POJOKSATU.id - Masjid Salman ITB berdiri sebagai pusat kegiatan keislaman mahasiswa Institut Teknologi Bandung, sekaligus simbol perjuangan panjang dakwah kampus di era yang tak mudah.
Didirikan dengan visi membina generasi muda yang berilmu, beriman, dan berkontribusi bagi masyarakat, Salman ITB tumbuh menjadi rumah besar bagi ribuan mahasiswa yang ingin menebar manfaat.
Selama puluhan tahun, masjid ini menjadi pusat kegiatan dakwah, pendidikan, hingga pengabdian masyarakat.
Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan kader dan pengembangan gagasan peradaban Islami.
Visi besar yang diusung jelas: menjadi masjid kampus mandiri, pelopor pembangunan peradaban Islami.
Adapun misinya meliputi mewujudkan masjid sebagai rumah ruhani, sanggar ruhani, dan laboratorium peradaban Islami; membina kader pembangun peradaban Islami; serta mengembangkan konsep dan model peradaban Islami.
Nama “Salman” sendiri bukan tanpa makna.
Dikisahkan, Presiden Soekarno pernah bertanya, “Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” kepada Menteri Agama RI saat itu, Saifuddin Zuhri.
Sang Menteri menjawab, “Salman.” Mendengar itu, Presiden pun berkata, “Nah itu, Masjid ini saya namakan Salman!”
Ahad pagi tahun 1963 menjadi momen penting.
Di ruang istana, usai santap pagi, perbincangan tentang masjid di hadapan kampus ITB mengalir hangat.
Baca Juga: Satpol PP Kota Bandung Bongkar Bangunan Tanpa PBG di Cijawura, 8 Titik Lain Menyusul
Hadir di sana Prof. TM Soelaiman, Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat yang datang dari Bandung dengan harapan besar.
Untuk memahami betapa pentingnya kehadiran Masjid Salman, kita perlu menengok suasana ITB pada era 1960-an.
Saat itu, budaya Barat begitu kental. Ada masa ketika mahasiswa yang meminta izin untuk Salat Jumat dianggap ganjil.
Bahkan mengenakan sarung bisa saja mendapat celetukan, “Wah arab, nih.” Ucapan seperti “Eh kamu mau salat, titip salam ke Tuhan ya!” pun terdengar lumrah.
Mahasiswa muslim yang ingin Salat Jumat harus berjalan kaki cukup jauh ke Masjid Cihampelas.
Sementara Aula Barat ITB kerap digunakan untuk kegiatan berdansa. Situasinya memang tidak mudah, ya.
Rektor ITB kala itu, Prof. Ir. O. Kosasih, sempat menolak rencana pembangunan masjid di sekitar kampus.
Alasannya tegas: “Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis juga minta Lapangan Merah di ITB.”
Namun panitia yang terdiri dari Prof T.M. Soelaiman, Achmad Sadali, Imaduddin Abdulrachim, Mahmud Junus, dan tokoh lainnya tak menyerah.
Mereka melobi berbagai pihak, menggalang dukungan, dan memperjuangkan cita-cita itu dengan sabar.
Dukungan justru datang dari berbagai kalangan, termasuk Drs. Woworuntu, dosen Planologi beragama Kristen, serta Prof. Roemond, ketua Jurusan Arsitektur asal Belanda.
Perjuangan lintas iman dan bangsa ini menjadi bukti bahwa gagasan kebaikan memang bisa menyatukan.
Akhirnya, setelah melalui proses panjang, Presiden Ir. Soekarno memberikan restu.
Rektor ITB pun mengizinkan pembangunan masjid. Tepat pada 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB untuk pertama kalinya digunakan untuk Salat Jumat.
Dari kampus yang dulu terasa asing bagi ekspresi keislaman, kini berdiri kokoh sebuah masjid yang menjadi pelopor gerakan dakwah kampus di Indonesia.
Perjalanan Masjid Salman ITB bukan sekadar cerita tentang bangunan, melainkan tentang keteguhan, keberanian, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang diperjuangkan dengan sepenuh hati.***




