POJOKSATU.id - Tiga mahasiswa Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi angkatan 2022 dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Pharmaceutical Industrial Case Study (PICS) Pharmanova ITB 2025.

Pengumuman pemenang kompetisi tersebut disampaikan pada Jumat (6/2/2026). Tiga mahasiswa tersebut adalah Rendi Orvalo Wijaya, Sellin Leony, dan Brigitta Keysha Santoso yang tergabung dalam tim Dagosuites.

Kompetisi PICS Pharmanova ITB merupakan ajang yang menantang mahasiswa untuk merancang solusi strategis bagi industri farmasi.

Baca Juga: KIP Kuliah 2026 Dibuka, Cek Besaran, Syarat Utama dan Lini Masa hingga Pendaftaran

Peserta diminta menyusun pendekatan komprehensif yang mencakup berbagai aspek industri, mulai dari proses produksi obat, pengawasan mutu, hingga strategi pemasaran.

Pada kompetisi tahun ini, para peserta dihadapkan pada tantangan untuk merancang strategi pengembangan serta memperluas akses terapi kanker menggunakan antibodi monoklonal, yaitu salah satu teknologi pengobatan kanker yang dikenal lebih spesifik dan tepat sasaran dalam menargetkan sel kanker.

Merancang Terapi Kanker yang Lebih Mudah Diakses
Dalam kompetisi tersebut, tim Dagosuites menyusun proposal strategi yang cukup komprehensif untuk pengembangan terapi kanker di Indonesia.

Baca Juga: Mendiktisaintek Resmikan Gedung Baru Sekolah Vokasi UNS, Sekaligus Pusat Studi Herbal Tropis

Proposal yang mereka rancang tidak hanya membahas proses pengembangan obat, tetapi juga mencakup berbagai aspek penting lain dalam industri farmasi.

Di antaranya adalah strategi produksi, pengelolaan mutu, regulasi, hingga pendekatan pemasaran agar terapi tersebut dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Menurut Sellin Leony, salah satu tantangan utama dari studi kasus yang diberikan adalah bagaimana menghadirkan terapi kanker yang efektif namun tetap dapat dijangkau oleh masyarakat luas.

Baca Juga: BRIN dan Kemenbud Kolaborasi Riset Peradaban Nusantara, Telusuri Jejak Hingga 1,8 Juta Tahun

“Kami mencoba mencari cara untuk menekan biaya pengembangan dan produksi, sehingga terapi ini tetap bisa dijangkau oleh lebih banyak pasien,” ujarnya.

Ide tersebut muncul dari berbagai materi yang dipelajari selama perkuliahan, khususnya terkait teknologi produksi obat yang lebih efisien.

Ide awal tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui studi literatur serta diskusi dengan dosen yang memiliki pengalaman di bidang industri farmasi.

Baca Juga: VIRAL Tinggal di Amerika 30 Tahun, Wanita ini Ikhlas Hibahkan 80 Hektar Tanah di Jawa Barat untuk Dihijaukan

Inovasi untuk Menekan Biaya Produksi
Salah satu kekuatan utama dari proposal yang diajukan tim Dagosuites adalah pendekatan inovatif untuk menekan biaya produksi obat tanpa mengorbankan kualitas terapi.

Dalam proposalnya, mereka mengusulkan penggunaan metode produksi yang lebih efisien, termasuk penerapan sistem perfusi kontinu dalam proses produksi.

Selain itu, tim juga mengusulkan penggunaan peralatan sekali pakai (single-use equipment) pada beberapa tahap produksi obat.

Baca Juga: WhatsApp Luncurkan Akun Khusus Anak, Orang Tua Bisa Awasi Chat dan Panggilan

Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus menekan biaya operasional, sehingga harga terapi yang dihasilkan berpotensi menjadi lebih terjangkau bagi pasien.

“Kami tidak hanya fokus pada pengembangan obat, tetapi juga melihat dampak ekonomi dan strategi agar terapi ini bisa diakses oleh lebih banyak orang,” jelas Rendi Orvalo Wijaya.

Kontribusi Mahasiswa bagi Industri Farmasi
Keberhasilan tim Dagosuites dalam kompetisi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa Sekolah Farmasi ITB dalam merespons tantangan nyata di industri farmasi.

Baca Juga: Pemudik Mobil Listrik Diperkirakan Bertambah, PLN Siapkan 4.769 SPKLU untuk Mudik Lebaran 2026, Cek Daftar Lokasi di Jalur Utama Ini

Ide yang mereka ajukan tidak hanya menitikberatkan pada inovasi teknologi pengobatan, tetapi juga mempertimbangkan aspek aksesibilitas terapi bagi masyarakat.

Pendekatan seperti ini dinilai penting, terutama dalam pengembangan terapi penyakit serius seperti kanker yang sering kali memiliki biaya pengobatan tinggi. ***