POJOKSATU.ID - Istilah desil semakin sering terdengar di tengah masyarakat, terutama saat pemerintah membahas bantuan sosial, subsidi, hingga kebijakan perlindungan sosial.
Banyak yang mengira desil hanya dihitung berdasarkan besar kecilnya gaji. Padahal, penilaian desil jauh lebih kompleks dan mencakup sejumlah indikator penting.
Secara sederhana, desil adalah pengelompokan masyarakat ke dalam sepuluh bagian berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Kelompok ini dibagi mulai dari desil 1 yang paling rendah tingkat kesejahteraannya hingga desil 10 yang paling tinggi.
Baca Juga: Tragis! Nyawa Polisi Muda Melayang di Lingkungan Asrama, 6 Anggota Diperiksa Dugaan Kekerasan
Sistem ini digunakan untuk memetakan kondisi sosial ekonomi secara lebih akurat.
Namun, bagaimana sebenarnya desil dinilai?
Penilaian desil tidak hanya didasarkan pada pendapatan bulanan.
Ada beberapa variabel lain yang turut diperhitungkan untuk menggambarkan kondisi riil rumah tangga.
Baca Juga: Anies Soroti Teror terhadap Ketua BEM UGM, Ingatkan Negara Tak Boleh Abai pada Rasa Aman
Pertama adalah pendapatan.
Ini memang menjadi indikator utama.
Pendapatan mencakup gaji, upah, hasil usaha, maupun sumber penghasilan lain yang diterima anggota keluarga dalam satu rumah tangga.
Semakin tinggi pendapatan, semakin besar peluang masuk ke kelompok desil atas.
Kedua adalah pendidikan. Tingkat pendidikan kepala keluarga atau anggota rumah tangga ikut memengaruhi penilaian kesejahteraan.
Pendidikan yang lebih tinggi umumnya berkorelasi dengan peluang kerja yang lebih baik dan pendapatan yang lebih stabil.
Karena itu, aspek ini menjadi pertimbangan dalam menentukan posisi desil.
Baca Juga: Setahun Aep-Maslani: IPM Naik, 33 Penghargaan Diraih, Ribuan Rumah Layak Huni Rampung
Ketiga adalah kepemilikan aset.
Aset yang dimaksud tidak hanya berupa kendaraan atau properti, tetapi juga mencakup kondisi rumah, luas bangunan, kepemilikan tanah, hingga barang elektronik.
Rumah tangga dengan aset lebih banyak atau bernilai tinggi biasanya berada di desil yang lebih tinggi pula.
Keempat adalah daya listrik rumah tangga. Banyak yang terkejut bahwa daya listrik menjadi salah satu indikator.
Baca Juga: Dukung Swasembada Pangan, Kementan Dorong Peran Penyuluh dalam Hilirisasi Perkebunan
Padahal, kapasitas listrik mencerminkan kemampuan ekonomi rumah tangga.
Rumah dengan daya listrik rendah umumnya dikategorikan dalam kelompok ekonomi menengah ke bawah, sementara daya listrik besar menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
Kombinasi dari berbagai indikator inilah yang kemudian diolah menjadi skor kesejahteraan.
Data tersebut biasanya bersumber dari pendataan sosial ekonomi yang dilakukan secara berkala.
Hasilnya digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan, termasuk penyaluran bantuan sosial agar tepat sasaran.
Mengapa penting memahami desil?
Karena status desil dapat memengaruhi akses terhadap program pemerintah.
Misalnya, bantuan pangan, subsidi energi, hingga bantuan pendidikan sering kali diprioritaskan bagi masyarakat di desil 1 hingga desil 4.
Jika seseorang merasa tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, biasanya tersedia mekanisme pemutakhiran data melalui jalur resmi.
Baca Juga: 9 Spot Ngabuburit di Bandung Paling Favorit 2026, Gasibu hingga Dago Jadi Buruan Warga
Pemahaman yang benar soal desil juga membantu masyarakat tidak salah kaprah.
Tidak sedikit yang merasa pendapatannya kecil, tetapi ternyata memiliki aset atau fasilitas rumah tangga yang membuatnya masuk kelompok desil menengah.
Di sisi lain, sistem desil bertujuan menciptakan keadilan distribusi bantuan.
Dengan pendekatan multi indikator seperti pendapatan, pendidikan, aset dan daya listrik, pemerintah dapat memetakan kesejahteraan secara lebih menyeluruh, bukan sekadar melihat slip gaji.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Kulkas Side by Side Terbaik untuk Dapur Modern
Pada akhirnya, desil bukan sekadar angka atau label.
Ia merupakan gambaran kondisi sosial ekonomi yang dinilai dari berbagai aspek kehidupan rumah tangga.
Memahami cara penilaiannya menjadi penting agar masyarakat lebih sadar posisi ekonominya dan dapat mengakses hak serta program yang sesuai.
Bagi Anda yang ingin mengetahui masuk desil berapa, pastikan data kependudukan dan kondisi sosial ekonomi selalu diperbarui melalui jalur resmi.
Transparansi dan akurasi data menjadi kunci agar kebijakan berbasis desil benar-benar tepat sasaran.***




