POJOKSATU.id - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membuka peluang besar bagi pengembangan penelitian di Indonesia, salah satunya terkait hubungan musik dan otak.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Stella Christie, mengungkapkan hingga kini belum pernah ada penelitian khusus yang mengkaji keterkaitan musik dan otak di Tanah Air.

"Bukan kurang lagi penelitian musik dan otak, tapi belum ada penelitiannya," ujar Stella Christie di sela lokakarya ketiga musik dan otak di Denpasar, Bali, Minggu.

Baca Juga: Innalillah, Ali Syafiq Ditemukan Meninggal Dunia di Lereng Gunung Slamet dalam Cuaca Kabut Tebal

Menurutnya, bidang kajian hubungan musik dan otak masih sangat luas untuk didalami.

Hal ini menjadi peluang besar bagi akademisi dan peneliti Indonesia untuk membuka ruang riset baru yang berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Dana Riset Naik Signifikan
Stella Christie menjelaskan pemerintah telah menyiapkan ekosistem pendukung penelitian, salah satunya melalui peningkatan signifikan dana hibah riset.

Baca Juga: Resmi Berlaku, Perpres MBG 2025 Buka Peluang Pegawai SPPG Jadi PPPK, Simak Penjelasannya

Dalam satu tahun terakhir, dana hibah penelitian meningkat hingga 218 persen.

Anggaran riset pada 2025 mencapai Rp3,2 triliun, melonjak dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka Rp1,4 triliun.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga memberikan insentif tambahan bagi dosen yang berhasil memenangkan dana hibah penelitian.

- Insentif diberikan sebesar 25 persen dari total dana riset yang diperoleh

Baca Juga: Mulai Januari 2026, Kehadiran Anak Sekolah Jadi Syarat Mutlak PKH, Absen Minimal 85 Persen

- Berlaku bagi dosen penerima hibah penelitian dari Kemdiktisaintek

"Di Indonesia kami punya dosen yang mumpuni. Kami ciptakan ekosistem, menciptakan pendanaan.

Makanya dana riset hibah di Indonesia dalam satu tahun ini naik 218 persen," ucap Stella Christie.

Musik Tradisional hingga Tren Kekinian
Ia menambahkan, eksplorasi riset musik dan otak di Indonesia memiliki kekuatan tersendiri karena kekayaan budaya musik daerah.

Baca Juga: Purbaya Blak-blakan! Pegawai Pajak Nakal Siap Dibuang ke Tempat Terpencil, yang Jahat Langsung Dirumahkan

Beberapa bidang yang dinilai potensial untuk diteliti antara lain:
- Musik tradisional seperti gamelan dan instrumen daerah lainnya

- Musik modern dan tren kekinian

- Pengaruh improvisasi musik terhadap perkembangan kecerdasan otak

Lokakarya musik dan otak ini digelar Kemdiktisaintek bersama Tsinghua University dan Tsinghua South East Asia Center di Kampus United in Diversity (UID) Bali, Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura, Serangan, Denpasar.

Baca Juga: ASN Perlu Tahu, Ini 3 Dokumen SKP yang Wajib Dicetak untuk Evaluasi Kinerja

Kegiatan ini merupakan lokakarya ketiga dalam tiga tahun terakhir yang mempertemukan profesor dan komunitas seni dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan tentang pengaruh musik terhadap kecerdasan otak.

Salah satu pembicara, Prof Charles Limb dari University of California, San Francisco (UCSF), Amerika Serikat, memaparkan hasil penelitiannya terkait improvisasi musik.

Disebutkan, saat anak-anak usia 7 hingga 10 tahun melakukan improvisasi dalam bermusik, area otak yang berkaitan dengan kesenangan dan kebahagiaan menjadi jauh lebih aktif dibandingkan saat memainkan musik dengan pola yang sudah baku.

Baca Juga: Tiang monorel Dibongkar, Pramono: Jalan Rasuna Said Akan Menjadi Semakin Baik, Semoga Kemacetan Akan Berkurang

Lokakarya ini juga dihadiri Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, menandai perhatian serius pemerintah terhadap pengembangan riset lintas disiplin di Indonesia. ***