POJOKSATU.ID – Ketidakpastian membayangi masa depan ratusan Sekolah Rakyat Rintisan di tanah air.
Berdasarkan hasil evaluasi terbaru dalam rapat koordinasi di Bogor, terungkap fakta mengejutkan bahwa dari total 166 titik sekolah rintisan yang ada, hanya 98 titik yang dipastikan masuk dalam tahap pembangunan gedung permanen tahun ini.
Kesenjangan angka ini memicu kekhawatiran besar mengenai nasib puluhan sekolah lainnya yang hingga kini belum memiliki kejelasan status bangunan.
Kondisi tersebut melahirkan tanda tanya besar bagi ribuan siswa serta tenaga pendidik mengenai kelangsungan kegiatan belajar mengajar mereka di masa depan.
Pemerintah mengakui bahwa transisi ini merupakan fase yang sangat sensitif.
Dengan adanya puluhan sekolah yang belum memiliki calon gedung permanen, risiko ketimpangan fasilitas pendidikan menjadi ancaman nyata.
Situasi ini memaksa adanya penyusunan skenario perpindahan yang sangat mendetail agar proses transisi tidak justru merugikan peserta didik.
Skenario mitigasi kini sedang digodok untuk memprediksi segala kemungkinan, terutama bagi sekolah-sekolah yang lokasinya harus berpindah antar kota.
Tantangan logistik dan adaptasi bagi guru serta siswa yang terdampak perpindahan jauh menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan lewat simulasi berbasis data.
Di tengah ketidakpastian status sisa sekolah tersebut, pemerintah menetapkan target ambisius agar operasional gedung yang sudah tersedia bisa dimulai pada Juli 2026.
Langkah yang tepat diperlukan dipandang sebagai ujian berat bagi program Sekolah Rakyat dalam misi besarnya memutus rantai kemiskinan.
Jika transisi ini gagal dimitigasi, dikhawatirkan semangat pemerataan pendidikan justru akan terhambat oleh kendala infrastruktur yang belum merata.
Selain itu, arahan wamensos untuk mitigasi transisi ke Sekolah Rakyat permanan yaitu segera mengajukan formasi ASN untuk guru dan tenaga kependidikan (tendik) secara bertahap paling lambat akhir Maret.***




