POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkap hasil nilai rerata siswa SMA sederajat dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025.
Data hasil TKA SMA ini langsung menjadi perhatian karena memperlihatkan kesenjangan capaian antarmata pelajaran, sekaligus menjadi potret nyata kemampuan bernalar siswa di sekolah.
Dari hasil pemetaan nasional, mata pelajaran Antropologi mencatat nilai rerata tertinggi untuk kelompok wajib, yakni 70,43.
Sebaliknya, Bahasa Inggris Wajib menjadi mata pelajaran dengan nilai terendah, hanya 24,93. Matematika Wajib juga belum menunjukkan hasil menggembirakan dengan rerata 36,10 dari skala maksimum 100.
Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa capaian tersebut tidak dimaknai sebagai peringkat atau penentu kelulusan siswa.
Nilai TKA, menurutnya, lebih tepat dibaca sebagai gambaran kompetensi akademik yang dapat digunakan untuk evaluasi bersama.
“Rerata tertinggi tercatat pada beberapa mata pelajaran pilihan, misalnya antropologi dengan rata-rata sekitar 70,4,” ujar Toni di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin, 22 Desember 2025.
Ia menambahkan, hasil TKA justru penting sebagai bahan refleksi kebijakan pendidikan.
Baca Juga: Pendaftaran Dibuka 19 Januari, Ini Jadwal Lengkap Tahapan TKA 2026 untuk Jenjang SD dan SMP
Data ini dapat membantu sekolah, guru, dan pemerintah daerah mengidentifikasi bagian pembelajaran yang masih lemah dan perlu penguatan.
“Data ini akan menjadi bahan evaluasi kebijakan, penguatan pendampingan satuan pendidikan, dan peningkatan kualitas pembelajaran ke depan,” jelasnya.
Soal Bernalar Belum Jadi Kebiasaan
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, mengungkapkan bahwa rendahnya nilai di sejumlah mata pelajaran, terutama Matematika dan Bahasa Inggris, tidak lepas dari karakter soal TKA yang menekankan penalaran dan pemahaman konteks.
Berdasarkan pemetaan nilai TKA per provinsi, rerata nilai Matematika siswa SMA berada di kisaran 30-an. Angka ini dinilai mencerminkan belum terbiasanya siswa mengerjakan soal yang menggabungkan data, syarat, dan narasi secara bersamaan.
“Rendahnya nilai yang diperoleh siswa kemungkinan disebabkan soal yang diujikan lebih menekankan pada aspek penalaran dan bersifat naratif,” ujar Rahmawati dalam Taklimat Media TKA 2025.
Ia memberi contoh perbedaan pola soal konvensional dengan soal TKA. Jika biasanya siswa hanya diminta menghitung rata-rata dari sejumlah data yang tersedia, dalam TKA soal dikembangkan dengan berbagai ketentuan tambahan yang harus dipahami secara utuh.
“Kalau lima data jumlahnya 30, rata-ratanya 6. Itu sebenarnya perhitungan sederhana. Tapi di TKA, ada syarat lain yang harus dikaitkan dengan data,” jelasnya.
Menurut Rahmawati, banyak siswa luput membaca petunjuk tersembunyi atau ketentuan yang disisipkan dalam narasi soal.
Akibatnya, jawaban yang diberikan hanya berangkat dari perhitungan, bukan dari pemahaman menyeluruh terhadap masalah.
Baca Juga: Prodi Dokter Spesialis Ditambah, Pemerintah Siapkan Universitas Kedokteran Khusus
Potret Kuat dan Lemahnya Kompetensi Siswa
Secara umum, data TKA 2025 menunjukkan bahwa mata pelajaran berbasis hafalan dan pemahaman konteks sosial, seperti Antropologi, PPKN, Sosiologi, Sejarah, dan Geografi, relatif mencatat nilai lebih baik.
Sebaliknya, mata pelajaran yang menuntut kemampuan analisis numerik, penalaran logis, serta pemahaman bahasa asing cenderung memiliki rerata lebih rendah.
Pada kelompok mata pelajaran pilihan, Bahasa Korea menjadi salah satu dengan nilai terendah, disusul Ekonomi dan Kimia. Sementara itu, Geografi dan Bahasa Arab termasuk yang mencatat rerata cukup tinggi, menandakan adanya variasi kompetensi siswa yang cukup tajam antarbidang studi.
Perbedaan ini, menurut Kemendikdasmen, menegaskan bahwa tantangan pendidikan ke depan bukan semata penguasaan materi, melainkan kemampuan siswa mengaitkan informasi, membaca konteks, dan memahami persoalan secara komprehensif.
TKA untuk Membongkar Cara Belajar di Sekolah
Melihat hasil tersebut, Rahmawati menekankan bahwa TKA harus dimanfaatkan sebagai alat refleksi. Data nilai TKA diharapkan menjadi rujukan guru untuk membedah cara belajar siswa dan metode pengajaran yang diterapkan di sekolah.
“Harapannya forum guru membedah sekolahnya masing-masing, bandingkan dengan wilayah yang masih kurang di materi yang mana. Kalau ada sekolah lain yang menguasai, bisa sharing,” ujarnya.
Ia mendorong adanya pertukaran praktik baik antarpendidik, agar pendekatan pembelajaran yang efektif dapat diterapkan secara lebih luas.
Kemendikdasmen juga berencana merilis tindak lanjut secara bertahap, mulai dari forum guru, satuan pendidikan, hingga pemerintah daerah. ***




