POJOKSATU.ID - Antusiasme masyarakat terhadap kehadiran program Sekolah Rakyat terbukti sangat tinggi hingga melampaui estimasi awal pemerintah.

Sebanyak 48.975 bakal calon siswa telah berhasil terjangkau oleh program ini, padahal kuota awal yang disediakan hanya sebesar 32.640 siswa.

Mayoritas dari total anak yang terdata tersebut berasal dari kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi paling rentan.

Berdasarkan data kemiskinan, sekitar 85,8 persen dari calon siswa merupakan penerima Program Keluarga Harapan dan 77,6 persen berada pada desil 1–2 DTSEN.

Baca Juga: Menyongsong Tahun Ajaran Baru, Pembangunan 93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung

Bahkan, sebagian dari anak-anak tersebut tercatat belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali sebelumnya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa indikator keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari pencapaian akademik semata.

Perubahan positif pada diri anak-anak, seperti kondisi fisik yang lebih sehat, peningkatan disiplin, rasa percaya diri, serta tumbuhnya harapan masa depan menjadi fokus utama.

Mengingat latar belakang para siswa yang rentan, pemerintah tidak hanya menyiapkan aspek pendidikan tetapi juga jaringan pengaman yang komprehensif.

Baca Juga: Dialog Presiden Prabowo dan Coach John: Obsesi Lolos Piala Dunia dan Kesiapan Skuad Garuda

Jaring pengaman bagi para siswa ini mencakup pemenuhan layanan kesehatan, dukungan psikologis yang memadai, pendampingan sosial, hingga jaminan keamanan di lingkungan sekitar sekolah.

Pada masa transisi menuju operasional penuh ini, peran aktif dari pemerintah daerah sangat menentukan dinamika di lapangan.

Pemerintah daerah memegang kendali penting mulai dari penetapan daftar siswa, pembentukan tim transisi, mobilisasi guru, hingga pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat luas.

Melalui komitmen bersama ini, program Sekolah Rakyat diharapkan mampu menjadi intervensi sosial yang efektif agar anak-anak dari keluarga prasejahtera tidak lagi tertinggal dalam sistem pendidikan nasional.***