POJOKSATU.id - Dunia pendidikan kembali menghadirkan inovasi menarik di bidang teknologi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan Program Bug Bounty 2026 sebagai ajang pencarian celah keamanan siber.
Program yang sudah memasuki tahun kelima ini mengusung tema “Build Cyber Resilience” dan menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem digital di lingkungan pendidikan nasional.
Lewat inisiatif ini, peserta diajak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga ikut berperan aktif menjaga keamanannya.
Menariknya, kompetisi ini terbuka luas. Mulai dari siswa SMA/SMK/MA berusia minimal 17 tahun, mahasiswa, hingga guru dan dosen bisa ikut ambil bagian.
Jadi, siapa pun yang punya minat di dunia keamanan siber, ini bisa jadi kesempatan besar, lho.
Baca Juga: Arhan Jadi Lulusan Pertama Dapat Ijazah Blokchain, Bagaimana Bentuknya?
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Wibowo Mukti, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai ruang aman bagi peserta untuk bereksperimen.
“Program Bug Bounty dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan passion di bidang keamanan siber menjadi prestasi yang membanggakan,” ujarnya.
Peserta nantinya akan melakukan pengujian keamanan dalam sistem yang sudah disiapkan, tanpa mengganggu layanan asli Kemendikdasmen.
Konsep ini sering disebut sebagai sandbox, jadi tetap aman meski digunakan untuk uji coba.
Untuk jadwalnya, pendaftaran dibuka mulai 6 hingga 30 April 2026 melalui platform Aman Bersama.
Setelah itu, tahap pengujian berlangsung pada 1 hingga 22 Mei 2026.
Proses penilaian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menitikberatkan pada aspek teknis dengan bobot 70 persen, sementara kualitas laporan mendapat porsi 30 persen.
Selanjutnya, lima finalis dari tiap kategori akan masuk tahap wawancara dengan penilaian pada teknik, komunikasi, dan orisinalitas.
Rangkaian kegiatan ini akan ditutup dengan Anugerah Bug Bounty 2026 pada 19 Juni 2026.
Para pemenang nantinya akan mendapatkan uang pembinaan, sertifikat resmi yang tercatat di Pusat Prestasi Nasional, hingga kesempatan bergabung dalam komunitas Manggala Edu.
Wibowo juga menyoroti pentingnya kolaborasi di tengah meningkatnya ancaman siber, seperti ransomware dan phishing berbasis kecerdasan artifisial yang marak sepanjang 2025.
Ia pun mengajak lebih banyak talenta muda untuk ikut ambil bagian dalam program ini.
Di era digital seperti sekarang, kemampuan menjaga keamanan data bukan lagi sekadar pilihan, tapi kebutuhan.
Dan lewat ajang seperti ini, mungkin saja lahir generasi baru yang bukan cuma paham teknologi, tapi juga siap menjaga dunia digital tetap aman.***




