POJOKSATU.ID — Dukungan riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing industri dirgantara Indonesia.

Hal tersebut disampaikan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada Kamis.

"Dengan dukungan BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri dirgantara global," ujar Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, seiring upaya BUMN tersebut meningkatkan kemandirian industri dan kandungan dalam negeri.

Baca Juga: KPK Akan Panggil Kembali Ridwan Kamil, Telusuri Dugaan Aset di Luar LHKPN

Ia menyebutkan, PTDI hingga kini menjadi satu-satunya perusahaan dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan lengkap, mulai dari perancangan pesawat, manufaktur, hingga perawatan.

PTDI juga terus mengembangkan produk yang berdaya saing di tingkat global.

Pada Rabu, Kepala BRIN Arif Satria mengunjungi fasilitas produksi PTDI di Bandung.

Baca Juga: Akhir Konflik PBNU! Rais Aam dan Gus Yahya Islah di Lirboyo, Muktamar ke-35 NU Digelar Bersama

Dalam kunjungannya, ia menekankan pentingnya riset dirgantara yang selaras dengan kebutuhan industri serta mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata.

"Kita harus memastikan setiap kegiatan riset di bidang dirgantara mampu menghasilkan nilai tambah bagi industri nasional," katanya.

Arif Satria menyoroti peran strategis PTDI sebagai pusat inovasi teknologi tinggi dan menegaskan komitmen BRIN untuk mendukung pengembangan melalui pendanaan riset, pemanfaatan laboratorium bersama, serta penguatan sumber daya manusia guna mempercepat hilirisasi inovasi.

Baca Juga: Perjuangan PPPK! Tuntut Kesetaraan Hak dengan PNS, BAM DPR RI Siap Kawal Aspirasi ASN

Salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut adalah pesawat N219 Nurtanio yang dikembangkan bersama oleh BRIN dan PTDI.

Pesawat bermesin ganda ini dirancang untuk meningkatkan konektivitas di wilayah terpencil Indonesia.

Arif Satria menekankan kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) pesawat N219, yang memungkinkan pengoperasian di landasan pacu dengan panjang kurang dari 800 meter, termasuk landasan belum beraspal.

Baca Juga: Silaturahmi ke Warga Majalaya, Putih Sari Kawal Program Prabowo di Karawang

"Pesawat N219 menjadi solusi penting bagi wilayah seperti daerah pegunungan Papua serta kawasan terdepan dan terluar lainnya," ujarnya.***