POJOKSATU.ID - Wacana keterlibatan perguruan tinggi dalam mengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai reaksi kritis dari kalangan akademisi.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, secara tegas menyatakan keberatannya terhadap langkah pemerintah tersebut.
Menurutnya, institusi pendidikan tinggi seharusnya tetap berfokus pada pilar utamanya, yakni pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Membebani kampus dengan peran teknis sebagai pengelola dapur dinilai dapat mengaburkan fungsi fundamental universitas.
Baca Juga: Kronologi Moment Viral Penilaian Juri di Final Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026!
Fathul Wahid menekankan bahwa universitas memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sikap kritis terhadap setiap kebijakan negara.
Jika kampus terlalu jauh terlibat dalam operasional program teknis pemerintah, dikhawatirkan independensi akademiknya akan terganggu.
Perguruan tinggi tidak boleh kehilangan jati diri akademisnya hanya demi menjalankan tugas logistik yang bersifat administratif.
Selain UII, terdapat rektor dari kampus besar lainnya yang juga menyuarakan nada penolakan serupa.
Baca Juga: Sorotan Netizen Terhadap Transparansi Kompetisi Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026
Mereka berpendapat bahwa integrasi MBG ke dalam lingkungan kampus adalah langkah yang kurang tepat sasaran secara fungsional.
Fokus utama mahasiswa dan dosen adalah pengembangan ilmu pengetahuan, bukan pengelolaan konsumsi skala besar.
Kritik ini muncul sebagai bentuk pengingat agar pemerintah tidak mempolitisasi atau membebani institusi pendidikan dengan agenda di luar ranah intelektual.
Dengan menjaga jarak dari tugas teknis tersebut, universitas diharapkan tetap mampu menjadi kontrol sosial yang objektif bagi kebijakan publik.
Kesadaran untuk tetap di jalur akademik ini menjadi poin utama dalam perdebatan mengenai efektivitas program MBG di lingkungan kampus.***




