POJOKSATU.ID - Menjadi pendamping bagi siswa penerima bantuan Afirmasi Pendidikan Menengah atau ADEM dari kelas sepuluh hingga lulus merupakan sebuah tugas yang menuntut perjuangan serta komitmen yang sangat tinggi.

Para siswa ini umumnya masih berusia remaja dan baru pertama kali merantau jauh dari kampung halaman sehingga kerap mengalami kerinduan mendalam kepada orang tua dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan serta budaya baru.

Selain menghadapi gejolak emosional, para pendamping juga harus berhadapan dengan ketertinggalan kemampuan akademik siswa, khususnya mereka yang berasal dari Papua, jika dibandingkan dengan siswa-siswa di Pulau Jawa.

Salah satu sosok yang mendedikasikan dirinya dalam tugas mulia ini adalah Rakhmi Oktarini, seorang pendamping siswa ADEM Papua di SMA 1 Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah.

Baca Juga: Viral Unggahan Maxime Bouttier Jadi Calon Ketua Partai Kebangkitan Merdeka, Ternyata Ini Faktanya!

Menurut pengalamannya, dinamika menghadapi para siswa tersebut sebenarnya hampir sama dengan remaja pada umumnya yang terkadang malas mendisiplinkan diri atau merawat pakaian mereka.

Demi mengubah karakter dan kebiasaan yang kurang tepat, pihak sekolah menerapkan kebijakan untuk menempatkan para siswa di rumah guru agar mereka tetap merasakan kehangatan figur orang tua.

Melalui pola asuh ini, kontrol terhadap pembiasaan positif dapat berjalan lebih maksimal, terlebih siswa juga diajak terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial dan olahraga di tengah masyarakat setempat.

Rakhmi sendiri selalu mengedepankan pendekatan personal yang bersahabat dengan mengajak para siswa berdialog dari hati ke hati mengenai dampak dari ketidakdisiplinan mereka.

Baca Juga: 35 Ribu Peserta Dikabarkan Lolos KDKMP dan KNMP, Pengumuman Kelulusan Akhir Masih Menanti Rilis Resmi!

Meski demikian, sikap tegas tetap diberlakukan melalui pemberian teguran hingga sanksi berupa surat peringatan bermaterai apabila terjadi pelanggaran tata tertib sekolah.

Untuk memperkuat aspek psikologis serta nilai-nilai kebangsaan para siswa, pihak sekolah juga menjalin kerja sama rutin dengan psikolog dan pihak kepolisian setempat guna memberikan motivasi secara ideologis.

Sementara itu, guna mendongkrak ketertinggalan di bidang akademik, program matrikulasi khusus untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia sengaja diselenggarakan.

Hasil dari pendampingan intensif yang telah berjalan selama lebih dari dua belas tahun ini menunjukkan perkembangan kemampuan akademik siswa yang bervariasi, meskipun prestasi mereka secara umum masih didominasi oleh bidang non-akademik.

Keberhasilan program ini terbukti nyata sejak angkatan pertama tahun ajaran 2015/2016, di mana belasan alumni berhasil melanjutkan kuliah lewat program afirmasi perguruan tinggi bahkan ada yang sukses menempuh jenjang S2 dengan beasiswa bergengsi di Universitas Gadjah Mada.

Salah satu contoh keberhasilan terbaru ditunjukkan oleh Baim Junicard Rumbekwan, siswa asal Biak yang menempuh pendidikan di SMA 1 Bobotsari dan kini telah dinyatakan lolos seleksi masuk di Fakultas Hukum Universitas Pattimura.

Baim mengakui bahwa seluruh proses yang dilaluinya selama mengikuti program ADEM telah berhasil membentuk dirinya menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri, percaya diri, serta penuh motivasi dalam menggapai cita-cita di masa depan.***