POJOKSATU.id - Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 diwarnai temuan beragam modus kecurangan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto, memastikan seluruh indikasi pelanggaran akan didalami dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut Brian, beberapa kasus kecurangan berhasil diungkap karena peserta lebih dulu menjalani pemeriksaan menggunakan metal detector sebelum memasuki ruang ujian.
Baca Juga: Layanan Kesehatan Jadi Sektor yang Paling Dirasakan Warga Bandung, Survei Catat Kepuasan 85,9 Persen
Dari proses itu, panitia menemukan dugaan penggunaan alat bantu pendengaran yang disembunyikan di dalam telinga.
“Memang pada sesi pertama hari ini ditemukan beberapa indikasi kecurangan di beberapa lokasi. Untuk modus penggunaan alat bantu, misalnya, itu dapat terdeteksi karena seluruh peserta diperiksa terlebih dahulu dengan metal detector sebelum memasuki ruang ujian,” kata Brian kepada wartawan, Rabu 21 April 2026.
Temuan tersebut menjadi sinyal bahwa pengawasan tahun ini berjalan lebih ketat dengan dukungan teknologi dan pemeriksaan berlapis.
Baca Juga: Kepala BGN Dadang Hindayana Klarifikasi, 19 Ribu Sapi untuk MBG Itu Ternyata Beranda-andai
Menteri Pastikan Semua Kasus Diproses
Brian menegaskan fokus utama pemerintah saat ini ialah menjaga agar seluruh rangkaian UTBK berjalan tertib, aman, lancar, dan adil hingga selesai.
Namun di saat yang sama, setiap dugaan kecurangan akan dicatat serta ditindaklanjuti.
“Namun saat ini, fokus utama kami adalah memastikan seluruh rangkaian UTBK berjalan dengan tertib, lancar, aman, dan adil sampai selesai. Semua temuan kecurangan akan dicatat, didalami, dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pelanggaran dalam seleksi nasional tidak akan dianggap sepele, baik yang dilakukan individu maupun yang melibatkan pihak lain.
Rekayasa Foto dan Face Recognition
Selain alat bantu tersembunyi, Brian juga mengungkap adanya modus rekayasa foto saat pendaftaran UTBK.
Untuk mencegah hal itu, panitia pusat SNPMB telah menggunakan face recognition yang didukung kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Beasiswa UGM 2026 Datang Lagi, Rp10,2 Juta Menanti: Mahasiswa Semester 3 Wajib Merapat
“Demikian juga dengan modus rekayasa foto. Sejak awal, kami bersama Panitia Pusat SNPMB pada pelaksanaan SNBT sudah menggunakan face recognition dan dukungan AI untuk mendeteksi berbagai indikasi kecurangan.
Misalnya, apabila ada ketidakwajaran antara asal sekolah dengan lokasi ujian yang dipilih, atau apabila ada peserta yang mendaftar menggunakan foto maupun identitas wajah orang lain,” katanya.
Sistem tersebut dipakai membaca pola tak wajar, termasuk potensi penggunaan joki dan pemalsuan identitas.
Modus Joki dan Kasus di Undip
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof Eduart Wolok, sebelumnya juga mengungkap modus perjokian di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), yakni satu orang diduga mengikuti ujian menggunakan dua identitas berbeda.
Kasus lain yang menyita perhatian terjadi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Seorang peserta diketahui memakai alat bantu dengar yang tertanam di telinga sehingga panitia harus membawa peserta tersebut ke dokter THT untuk penanganan.
Temuan-temuan itu memperlihatkan bahwa modus kecurangan makin beragam, mulai dari pemalsuan identitas hingga penggunaan perangkat tersembunyi.
Pesan untuk Peserta
Brian juga menyampaikan pesan kepada seluruh peserta agar mengandalkan hasil belajar sendiri dan tetap percaya diri menghadapi seleksi.
“Pesan saya untuk adik-adik calon mahasiswa: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Kalian sudah belajar dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, tentu juga dengan doa orang tua,” ungkapnya. ***




