau Salah?
Pernyataan C
Excavator digunakan untuk mengangkut dan menjaga campuran beton agar campuran beton tidak mengeras sebelum digunakan pada proses pengecoran konstruksi.
Benar atau Salah?
Kunci Jawaban:
-
Pernyataan A: Salah
-
Pernyataan B: Benar
-
Pernyataan C: Salah
Pembahasan: Concrete vibrator digunakan untuk memadatkan beton dan mengurangi rongga udara ketika pengecoran, bukan untuk membuat permukaan beton mengkilap.
Teknologi modular dan prefabrikasi memungkinkan komponen bangunan dibuat di fasilitas produksi sebelum dirakit di lokasi proyek.
Sementara itu, excavator digunakan terutama untuk pekerjaan menggali, memuat, dan memindahkan material, bukan menjaga campuran beton agar tidak mengeras.
Soal Nomor 3
Kompetensi: Memahami, mengoperasikan, dan menganalisis pengoperasian dan perawatan alat ukur
Sub Kompetensi: Pengoperasian dan perawatan alat ukur
Bentuk Soal: Pilihan Ganda (PG)
Pada saat melakukan pengukuran menggunakan waterpass, seorang petugas menemukan bahwa gelembung nivo belum berada tepat di tengah meskipun alat sudah dipasang di tripod.
Jika pengukuran tetap dilakukan tanpa penyetelan ulang, hasil pengukuran dapat menjadi tidak akurat.
Tindakan yang paling tepat dilakukan petugas tersebut adalah ....
A. Mengubah posisi rambu ukur agar garis bidik lebih mudah terlihat
B. Menyetel sekrup pengatur dan kaki tripod hingga gelembung nivo berada di posisi seimbang
C. Memindahkan alat ukur ke titik lain yang permukaannya lebih rata
D. Mengurangi jarak pengamatan agar kesalahan pembacaan dapat diperkecil
E. Mengulangi pembacaan rambu ukur tanpa melakukan penyetelan alat
Kunci Jawaban: B. Menyetel sekrup pengatur dan kaki tripod hingga gelembung nivo berada di posisi seimbang
Pembahasan: Sebelum digunakan, waterpass harus diatur agar berada dalam kondisi datar.
Gelembung nivo yang tidak berada di tengah menunjukkan alat belum berada pada posisi kerja yang tepat sehingga penyetelan perlu dilakukan sebelum pembacaan.
Baca Juga: 6 Soal TKA SMK 2026, Teknik Perawatan Gedung Pusmendik, Lengkap dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan
Soal Nomor 4
Kompetensi: Memahami, menerapkan, dan menganalisis teknologi BIM dalam industri konstruksi
Sub Kompetensi: Fungsi dan contoh teknologi BIM
Bentuk Soal: Pilihan Ganda (PG)
Seorang estimator menggunakan perangkat lunak BIM seperti Autodesk Navisworks/Revit untuk menghitung estimasi proyek pembangunan gedung perkantoran tiga lantai.
Estimator tersebut telah memiliki model 3D yang detail untuk struktur dan arsitektur, jadwal kerja 4D (time scheduling) yang terhubung dengan elemen model, serta database AHSP (Analisis Harga Satuan Pekerjaan) SNI terbaru.
Apa fungsi utama mengintegrasikan jadwal 4D (scheduling) dengan model 3D dalam penyusunan estimasi proyek tersebut?
A. Memastikan estimasi proyek hanya menghitung material yang terpasang saja.
B. Menyesuaikan harga satuan bahan berdasarkan inflasi waktu.
C. Mengaitkan volume pekerjaan dengan waktu pelaksanaan untuk estimasi arus kas (cash flow).
D. Mempercepat proses modeling 3D.
E. Menentukan jenis material yang digunakan.
Kunci Jawaban: C. Mengaitkan volume pekerjaan dengan waktu pelaksanaan untuk estimasi arus kas (cash flow)
Pembahasan: Integrasi model 3D dengan jadwal 4D memungkinkan elemen pekerjaan dikaitkan dengan waktu pelaksanaannya.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk melihat kebutuhan pekerjaan dari waktu ke waktu dan membantu menyusun perencanaan arus kas proyek.
