POJOKSATU.id - Predikat kampus unggulan mungkin sudah biasa. Tapi kalau disebut sebagai salah satu kampus paling sehat di ASEAN, itu cerita lain.

Universitas Gadjah Mada kembali mencatatkan capaian penting di tingkat regional dengan meraih peringkat tertinggi 5-star plus dalam sistem penilaian Healthy University Rating System 2025.

Penilaian ini diselenggarakan oleh ASEAN University Network – Health Promotion Network dan menempatkan UGM sebagai salah satu kampus dengan implementasi promosi kesehatan terbaik di kawasan ASEAN.

Menariknya, capaian ini bukan sekali jadi. UGM sudah meraih penghargaan ini secara berturut-turut sejak 2022.

Baca Juga: Cuma 10 Hari, Mahasiswi UM Bikin Inovasi LMS dan Pulang Bawa Gold Award dari Ajang Internasional

Dibangun Sejak Nol, Bukan Instan

Ketua Health Promoting University (HPU) UGM, Prof Yayi Suryo Prabandari, menjelaskan bahwa HURS bukan sekadar penilaian biasa.

Melainkan sistem yang dirancang untuk mendorong kampus membangun ekosistem kesehatan secara menyeluruh.

Bahkan, konsep ini sudah mulai dirintis sejak 2014 melalui kolaborasi sejumlah universitas di ASEAN.

“Waktu itu belum ada konsep kampus sehat seperti apa, jadi kami bersama beberapa universitas di ASEAN menyusun kerangkanya dari awal melalui berbagai pertemuan sejak 2014,” jelas PRof Yayi.

Baca Juga: Perguruan Tinggi Bakal Jadi 'Asisten' Kepala Daerah? Dibentuk Tim Kampus, Ini Rencana Besarnya

Tiga Pilar Penilaian Kampus Sehat

Dalam implementasinya, HURS menilai kampus berdasarkan tiga pilar utama:

  1. Sistem dan infrastruktur

  2. Zero tolerance area

  3. Health promotion area

Dari ketiganya, sistem dan infrastruktur menjadi komponen paling krusial.

Karena di sinilah kebijakan, fasilitas, hingga integrasi dalam tridharma perguruan tinggi dinilai secara menyeluruh.

“Kalau mau disebut kampus sehat, tidak cukup hanya kegiatan, tapi harus ada kebijakan, dukungan fasilitas, dan masuk ke sistem yang berjalan di universitas,” tegasnya.

Capaian 5-star plus menunjukkan bahwa UGM telah memenuhi standar optimal dalam membangun sistem kampus sehat yang berkelanjutan.

Dari Program Jadi Budaya

Sejak pencanangan Health Promoting University pada 2019, UGM terus mengembangkan berbagai program kesehatan yang melibatkan seluruh sivitas akademika.

Baca Juga: Bukan Cuma Sawit, Dana Riset 2026 Buka Jalan Besar untuk Kakao dan Kelapa

Mulai dari layanan kesehatan, edukasi, hingga penguatan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, semuanya dijalankan secara kolaboratif.

Pendekatan ini membuat kesehatan bukan lagi sekadar program, tapi mulai menjadi bagian dari budaya kampus.

Perubahan Nyata di Lapangan

Dampaknya mulai terlihat.

Aktivitas seperti pos pembinaan terpadu (posbindu) membuat mahasiswa dan civitas lebih sadar kondisi kesehatannya.

“Awalnya mereka kaget saat tahu kondisi kesehatannya, tapi setelah itu mulai mencoba mengubah kebiasaan, misalnya dengan rutin jalan kaki,” katanya.

Baca Juga: Militer Iran Siap Perang Lagi dengan AS, Tolak Rencana Trump Memandu Kapal di Selat Hormuz

Perubahan juga tampak dari pola konsumsi yang lebih sehat hingga meningkatnya kepedulian antar mahasiswa.

Bahkan, penguatan kesehatan mental juga dilakukan melalui pendamping sebaya di berbagai fakultas.

“Mahasiswa itu sekarang sudah mulai saling mengingatkan, bahkan yang bukan dari bidang kesehatan pun ikut peduli,” imbuhnya.

Langkah Selanjutnya: Lebih Terukur

Ke depan, UGM tidak berhenti di capaian ini. Penguatan kampus sehat akan dilakukan dengan pendekatan yang lebih berbasis data.

Salah satunya melalui survei kesehatan berkala untuk memantau perubahan perilaku dan kondisi sivitas akademika.

Langkah ini diharapkan bisa membuat program yang dijalankan semakin tepat sasaran dan berdampak jangka panjang.

“Kampus itu diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat dan produktif, sehingga siap untuk bekerja,” pungkas Yayi.***