POJOKSATU.id - Tim mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor hadir di Sekolah Cendekia BAZNAS (SCB), Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, untuk memberikan pelatihan intensif kepada para santri dan guru dalam dua bidang strategis yaitu pemasaran digital (digital marketing) dan optimalisasi budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni 2026 sebagai bagian dari program “Model Pemberdayaan Ketahanan Pangan dan Kemandirian Ekonomi Berbasis Pesantren melalui Pendekatan Integrated Farming System dan Digital Marketing” yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026 dengan nomor kontrak PM-251110112714.
Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Popy Novita Pasaribu, S.TP., M.BSys., dosen Program Studi Manajemen UIKA Bogor, bersama dua anggota tim dosen yakni Dr. Hartanti Nugrahaningsih, S.E., M.M. dan Annisyia Zarina Putri, S.Si., M.App.Sc., Ph.D. dari Program Studi Rekayasa Pertanian dan Biosistem. Mereka didampingi enam mahasiswa aktif UIKA Bogor, yaitu Violita Maryam, Tiffany Putri Anatasya, Gizka Alzahra Josa Kusuma, Rachel Khairunnissa, Haikal Azyzi Hanapiyah, dan Deska Dwi Putri.
Disambut Hangat oleh Pimpinan Sekolah
Kedatangan tim PKM UIKA Bogor disambut hangat oleh pihak Sekolah Cendekia BAZNAS. Kepala Sekolah SCB, Ahmad Kamaluddin Afif, S.Pi., M.M., Gr., bersama Wakil Kepala Sekolah Siswadi Diniyanto, M.Pd., menyambut langsung kehadiran tim dalam sesi pembukaan resmi yang dihadiri para santri. Pihak sekolah menyatakan antusiasme dan kesiapan penuh untuk mengikuti seluruh rangkaian program pengabdian, mengingat kebutuhan SCB akan penguatan kapasitas produksi dan pemasaran digital memang sudah sangat mendesak.
Santri Yatim dan Dhuafa Punya Potensi Besar
Sekolah Cendekia BAZNAS merupakan sekolah berasrama unggulan dan bebas biaya yang diperuntukkan bagi anak yatim dan dhuafa berprestasi dari seluruh pelosok Indonesia. Saat ini SCB menampung 342 santri yang berasal dari 26 provinsi, dengan jenjang pendidikan setingkat SMA. Sekolah ini berdiri di atas lahan wakaf seluas sekitar 1,5 hektare dan dikelola melalui sinergi antara Yayasan Siti Hajar Sudja’i, Qatar Charity, dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Salah satu keunggulan SCB adalah program kewirausahaan berbasis praktik, yang mencakup budidaya jamur tiram dan budidaya ikan nila merah serta lele menggunakan metode kolam bioflok. Program ini dirancang sebagai laboratorium belajar sekaligus unit usaha produktif yang menopang operasional sekolah. Namun, berdasarkan survei lapangan dan wawancara yang dilakukan tim PKM UIKA, ditemukan sejumlah kendala yang menghambat potensi tersebut berkembang secara optimal.
Tiga Permasalahan Utama yang Diidentifikasi
Tim PKM UIKA mengidentifikasi tiga permasalahan prioritas di SCB. Pertama, pada budidaya ikan sistem bioflok, hasil panen belum optimal karena penggunaan aerator yang tidak sesuai dengan kepadatan ikan dan volume kolam.
Kondisi ini menyebabkan rendahnya kadar oksigen terlarut, peningkatan amonia, stres pada ikan, hingga risiko kematian massal. SCB sendiri mengelola 12 kolam bioflok dengan potensi panen mencapai 900 hingga 1.500 kg per kolam dalam satu siklus, potensi yang belum termanfaatkan secara maksimal.
Kedua, pada budidaya jamur tiram, SCB masih bergantung pada bibit dari pihak luar dan belum mampu memproduksi bibit awal (F0) secara mandiri. Padahal dengan 3.000 baglog yang dimiliki, SCB sebenarnya mampu menghasilkan panen hingga 818 kg per siklus.
Pendampingan khusus untuk penguatan produksi bibit jamur F0 secara mandiri telah dijadwalkan oleh tim pada tahap berikutnya, yang rencananya dimulai pada 1 Juli 2026, sebagai kelanjutan dari rangkaian program pengabdian ini.
Ketiga, pemasaran hasil panen masih bersifat konvensional, hanya terbatas pada lingkungan sekolah, koperasi, penjualan langsung oleh santri, dan pasar tradisional. Rendahnya literasi digital santri dan guru membuat jangkauan pasar sangat sempit dan nilai ekonomi produk belum optimal.
Pelatihan Digital Marketing: Dari Konten hingga UGC
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah penguatan kapasitas pemasaran digital melalui pendekatan social media marketing dan user generated content (UGC). Dr. Popy Novita Pasaribu, S.TP., M.BSys., yang memimpin sesi pelatihan ini, menjelaskan bahwa strategi UGC dipilih karena terbukti efektif dan terjangkau bagi unit usaha skala kecil hingga menengah.
