POJOKSATU.id - Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan, dua mahasiswa ini justru memanfaatkannya dengan cara yang beda—bukan untuk instan, tapi untuk membangun proses.
Dua mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Isna Rodiana binti Munawaroh dan Mawar Ledya Serli, sukses meraih medali perak (silver medal) pada ajang National Essay Competition (NESCO) 2 2026.
Kompetisi ini digelar pada 18–19 April 2026 di Malang Creative Center, mempertemukan berbagai ide inovatif dari mahasiswa di seluruh Indonesia.
Baca Juga: 453 Siswa Sekolah Rakyat Siap Lulus 2026, Ada yang Bidik Kampus hingga Jadi TNI
Prompt-Coach: AI yang “Ngajak Mikir”, Bukan Nyuapin Jawaban
Dalam kompetisi tersebut, Isna dan Mawar mengangkat gagasan bertajuk Prompt-Coach.
Inovasi ini menggabungkan prompt engineering dengan model adaptive peer-feedback untuk membantu mahasiswa mengatasi kecemasan dalam menulis karya akademik.
Alih-alih memberi jawaban instan, sistem ini justru dirancang untuk mendorong proses berpikir.
“Prompt-Coach: Optimalisasi Prompt Engineering dalam Model Adaptive Peer-Feedback untuk Mereduksi Writing Anxiety pada Academic Writing Mahasiswa," ujar Isna.
Baca Juga: Mahasiswi UMM Ini Buktikan Beras Bayam, Bisa Jadi 'Jalan Ninja'
"Ini merupakan inovasi yang kami kembangkan untuk membantu mahasiswa dalam mengelola kecemasan menulis sekaligus meningkatkan kualitas tulisan akademik melalui pendekatan yang adaptif dan kolaboratif,” lanjutnya.
4 Fitur Jadi Pembeda
Adapun yang membuat inovasi ini menonjol adalah pendekatan yang tidak sekadar teknis, tapi juga humanis.
Mawar menjelaskan, ada empat keunggulan utama dalam Prompt-Coach:
1. Socratic-Method AI yang mendorong mahasiswa berpikir kritis
2. Human-Centric Design yang menyesuaikan dengan pengalaman pengguna
3. Bilingual Bridge untuk membantu pemahaman lintas bahasa
4. Anti-Shortcut System guna menjaga integritas akademik
“Kami menghadirkan Prompt-Coach dengan empat keunggulan utama, yaitu Socratic-Method AI yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, bukan sekadar menerima jawaban," jelasnya.
"Human-Centric Design yang dirancang sesuai kebutuhan dan pengalaman pengguna, Bilingual Bridge yang membantu mahasiswa memahami konteks dalam dua bahasa, serta Anti-Shortcut System untuk menjaga integritas akademik dan mencegah plagiarisme instan,” terang Isna.
Teknologi Tidak Menggantikan, Tapi Menguatkan
Di tengah kekhawatiran AI akan menggantikan peran manusia, inovasi ini justru hadir dengan pendekatan berbeda.
Bukan menggantikan proses belajar, tapi memperkuatnya —khususnya dalam hal yang sering jadi momok mahasiswa: menulis.***