Baca Juga: Pemerintah Rilis Panduan Resmi Penggunaan Logo Kemerdekaan dalam Publikasi HUT ke-81
Soal Nomor 5
Kompetensi: Memahami, menerapkan, dan menganalisis budaya mutu dan K3LH
Sub Kompetensi: Penerapan dan budaya mutu dan K3LH
Bentuk Soal: Pilihan Ganda (PG)
Perhatikan gambar dokumen Job Safety Analysis (JSA) pekerjaan galian tanah untuk pondasi bangunan yang disajikan di atas.
Berdasarkan informasi pada gambar JSA tersebut, manakah analisis yang paling tepat mengenai fungsi dokumen tersebut dalam menjaga mutu dan keselamatan konstruksi?
A. Menjamin pekerjaan selesai lebih cepat dan mengurangi biaya pembelian APD (Alat Pelindung Diri).
B. Mengidentifikasi potensi bahaya tanah longsor dan memastikan pekerja menggunakan helm proyek agar tidak cedera.
C. Mencegah risiko kecelakaan kerja berupa tanah longsor serta pekerja terkena alat kerja selama pekerjaan galian berlangsung.
D. Sebagai dokumen administratif untuk memenuhi syarat tender proyek agar lolos verifikasi.
E. Mengatur jumlah tenaga kerja agar tidak terlalu banyak di lapangan sehingga efisien.
Baca Juga: Polda Metro akan Periksa Dokter RS Muhammadiyah yang Tangani Jasad Sutrimo Penjaga Rumah Febrie
Kunci Jawaban: C. Mencegah risiko kecelakaan kerja berupa tanah longsor serta pekerja terkena alat kerja selama pekerjaan galian berlangsung.
Pembahasan: JSA digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya pada setiap tahapan pekerjaan dan menentukan tindakan pengendalian yang sesuai.
Pada gambar tersebut, bahaya yang diidentifikasi antara lain tanah longsor dan pekerja terkena cangkul.
Tindakan pengendalian dilakukan melalui pembuatan turap atau penahan tanah serta pengaturan jarak aman antarpekerja.
Dengan demikian, JSA bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi bagian penting dalam penerapan budaya K3LH karena membantu pekerja mengenali risiko sebelum pekerjaan dilaksanakan.
Baca Juga: Indonesia Inisiasi Pembangunan Koalisi Global South Mendukung Kemerdekaan Palestina
Soal Nomor 6
Kompetensi: Memahami, menerapkan, dan menganalisis teknologi BIM dalam industri konstruksi
Sub Kompetensi: Fungsi dan contoh teknologi BIM
Bentuk Soal: PGK MCMA
Petunjuk: Pilih lebih dari satu jawaban yang benar.
Sebuah perusahaan kontraktor sedang mengerjakan proyek gedung bertingkat yang kompleks dan sering mengalami keterlambatan serta pemborosan material akibat ketidakcocokan desain antara struktur dan sistem MEP (Mechanical, Electrical, and Plumbing) di lapangan.
Berdasarkan kasus tersebut, langkah penerapan BIM yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah ....
A. Menggunakan BIM untuk membuat visualisasi 3D yang indah bagi investor.
B. Menggunakan fitur Clash Detection pada model BIM untuk mendeteksi bentrokan antar-elemen struktur dan MEP sebelum konstruksi fisik.
C. Mengabaikan model BIM dan kembali ke metode gambar 2D manual untuk mempercepat pekerjaan.
D. Mengintegrasikan data model BIM untuk melakukan estimasi kebutuhan material secara presisi guna mengurangi limbah.
E. Menggunakan data simulasi waktu (4D BIM) untuk merencanakan urutan kerja lapangan agar tidak terjadi pengerjaan ulang.
Kunci Jawaban: B, D, dan E
Baca Juga: Polisi Buru Penadah Motor Usai Saepul Mutilasi Korban Kunaefi yang Dibuang di Pancoran Mas
Pembahasan: BIM dapat digunakan untuk mengintegrasikan berbagai informasi bangunan dalam satu model.
Fitur Clash Detection membantu menemukan bentrokan antara struktur dan sistem MEP sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan.
Data BIM juga dapat membantu memperkirakan kebutuhan material secara lebih akurat, sedangkan 4D BIM menghubungkan model dengan waktu sehingga urutan pekerjaan dapat direncanakan dengan lebih baik.
Ketiga penerapan tersebut secara langsung berkaitan dengan masalah dalam kasus, yaitu ketidakcocokan desain, pemborosan material, keterlambatan, dan pekerjaan ulang. ***




