POJOKSATU.id - Memasuki tahun 2026, dunia pendidikan Indonesia menghadapi satu realitas yang tidak selalu dibicarakan secara terbuka.

Di balik jargon transformasi, digitalisasi, dan inovasi, guru Indonesia berjalan di dua jalur perjuangan yang berbeda.

Ada guru yang bergerak cepat di ruang digital, aktif dalam program, pelatihan, komunitas, dan inovasi berbasis teknologi.

Baca Juga: PPG dan PPPK Kini Saling Terhubung, Ini Peluang yang Harus Dimanfaatkan Guru!

Namun, ada pula guru yang tetap bertahan di ruang kelas, mengajar dengan keterbatasan, sambil berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Keduanya sama-sama guru, beban tanggung jawabnya sama, tetapi realita yang mereka hadapi tidak selalu setara.

Guru Pejuang Digital, Wajah Perubahan Pendidikan

Guru pejuang digital adalah mereka yang dituntut adaptif terhadap perubahan kebijakan dan teknologi.

Baca Juga: Isi Libur Semester, SDN Plawad IV Karawang Gelar Pesta Siaga dan Persami

Mereka aktif mengikuti pelatihan, terlibat dalam komunitas pembelajaran, menguasai platform digital, dan sering menjadi representasi keberhasilan transformasi pendidikan.

Di ruang publik, mereka kerap muncul sebagai:

1. Penggerak inovasi

2. Narasumber pelatihan

3. Contoh praktik baik pendidikan

Peran mereka penting. Mereka menjadi jembatan antara kebijakan dan praktik di lapangan.

Namun, di balik itu, ada tuntutan besar untuk terus bergerak, belajar, dan menyesuaikan diri tanpa jeda.

Guru Pejuang Rupiah, Penjaga Sekolah Tetap Bernyawa

Di sisi lain, ada guru pejuang rupiah.

Mereka jarang terlihat di panggung digital, tidak selalu aktif di program nasional, tetapi menjadi tulang punggung sekolah, terutama di daerah.

Baca Juga: Rumah Zakat Bantu 50.695 Korban Banjir dan Longsor di Sumatera

Mereka mengajar:

1. Dengan fasilitas terbatas

2. Dengan kesejahteraan yang belum memadai

3. Dengan beban administrasi yang sama beratnya

Baca Juga: Usai SK Terbit, Ini Daftar Hak, Gaji, dan Tunjangan PPPK Paruh Waktu yang Wajib Diketahui

Setiap hari, mereka memastikan kelas tetap berjalan, siswa tetap belajar, dan sekolah tetap hidup.

Perjuangan mereka lebih sunyi, tetapi tidak kalah penting.

Beban Sama, Medan Berbeda

Yang sering luput disadari adalah beban tanggung jawab kedua kelompok ini pada dasarnya sama.

Keduanya mendidik generasi bangsa, menjalankan kurikulum, dan bertanggung jawab atas masa depan peserta didik.

Namun, medan perjuangannya berbeda. Guru pejuang digital bergerak di ruang peluang dan eksposur, sementara guru pejuang rupiah bertahan di ruang keterbatasan.

Perbedaan medan ini sering menciptakan jarak:

1. Dalam akses pengembangan diri

2. Dalam peluang karier

3. Dalam kesejahteraan

Transformasi yang Tidak Selalu Inklusif

Transformasi pendidikan seharusnya membawa semua guru maju bersama.

Baca Juga: Miris! Hydrant Pemadam di Jembatan Suramadu Dilaporkan Hilang, Warga Khawatir Bahaya Mengintai

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki titik awal yang sama.

Ketika digitalisasi menjadi standar, guru yang:

1. Akses internetnya terbatas

Baca Juga: Sah Jadi PPPK Paruh Waktu, Honorer Berharap Bisa Naik Jadi Full Time Demi Kepastian Masa Depan

2. Beban hidupnya berat

3. Waktunya habis untuk bertahan hidup

akan tertinggal bukan karena tidak mampu, tetapi karena kondisinya tidak memungkinkan.

Risiko Ketimpangan di Tubuh Profesi Guru

Jika tidak disadari, kondisi ini berpotensi melahirkan ketimpangan baru di tubuh profesi guru.

Guru yang aktif digital akan terus maju, sementara guru yang bertahan di ruang kelas berisiko stagnan.

Padahal, pendidikan membutuhkan keduanya:

1. Inovator yang mendorong perubahan

2. Penjaga kelas yang menjaga keberlanjutan

Tanpa keseimbangan, sistem pendidikan bisa timpang.

Guru Bukan Sekadar Objek Kebijakan

Guru bukan sekadar pelaksana kebijakan, apalagi objek transformasi.

Baca Juga: Miris! Hydrant Pemadam di Jembatan Suramadu Dilaporkan Hilang, Warga Khawatir Bahaya Mengintai

Mereka adalah manusia dengan realitas hidup yang beragam.

Ketika tuntutan inovasi meningkat, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kesejahteraan dan dukungan sudah sejalan?

Tanpa dukungan nyata, transformasi bisa berubah menjadi tekanan.

Baca Juga: PPPK dan PNS Sama-Sama ASN, Tapi Haknya Berbeda, Ini Penjelasan Lengkap untuk Guru

Apa yang Perlu Disiapkan Menuju 2026?

Menghadapi realitas ini, ada beberapa hal yang perlu menjadi refleksi bersama:

1. Transformasi pendidikan harus inklusif

2. Kebijakan guru perlu berpihak pada semua medan perjuangan

3. Kesejahteraan tidak boleh tertinggal dari tuntutan inovasi

Guru pejuang digital dan pejuang rupiah tidak boleh dipertentangkan.

Keduanya adalah satu ekosistem yang saling membutuhkan.

Refleksi untuk Guru dan Pengambil Kebijakan

Bagi guru, penting untuk memahami posisi masing-masing tanpa saling merendahkan.

Setiap guru berjuang dengan caranya sendiri.

Bagi pengambil kebijakan, realitas dua wajah guru ini harus menjadi dasar dalam merancang kebijakan yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

Tahun 2026 menghadirkan dua wajah guru Indonesia: pejuang digital dan pejuang rupiah.

Keduanya sama-sama mengabdi, sama-sama mendidik, tetapi berjalan di medan yang berbeda.

Menyadari perbedaan ini bukan untuk membelah, melainkan untuk membangun kebijakan pendidikan yang lebih adil.

Karena masa depan pendidikan Indonesia tidak bisa ditopang oleh satu wajah guru saja.***