POJOKSATU.id - Perdebatan mengenai kualitas guru kembali memanas setelah muncul laporan bahwa banyak peserta PPG Dalam Jabatan hanya menyelesaikan pelatihan dalam dua minggu.

Di saat yang sama, calon guru melalui jalur Prajabatan harus menjalani seleksi super ketat dan mengikuti pelatihan selama setahun penuh.

Kontras yang sangat mencolok ini membuat publik bertanya apakah kompetensi guru benar-benar bisa dibangun dalam waktu sesingkat itu.

Baca Juga: Goalpara Tea Park Sukabumi Rayakan HUT ke-2, Tegaskan Komitmen Wisata Berkelanjutan untuk UMKM

Jika peserta Prajabatan harus mengikuti kuliah, microteaching, observasi kelas, praktik lapangan, hingga asesmen berlapis, mengapa peserta Daljab memperoleh sertifikat melalui pelatihan yang jauh lebih cepat?

Perbedaan ini memicu diskusi besar mengenai keadilan pelatihan dan standar profesi guru.

Banyak calon guru merasa bahwa sistem ini belum sepenuhnya adil dan merata.

Baca Juga: Bantuan Tak Biasa, Gajah Sumatra Bantu Evakuasi Kayu Gelondongan di Meureudu Aceh

Sebaliknya, guru Daljab menganggap pengalaman mengajar mereka bertahun-tahun sudah cukup menjadi dasar kompetensi.

Namun perdebatan tetap berlanjut karena keduanya menghasilkan sertifikat pendidik yang sama.

Kondisi ini memperkuat tuntutan publik agar pemerintah mengevaluasi ulang model pelatihan guru nasional.

Mengapa Pelatihan Daljab Bisa Sangat Singkat?

Pelatihan Daljab dibuat singkat karena asumsi bahwa guru telah memiliki pengalaman mengajar yang cukup.

Program ini dianggap sebagai penyetaraan kompetensi, bukan pembentukan kemampuan dari awal.

Karena itu durasi pelatihan diringkas menjadi beberapa minggu dengan materi padat dan intensif.

Namun realitas di lapangan menunjukkan peserta sering kewalahan karena modul yang biasanya diberikan dalam satu semester dipadatkan menjadi beberapa hari.

Guru merasa lebih banyak mengejar tugas daripada memahami substansi kompetensi pedagogik.

Durasi yang pendek membuat proses refleksi dan pendalaman konsep tidak berjalan optimal.

Meski secara administratif program ini dianggap efisien, publik mempertanyakan apakah kualitas pembelajaran benar-benar terbentuk.

Baca Juga: Jika 2 Minggu Bisa Jadi Guru Profesional, Lalu Mengapa PPG Prajabatan Harus 1 Tahun dan Seleksi Sedemikian Berat?

Pelatihan singkat ini memunculkan persepsi bahwa PPG Daljab hanya formalitas agar guru mendapatkan sertifikat.

Hal inilah yang menjadi sumber kritik atas efektivitas PPG Daljab dalam membangun kompetensi guru.

PPG Prajabatan Justru Harus Melalui Seleksi Ketat dan Pelatihan 1 Tahun

PPG Prajabatan memiliki struktur berbeda karena ditujukan untuk individu tanpa pengalaman mengajar.

Seleksinya ketat dengan persaingan tinggi bahkan melampaui beberapa rekrutmen ASN.

Baca Juga: Serius Ingin Naik Kelas, Pemkot Depok Adopsi Strategi Toleransi Kota Salatiga

Setelah lolos seleksi, peserta harus mengikuti kuliah intensif yang mengupas tuntas pedagogi modern dan teori belajar.

Mereka juga menjalani microteaching berkali-kali untuk membangun refleksi dan kepercayaan diri.

Selain itu peserta juga diwajibkan melakukan praktik pengalaman lapangan dalam durasi cukup panjang.

Model pelatihan ini dirancang agar calon guru benar-benar memahami dinamika kelas sebelum ditempatkan sebagai guru profesional.

Durasi panjang juga memungkinkan peserta mengembangkan kemampuan manajemen kelas dan strategi pembelajaran yang lebih matang.

Tidak mengherankan jika peserta Prajabatan mempertanyakan keadilan ketika dibandingkan dengan pelatihan Daljab yang jauh lebih cepat.

Apakah Kompetensi Guru Benar-Benar Bisa Dibangun dalam Dua Minggu?

Sebagian pakar pendidikan menilai bahwa dua minggu terlalu singkat untuk membangun kompetensi guru secara menyeluruh.

Baca Juga: Depok Bakal Secantik Jepang Lewat Penanaman Pohon Tabebuya di Sejumlah Titik Strategis

Proses menjadi guru profesional membutuhkan waktu panjang yang melibatkan pengalaman, refleksi, dan pembelajaran berulang.

Dua minggu mungkin cukup untuk menyampaikan modul atau tugas administratif.

Namun tidak cukup untuk memperkuat pedagogi, manajemen kelas, maupun strategi pembelajaran yang efektif.

Guru membutuhkan ruang untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan memodifikasi pendekatan mengajar mereka.

Baca Juga: Moonraker Indonesia Sport Club Kini Punya Peraturan Organisasi

Hal-hal seperti ini hanya terjadi dalam proses pelatihan yang panjang seperti PPG Prajabatan.

Karena itu dua minggu dianggap tidak ideal untuk membentuk kompetensi yang komprehensif.

Perbedaan durasi inilah yang membuat kualitas lulusan dua jalur PPG sering dipertanyakan.

Ketimpangan Sistem Ini Bisa Mempengaruhi Kepercayaan Publik

Jika dua jalur menghasilkan sertifikat yang sama tetapi melalui proses sangat berbeda, publik dapat mempertanyakan kredibilitas sertifikasi guru.

Guru Prajabatan merasa dirugikan karena harus menjalani perjalanan panjang untuk mendapatkan sertifikat pendidik.

Sebaliknya guru Daljab merasa pengalaman mengajar bertahun-tahun menjadi alasan mengapa durasi singkat sudah cukup.

Ketidaksinkronan persepsi ini menciptakan ketegangan tersendiri di dunia pendidikan.

Masyarakat kemudian mempertanyakan apakah kedua jalur benar-benar menghasilkan kualitas kompetensi yang setara.

Ketimpangan durasi juga berpotensi menurunkan legitimasi sertifikat pendidik di mata publik.

Karena itu pemerintah perlu melakukan harmonisasi agar standar profesional lebih adil.

Tanpa penyelarasan, risiko ketidakpercayaan publik terhadap profesi guru akan semakin besar.

Baca Juga: Moonraker Indonesia Sport Club Kini Punya Peraturan Organisasi

Perdebatan antara dua minggu pelatihan dan satu tahun pembelajaran bukan sekadar isu teknis, tetapi persoalan standar profesionalisme guru.

Guru dari jalur apa pun harus memiliki kompetensi yang sama kuat untuk menghadapi dinamika pendidikan modern.

Jika sertifikat pendidik adalah simbol kompetensi nasional, proses untuk mendapatkannya harus lebih setara dan proporsional.

Evaluasi PPG Daljab menjadi kebutuhan mendesak agar tidak lagi muncul kesenjangan durasi dan kualitas.

Pemerintah juga harus memastikan bahwa PPG Prajabatan tetap relevan dan memberi nilai lebih bagi calon guru.

Tujuan utama tetap satu: menghasilkan guru kompeten yang siap mengajar dengan kualitas terbaik.***