POJOKSATU.ID - Tantangan besar saat ini tengah membayangi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di berbagai satuan pendidikan di Indonesia.
Masalah krusial ini mencuat seiring dengan tingginya angka penyusutan jumlah tenaga pendidik yang terjadi secara berkala.
Berdasarkan data resmi yang dirilis pemerintah, Indonesia saat ini masih sangat membutuhkan pasokan guru profesional dalam jumlah masif.
Kebutuhan mendesak ini terjadi guna mengisi ruang-ruang kelas yang kosong di berbagai jenjang sekolah dari pusat hingga daerah.
Baca Juga: CASIO Indonesia Buka Lowongan Moderator Webinar Series, Intip Benefit dan Cara Daftarnya!
Fenomena defisit tenaga pengajar ini diperparah oleh adanya gelombang masa purnabakti yang masif dari para guru senior.
Setiap tahunnya, tercatat ada sekitar 60 hingga 70 ribu orang guru di seluruh Indonesia yang resmi memasuki masa pensiun.
Angka puluhan ribu guru yang pensiun ini tentu meninggalkan celah kosong yang cukup mengkhawatirkan jika tidak segera diantisipasi.
Guna mengantisipasi krisis kekosongan guru tersebut, Ditjen GTK bergerak cepat dengan membuka program PPG Calon Guru secara berkala.
Melalui program ini, pasokan guru baru dipersiapkan secara matang sebelum mereka diterjunkan langsung ke lapangan.
Para calon pendidik dibekali berbagai instrumen pelatihan agar mereka siap menggantikan peran para guru senior yang purnatugas.
Pemerintah memastikan bahwa proses regenerasi ini tidak sekadar berfokus pada kuantitas pengisian posisi yang kosong semata.
Calon guru disiapkan agar memiliki sertifikat pendidik serta kompetensi unggul yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman.
Output yang diharapkan dari lulusan program ini adalah lahirnya kemampuan untuk memberikan model pembelajaran yang benar-benar berkualitas bagi siswa.
Guru baru dituntut mampu menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna, penuh kesadaran, sekaligus menggembirakan di dalam kelas.
Dengan pendekatan kreatif tersebut, anak-anak diharapkan dapat belajar dengan ruang gerak ekspresi yang lebih positif.
Upaya terintegrasi ini menjadi taruhan penting demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa dari ancaman kekosongan ruang edukasi.***