“Santri dan guru di sini adalah aset yang luar biasa. Mereka bisa menjadi kreator konten yang autentik, memotret proses panen, membuat video singkat di kolam bioflok, atau berbagi testimoni produk secara langsung. Inilah yang disebut UGC, dan dampaknya terhadap kepercayaan konsumen sangat besar,” ujarnya.
Dalam pelatihan ini, para santri dan guru dibimbing untuk membuat dan mengelola akun bisnis Instagram serta WhatsApp Business sebagai sarana promosi produk hasil budidaya. Mereka juga dilatih menyusun kalender konten, membuat foto dan video promosi sederhana, hingga memahami cara mengukur performa akun media sosial.
Salah satu hasil nyata dari pelatihan ini adalah produksi materi promosi digital, termasuk infografis pelatihan sistem bioflok yang dibuat langsung oleh para santri sebagai bagian dari praktik konten kreatif.
Target yang ditetapkan adalah terbentuknya minimal satu akun media sosial aktif dengan produksi sekurangnya 20 konten promosi, serta peningkatan omzet penjualan minimal 30 persen.
Optimalisasi Bioflok: Teknologi Tepat Guna untuk Panen Ikan Maksimal
Pada sisi produksi, Annisyia Zarina Putri, S.Si., M.App.Sc., Ph.D. memimpin pendampingan teknis budidaya ikan nila sistem bioflok, didukung oleh narasumber ahli Muhammad Ibnu Hardiana, S.Pt., Gr., praktisi budidaya ikan yang ditugaskan secara resmi oleh LPPM UIKA Bogor.
Tim membawa dan menginstalasi aerator Yamano LP-100 berkapasitas 100 watt dengan 28 cabang distribusi udara, teknologi tepat guna yang dirancang untuk beroperasi selama 24 jam penuh guna memastikan pasokan oksigen terlarut yang stabil di seluruh kolam.
“Masalah utama yang kami temukan adalah aerator yang digunakan tidak sebanding dengan kepadatan ikan dan volume kolam. Akibatnya, oksigen tidak tersebar merata, amonia menumpuk, dan ikan mengalami stres. Dengan aerator yang tepat dan SOP yang benar, tingkat kematian ikan bisa ditekan secara signifikan,” jelas Dr. Annisyia.
Para santri dan pengelola unit usaha mendapatkan pelatihan komprehensif mencakup manajemen kepadatan tebar ikan, pengelolaan kualitas air, meliputi pengukuran pH, kadar amonia, dan kestabilan koloni mikroorganisme bioflok, serta cara menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang mudah dipahami dan diterapkan secara mandiri. Target program ini adalah penurunan tingkat kematian ikan minimal 40 persen dan peningkatan hasil panen per kolam minimal 25 persen.
Mahasiswa Turun Tangan Langsung
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini bukan sekadar pendamping pasif. Violita Maryam bertugas dalam pendampingan teknis budidaya di lapangan sekaligus dokumentasi dan penguatan pemasaran digital unit usaha SCB.
Tiffany Putri Anatasya memfokuskan diri pada penguatan soft skill kewirausahaan santri, termasuk komunikasi, kerja tim, dan pengelolaan interaksi pelanggan di media sosial. Sementara Gizka Alzahra Josa Kusuma, Rachel Khairunnissa, Haikal Azyzi Hanapiyah, dan Deska Dwi Putri turut mendokumentasikan seluruh kegiatan serta mendampingi santri secara langsung di lapangan.
“Ini pengalaman belajar yang tidak bisa didapat hanya dari dalam kelas. Kami langsung melihat tantangan nyata yang dihadapi mitra dan ikut mencari solusinya bersama,” ungkap Tiffany.
Dampak Jangka Panjang yang Diharapkan
Program PKM UIKA di SCB Cibungbulang ini dirancang bukan sekadar memberikan pelatihan sekali jalan. Tim menyiapkan strategi keberlanjutan yang mencakup penyerahan SOP budidaya bioflok, pendampingan produksi bibit jamur tiram F0 secara mandiri pada tahap lanjutan, pembentukan tim internal sekolah yang bertanggung jawab mengelola unit usaha secara mandiri, serta integrasi materi budidaya dan pemasaran digital ke dalam kurikulum kewirausahaan sekolah.
Dr. Popy berharap program ini dapat menjadi model pemberdayaan yang bisa direplikasi di pesantren dan sekolah berbasis asrama lainnya.
“Kalau santri yatim dan dhuafa dari 26 provinsi ini pulang dengan bekal keterampilan budidaya dan literasi digital yang mumpuni, mereka tidak hanya mandiri secara ekonomi, tapi bisa menjadi motor penggerak di daerah asal mereka masing-masing,” tegasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Model Pemberdayaan Ketahanan Pangan dan Kemandirian Ekonomi Berbasis Pesantren melalui Pendekatan Integrated Farming System dan Digital Marketing” yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026, dengan nomor kontrak PM-251110112714. ***



