POJOKSATU.id — Generasi Z atau Gen Z kerap menjadi sorotan ketika mulai menapaki dunia kerja.
Banyak perusahaan menilai lulusan baru dari generasi ini belum sepenuhnya siap menghadapi tuntutan profesional, baik dari sisi mental maupun keterampilan yang dibutuhkan di lingkungan kerja.
Pandangan tersebut pun ramai diperbincangkan, tidak hanya di media sosial, tetapi juga di berbagai forum profesional.
Meski dikenal sebagai generasi yang akrab dengan teknologi, Gen Z justru dianggap masih kesulitan beradaptasi dengan budaya kerja yang sarat tekanan, target, dan tuntutan kinerja.
Kemampuan menguasai perangkat digital belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan menghadapi dinamika kerja sehari-hari.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Banyak lulusan Gen Z memiliki prestasi akademik yang baik, namun minim pengalaman kerja nyata.
Ketika harus terjun langsung ke lingkungan profesional, tidak sedikit yang mengalami culture shock akibat ritme kerja yang cepat, tenggat waktu ketat, serta tanggung jawab yang lebih besar.
Di sisi lain, meskipun unggul dalam penguasaan teknologi digital, media sosial, dan berbagai aplikasi pendukung kerja, sebagian Gen Z masih dinilai kurang kuat dalam hal soft skill.
Baca Juga: AHM Dukung Pemulihan Bencana Sumatera, Hadirkan Service Motor Gratis hingga Bangun Sarana Air Bersih
Kemampuan komunikasi profesional, kerja sama lintas generasi, pengelolaan emosi, hingga etika kerja menjadi tantangan tersendiri.
Padahal, di dunia kerja, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi sering kali memiliki peran yang sama pentingnya, bahkan lebih menentukan, dibandingkan kemampuan teknis semata.
Ekspektasi yang tinggi sejak awal karier juga turut menjadi perhatian.
Sebagian Gen Z dinilai berharap pada gaji besar, percepatan jenjang karier, serta keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi yang ideal sejak awal bekerja.
Sementara itu, realitas dunia kerja umumnya menuntut proses bertahap, pembuktian kemampuan, serta kesiapan menghadapi tekanan sebelum mencapai posisi dan kondisi yang diharapkan.
Baca Juga: SNBP 2026 Makin Dekat, Simak Panduan KIP Kuliah dari Syarat, Alur Pendaftaran hingga Tips Lolos
Kebiasaan hidup di era digital yang serba cepat juga membentuk pola pikir yang menginginkan hasil instan.
Sayangnya, pola ini tidak selalu sejalan dengan dunia kerja yang menuntut konsistensi, kesabaran, proses panjang, serta ketahanan dalam menghadapi kegagalan dan evaluasi berulang.
Meski demikian, tantangan tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada Gen Z.
Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan bersama untuk meningkatkan kesiapan kerja generasi ini.
Penguatan soft skill sejak dini, seperti disiplin, komunikasi profesional, dan kemampuan menerima kritik, menjadi hal yang penting.
Selain itu, pengalaman kerja melalui magang, kegiatan organisasi, maupun proyek mandiri perlu dimaksimalkan sebelum lulus.
Baca Juga: Ternyata Ada Ribuan ASN yang Pensiun Pada Tahun 2025–2026, Ini Data BKN dan Dampaknya ke CPNS Baru
Di sisi lain, perusahaan juga diharapkan lebih adaptif dengan menyediakan sistem pendampingan, arahan kerja yang jelas, serta ruang komunikasi dua arah.
Sementara itu, institusi pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan industri dan berbasis praktik.
Pada akhirnya, Gen Z bukan berarti tidak siap memasuki dunia kerja, melainkan sedang berproses beradaptasi di tengah perubahan yang semakin kompleks.
Kesiapan kerja akan terbentuk jika seluruh pihak mampu saling menyesuaikan, bukan saling menyalahkan.***




