POJOKSATU.id - Kementerian Agama resmi merilis program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan saat ini.

Program ini hadir di tengah kekhawatiran akan menurunnya kualitas akhlak, maraknya bullying, hingga fenomena kekerasan dan kebencian di lingkungan pendidikan.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa KBC menjadi paradigma baru dalam dunia pendidikan Indonesia.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga harus membentuk kematangan emosional dan spiritual peserta didik.

Baca Juga: Resep Tumis Tahu Toge Sederhana, Praktis 15 Menit dan Rasanya Bikin Nagih

"KBC sebagai paradigma baru yang menekankan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual," ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu 22, April 2026.

"Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” tuturnya.

Ia juga mendorong seluruh guru, penyuluh, dan ASN di lingkungan Kemenag untuk menjadi agen perubahan dalam menyebarkan nilai-nilai cinta, empati, serta kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Kami mendorong para guru, penyuluh dan ASN Kemenag menjadi agen utama dalam menyebarkan nilai-nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas,” tambahnya.

Baca Juga: YouTube Mulai Sisir Akun Anak di Bawah 16 Tahun, Komdigi Tegaskan Perlindungan Digital

KBC diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga membawa keberkahan.

Sebab, menurut Menag, produktivitas tanpa nilai tidak akan menghasilkan keberkahan, dan sebaliknya.

Sementara itu, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi pedagogik sekaligus kepribadian guru dan penyuluh.

“Tujuan dari pelatihan ini pada dasarnya adalah ingin memberikan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk menginternalisasi pemaknaan Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar Ali.

Ia menambahkan, sasaran utama KBC adalah terciptanya ekosistem pendidikan yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban.

Dalam lingkungan seperti itu, peserta didik diharapkan tumbuh dengan karakter saling menghargai dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran, pembinaan umat, dan pelayanan publik secara konkret dan berkelanjutan,” katanya.

Program Belajar Mandiri KBC sendiri mendapat sambutan luar biasa. Tercatat sebanyak 305.344 peserta mengikuti pelatihan ini secara daring.

Baca Juga: Sembako Rp211 Ribu Ditebus Rp30 Ribu, Pertamina Sasar 1.000 Warga Serang

Angka tersebut menunjukkan tingginya antusiasme tenaga pendidik dalam meningkatkan kualitas diri di era digital.

Pelaksanaan secara online juga menjadi solusi pemerataan akses pelatihan, sehingga guru dari berbagai daerah tetap bisa belajar tanpa terbatas jarak dan waktu.

Ke depan, KBC diharapkan menjadi gerakan nasional yang mampu membumikan nilai cinta dalam pendidikan.

Sinergi antara pemerintah, guru, dan masyarakat menjadi kunci agar program ini berjalan optimal.

Di tengah derasnya perubahan zaman, pendidikan yang mengedepankan cinta menjadi harapan baru.

Sebab, dari hati yang hangat dan penuh empati, lahir generasi yang bukan hanya pintar, tapi juga mampu menjaga nilai kemanusiaan.***