POJOKSATU.id - Tim peneliti IPB University menghadirkan inovasi pakan ternak hijauan yang lebih ekonomis dengan memanfaatkan biomassa dan limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Pengembangan tersebut dilakukan di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebagai solusi atas tingginya biaya pakan sekaligus keterbatasan hijauan berkualitas bagi peternak.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Luki Abdullah, mengatakan hasil riset tersebut kini telah dikembangkan bersama masyarakat peternak, pelaku usaha pakan, serta pemerintah daerah melalui Unit Pakan Mandiri Leles Lestari.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Alasan Tak Pernah Ganggu Pemimpin Terpilih Meski Empat Kali Kalah Pilpres
"Hasil riset itu sekarang dikembangkan dengan memanfaatkan biomassa atau bahan-bahan yang dilupakan, dibuang tidak manfaat, jadi manfaat pakan komplit, ada serat, proteinnya," kata Luki.
Menurutnya, inovasi tersebut lahir dari kebutuhan peternak akan pakan yang lebih murah, mudah digunakan, tetapi tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak secara optimal.
Tak Lagi Bergantung pada Rumput
Selama ini, sektor peternakan kerap menghadapi kendala ketersediaan rumput sebagai sumber utama pakan hijauan.
Baca Juga: Cara Buka Pola HP yang Lupa Tanpa Harus ke Tempat Servis, Bisa untuk Android hingga iPhone
Padahal, kebutuhan hijauan berkualitas terus meningkat seiring berkembangnya usaha peternakan.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim peneliti IPB sejak 2019 mulai mencari sumber serat alternatif yang tidak bergantung pada rumput.
Mereka memanfaatkan berbagai bahan baku lokal yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan peternak.
Baca Juga: Cara Mengganti Password WiFi di HP untuk Semua Provider, Mudah dan Bikin Jaringan Lebih Aman
Sekitar 80 persen bahan penyusun pakan berasal dari sumber daya lokal, seperti dedak, bungkil, serta berbagai suplemen yang diproduksi menggunakan bahan baku daerah.
"Kita menghadirkan sumber serat lain yang tidak harus diproduksi melalui rumput, nah, kita memadankan sumber gizinya apa di sana, serat, sumber itulah yang sekarang kita kembangkan terus-menerus, sampai hari ini kita terus bisa menghasilkan," ujar Luki.
Manfaatkan Limbah Pertanian Bernilai Ekonomis
Inovasi tersebut dikembangkan dalam bentuk pakan komplit fermentasi yang memanfaatkan limbah pertanian seperti tanaman jagung, sorgum, hingga jerami.
Baca Juga: Nomor WhatsApp Sudah Tidak Aktif? Begini Cara Login Lagi Tanpa Kehilangan Chat Penting
Menurut hasil penelitian, serat yang berasal dari tanaman jagung memiliki tingkat kecernaan yang lebih baik dibandingkan rumput maupun jerami padi.
Setelah melalui berbagai tahapan riset dan pengembangan, pakan tersebut kini telah diproduksi, dimanfaatkan, dan diuji coba langsung oleh peternak di Garut.
"Sudah diproduksi, sudah digunakan, sudah dimanfaatkan, sudah juga diujicobakan," katanya.
Pendiri Unit Pakan Mandiri Leles Lestari, Yosep Purnama, menjelaskan bahwa inovasi ini dibangun di atas tiga prinsip utama, yakni murah, praktis, dan berkualitas.
Dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar, peternak dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas nutrisi ternak.
Bahkan, kebutuhan protein dan serat ternak tetap terpenuhi sehingga produktivitas usaha dapat meningkat.
Baca Juga: Kapolda Jabar Sebut Perbuatan Taufik Hidayat di Luar Batas Kewajaran
"Sehingga dapat membantu peternak meningkatkan efisiensi usaha tanpa mengurangi kualitas nutrisi ternak," ujar Yosep.
Dukungan juga datang dari Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, Dyah Savitri.
Ia berharap inovasi hasil kolaborasi akademisi dan komunitas peternak tersebut mampu memperkuat penyediaan pakan hijauan, khususnya bagi pengembangan komoditas domba Garut.
"Kami terus mendukung akademisi dan komunitas peternak, semoga riset ini bisa berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif untuk kemajuan komoditas domba Garut," katanya.
Inovasi sederhana yang memanfaatkan potensi lokal membuktikan bahwa solusi besar tidak selalu lahir dari teknologi mahal.
Ketika riset bertemu kebutuhan peternak, harapan untuk mewujudkan peternakan yang lebih efisien, mandiri, dan berdaya saing pun semakin nyata.***




