POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di kancah internasional.
Tim Four Horsemen ITB berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Singapore Business Case Competition (SBCC) 2026 yang diselenggarakan di Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
Kompetisi bergengsi yang telah memasuki penyelenggaraan ke-17 tersebut digelar oleh NTU Business Solutions Case Club bekerja sama dengan NTU-SBF Centre for African Studies.
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Ini yang Harus Disiapkan Sebelum Dompet Makin Tipis
Tim Four Horsemen terdiri atas Agnes Winona Vania Oey, Claudia Melati Krid, Daffa Mochamad Sabiq, dan Leora Josephine Gionina.
Tiga anggota tim berasal dari Program Studi Manajemen, sedangkan satu anggota lainnya berasal dari Program Studi Sistem Informasi.
Keberhasilan meraih posisi runner-up menjadi pencapaian yang tidak mudah mengingat mereka harus bersaing dengan tim-tim terbaik dari berbagai negara, termasuk tuan rumah dari NTU yang akhirnya keluar sebagai juara pertama.
Angkat Tantangan Distribusi Farmasi di Afrika Barat
Pada SBCC 2026, peserta ditantang untuk menyusun strategi market entry ke sektor pharmaceutical cold chain di Afrika Barat.
Kompetisi ini tidak hanya menilai kemampuan peserta dalam menyusun kerangka analisis bisnis, tetapi juga menuntut solusi yang realistis, berbasis data, dan dapat diterapkan secara nyata.
Dewan juri yang terlibat bahkan berasal dari kalangan profesional dan praktisi Afrika sehingga setiap solusi yang ditawarkan harus benar-benar relevan dengan kondisi lapangan.
Baca Juga: Dolar Naik, Benarkah Warga Desa yang Tidak Pakai Dolar Tidak Ikut Terdampak?
Dalam tim Four Horsemen, setiap anggota memiliki tanggung jawab yang berbeda namun saling melengkapi.
Agnes berfokus pada analisis permasalahan dan pengembangan solusi.
Claudia bertanggung jawab dalam penyusunan materi presentasi sekaligus membantu proses analisis.
Daffa menangani aspek keuangan, sementara Leora mengembangkan strategi solusi dan implementasi.
Usung Solusi Distribusi Vaksin yang Menjangkau Daerah Terpencil
Permasalahan utama yang diangkat dalam kompetisi ini berkaitan dengan distribusi produk farmasi, khususnya vaksin, di Afrika Barat yang masih menghadapi berbagai kendala.
Mulai dari keterbatasan infrastruktur energi, ketimpangan rantai pasok, hingga maraknya peredaran produk farmasi palsu menjadi tantangan yang harus dipecahkan peserta.
Tim Four Horsemen memilih Ghana sebagai titik masuk pasar dan merancang sistem distribusi bertingkat yang dinilai mampu menjawab berbagai persoalan tersebut.
Mereka mengusulkan pembangunan regional hub sebagai pusat distribusi utama farmasi yang didukung subregional hub di sejumlah wilayah strategis, termasuk kawasan pelabuhan dan daerah terpencil di bagian utara Ghana.
Baca Juga: Kesbangpol Bandung Akan Verifikasi 240 Ormas, Pastikan Masih Aktif atau Tinggal Nama
Model tersebut dirancang untuk memastikan distribusi produk farmasi dapat menjangkau wilayah yang selama ini sulit diakses.
Selain itu, tim juga mengintegrasikan teknologi cold chain asal Singapura guna menjaga kualitas produk farmasi selama proses distribusi berlangsung.
Tidak hanya itu, mereka turut merekomendasikan vendor-vendor yang dinilai telah memenuhi standar kebutuhan operasional di lapangan.
Baca Juga: 122 Prodi Ditutup Sepanjang 2026, Pengamat Pertanyakan Dasar Kebijakan, Nasib Dosen dan Mahasiswa
Jadi Satu-satunya Tim yang Soroti Kemitraan Strategis
Salah satu keunggulan solusi yang ditawarkan Four Horsemen adalah strategi market entry melalui skema joint venture atau kemitraan strategis.
Menurut Agnes, pendekatan tersebut menjadi pembeda dibandingkan tim lain yang lebih berfokus pada aspek teknis dan operasional.
"Kami menjadi satu-satunya tim yang menyinggung aspek partnership sebagai kunci masuk pasar, dan hal itu mendapat perhatian khusus dari dewan juri," ungkapnya.
Pendekatan tersebut dinilai memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai peluang keberhasilan implementasi bisnis di kawasan Afrika Barat.
Belajar dari Kompetisi Internasional
Selain prestasi yang diraih, kompetisi ini juga memberikan banyak pengalaman berharga bagi anggota tim.
Baca Juga: AHM Best Student 2026 Dibuka, Pelajar Diajak Ubah Ide Jadi Inovasi untuk Negeri
Claudia mengungkapkan adanya perbedaan budaya kompetisi antara Indonesia dan ajang internasional.
Menurutnya, peserta di Singapura cenderung menyimak presentasi lawan secara serius untuk memahami kualitas solusi yang dipaparkan.
"Di Indonesia, tim yang sedang presentasi biasanya tidak ditonton oleh tim lain.
Di sini justru sebaliknya, mereka menyimak dengan saksama, kontennya ringkas tetapi sangat terstruktur dan on point," ujarnya.
Baca Juga: Yayasan Madrasah Pembangunan Digeruduk di Tangsel, Aksi Saling Dorong Dua Kubu Sempat Memanas
Sesi tanya jawab dengan para juri yang merupakan praktisi berpengalaman menjadi salah satu tantangan terbesar selama kompetisi berlangsung.
Bahkan, tim harus melakukan revisi besar hingga malam sebelum presentasi final dan mempelajari kembali materi saat perjalanan menuju lokasi lomba.
Meski melelahkan, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi seluruh anggota tim.
"Ikuti standar kompetensi mereka, kurangi penjelasan bertele-tele, perbanyak argumen berbasis data," pesan Leora.
Baca Juga: Atasi Elnino Godzila dan Sampah di Jabar, KDM Pimpin Rakor dengan TNI dan BMKG
Sementara itu, Claudia mengingatkan pentingnya konsistensi dalam berusaha. "Hal yang terpenting adalah terus berusaha tanpa batas, sementara hasil akhir akan mengikuti prosesnya."
Daffa juga menekankan bahwa setiap kompetisi memiliki karakteristik berbeda sehingga peserta perlu memahami aturan dan kebutuhan lomba sebelum menyusun strategi.
Prestasi yang diraih Tim Four Horsemen menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional melalui kemampuan analisis, riset yang mendalam, serta solusi yang relevan dengan persoalan global yang nyata. ***




