POJOKSATU.id – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan AgroSmart, sebuah sistem rekomendasi tanaman berbasis machine learning yang dirancang untuk membantu petani menentukan jenis tanaman paling sesuai dengan kondisi iklim dan lingkungan secara real-time.

Inovasi tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko gagal panen sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air, pupuk, dan berbagai sumber daya pertanian lainnya di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.

AgroSmart lahir sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi sektor pertanian Indonesia.

Baca Juga: Sebelum Tinggalkan BGN, Nanik Deyang Ungkap Langkah Reformasi Program MBG dan Target Perbaikan Gizi Anak

Selama ini, banyak petani masih mengandalkan pengalaman turun-temurun dalam menentukan waktu tanam maupun jenis tanaman sehingga kurang adaptif terhadap perubahan cuaca yang terjadi semakin cepat.

Padahal, perubahan pola hujan, kenaikan suhu, hingga cuaca ekstrem dapat memengaruhi produktivitas pertanian dan berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional jika tidak diantisipasi dengan teknologi yang tepat.

Dikembangkan Tiga Mahasiswa ITB
Inovasi AgroSmart dikembangkan oleh Mesya Christantri dan Rafi Raihan Herawan dari Program Studi Rekayasa Pertanian angkatan 2023, bersama Agnes Ruth Savira dari Program Studi Teknologi Pascapanen angkatan 2023.

Baca Juga: Sambut Hari Anak Nasional, KPP DPRD Jabar Usung Aksi Nyata untuk 100 Anak di Subang

Berkat gagasan tersebut, tim berhasil meraih Juara 2 dalam Agricultural Food Competition (AFC) Season 17 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Jenderal Soedirman.

Manfaatkan Machine Learning untuk Analisis Data Pertanian
Melalui AgroSmart, berbagai data penting seperti suhu udara, curah hujan, intensitas radiasi matahari, karakteristik tanah, hingga kondisi lingkungan dianalisis menggunakan teknologi machine learning.

Data tersebut kemudian diolah menjadi rekomendasi tanaman yang lebih akurat sehingga petani dapat menentukan pilihan budidaya sesuai kondisi terkini di lapangan.

Baca Juga: Bukan Cuma Main Pesawat Kertas, Anak Usia Dini Diajak Kenal Operasional Penerbangan Bareng Pertamina

Keunggulan AgroSmart dibanding sistem rekomendasi konvensional adalah kemampuannya memperbarui rekomendasi secara dinamis apabila terjadi perubahan cuaca selama masa tanam berlangsung.

Sistem ini juga dibekali sejumlah fitur pendukung, antara lain:

- Adaptive Threshold untuk menyesuaikan rekomendasi berdasarkan perubahan kondisi lingkungan.

- Emergency Shift yang memberikan alternatif tindakan saat terjadi cuaca ekstrem.

- Risk-Benefit Analysis untuk membantu petani mempertimbangkan risiko dan manfaat sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: How to Turn Everyday Ideas Into Shareable Visual Content

Dengan fitur-fitur tersebut, petani diharapkan dapat mengambil keputusan lebih cepat dan tepat ketika menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu.

Tantangan Mengembangkan Teknologi Baru
Dalam proses pengembangan AgroSmart, tim mengaku menghadapi tantangan pada tahap gap analysis.

Agnes Ruth Savira menjelaskan bahwa konsep yang mereka usung masih tergolong baru di Indonesia sehingga referensi ilmiah maupun implementasi serupa masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut membuat tim harus melakukan banyak diskusi dan pendalaman bersama dosen pembimbing agar sistem yang dirancang memiliki dasar ilmiah yang kuat sekaligus berpotensi diterapkan secara nyata.

Baca Juga: UGM Bawa Isu Perdagangan Berkelanjutan ke Forum WTO di Swiss, Perkuat Peran Indonesia di Kancah Global

Pengembangan AgroSmart mendapat pendampingan dari Dr. Indrawan Cahyo Adilaksono, S.TP., M.Agr.Sc., dosen Program Studi Rekayasa Pertanian Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.

Melalui bimbingan tersebut, tim semakin memperdalam pemanfaatan teknologi machine learning sebagai pendukung pengambilan keputusan di sektor pertanian sekaligus menyempurnakan konsep AgroSmart.

Berharap Dapat Dikomersialkan
Setelah berhasil meraih prestasi di tingkat kompetisi, tim berharap AgroSmart tidak berhenti sebagai sebuah gagasan, melainkan dapat dikembangkan menjadi produk yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat.

Baca Juga: Presiden Gercep Cari Pengganti Nanik, Wamentan Sudaryono akan Dilantik Kepala BGN Sore Nanti

Mesya Christantri mengatakan bahwa target berikutnya adalah mengembangkan AgroSmart agar dapat dikomersialkan sehingga semakin banyak petani yang memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.

Menurutnya, pemanfaatan sistem rekomendasi berbasis kecerdasan buatan dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu petani menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus mendukung pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia. ***