POJOKSATU.id - Program Pendidikan Profesi Guru atau PPG kembali menjadi perbincangan hangat.
Ini setelah muncul informasi, bahwa libur resmi dalam dua semester penuh hanya total dua hari, satu di semester pertama, satu hari di semester kedua.
Minimnya waktu rehat bagi calon guru ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah sistem PPG benar-benar efektif membentuk guru profesional, atau justru menciptakan kelelahan akademik yang menghambat proses belajar?
Isu ini penting karena menyangkut kata kunci efektivitas pendidikan profesi dan kesiapan calon guru yang kelak memegang peran krusial dalam kualitas pendidikan Indonesia.
Baca Juga: IKA 5KMA RUN 2025 Siap Digelar di Bogor, Angkat Tema Lingkungan dengan Doorprize Umroh Gratis
Kebijakan PPG dan Padatnya Kalender Akademik
Kurikulum PPG pra-jabatan didesain sebagai program intensif selama dua semester.
Peserta wajib mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup perkuliahan sinkron, pembelajaran asinkron, penugasan individu dan kelompok, microteaching, hingga praktik mengajar di sekolah mitra.
Namun di lapangan, kalender PPG semakin dipadatkan. Banyak peserta melaporkan bahwa:
Satu, libur semester hanya diberikan satu hari, tepat setelah semester ditutup dan sebelum semester berikutnya dibuka.
Dua, tidak ada jeda panjang di tengah semester. Perkuliahan berlangsung terus-menerus, termasuk penugasan full-time bahkan di luar jam sinkron.
Tiga, kegiatan praktik lapangan berjalan bersamaan dengan tugas mata kuliah lain, sehingga beban kerja menumpuk.
Meski PPG bertujuan membentuk guru yang profesional dan kompeten, desain kalender yang sangat padat memunculkan pertanyaan tentang kelayakan dan keseimbangan proses belajar.
Tuntutan Akademik Tinggi, Benarkah Efektif?
Program PPG memuat desain pembelajaran yang menekankan standar profesionalisme.
Calon guru dituntut menguasai pedagogi, perencanaan pembelajaran, manajemen kelas, serta kemampuan refleksi.
Namun padatnya jadwal dan minimnya waktu istirahat menimbulkan konsekuensi nyata.
Pertama, konsentrasi peserta mudah menurun. Proses pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi mental stabil, waktu memproses materi, dan ruang untuk refleksi.
Kedua, kualitas tugas berpotensi menurun karena peserta mengejar tenggat, bukan pemahaman.
Ketiga, praktik mengajar di sekolah mitra membutuhkan energi besar.
Ketika dilakukan dalam kondisi lelah, kualitas observasi dan pelaksanaan pembelajaran dapat terganggu.
Keempat, peserta cenderung mengalami burnout. Kondisi kelelahan fisik dan emosional ini terbukti dalam banyak penelitian memengaruhi efektivitas proses belajar dan kinerja.
Burnout juga berkaitan erat dengan menurunnya motivasi menjadi guru.
Ketika profesionalisme dituntut, tetapi desain sistem berpotensi menciptakan kelelahan berkepanjangan, efektivitasnya patut dipertanyakan.
Baca Juga: Bocah 10 Tahun di Samarinda Diduga Jadi Korban Kekerasan, Kakinya Patah Usai Dibanting Teman
Suara di Lapangan, Mahasiswa Merasa Cukup Tertekan
Berbagai laporan dari peserta PPG menyampaikan situasi yang sama, intensitas kegiatan terasa tidak masuk akal.
Beberapa mahasiswa menyebut bahwa aktivitas akademik berlangsung hampir tiap hari tanpa spasi pemulihan.
Ada pula yang menuturkan bahwa waktu tidur berkurang karena tenggat yang berlapis.
Dalam konteks pendidikan, tekanan tertentu memang diperlukan untuk membentuk disiplin.
Namun jika tekanan berlebihan, hasilnya justru kontraproduktif.
Baca Juga: Menguak Statistik BPS, Provinsi Mana Saja Punya Indeks Literasi Terendah di 2024-2025?
Calon guru membutuhkan ruang untuk berpikir dan merenung, bukan hanya menyelesaikan tugas.
Apalagi profesi guru menuntut kemampuan emosional dan mental yang kuat.
Beban studi yang sangat padat bisa membuat calon guru justru tidak siap menghadapi tekanan dunia kerja di masa depan.
Evaluasi Sistem PPG, Pakar Menilai Ada Ketidakseimbangan
Sejumlah analis pendidikan menekankan pentingnya keseimbangan dalam program profesi.
Kurikulum yang padat boleh saja, asalkan tetap memberikan ruang istirahat yang cukup.
Baca Juga: Menguak Statistik BPS, Provinsi Mana Saja Punya Indeks Literasi Terendah di 2024-2025?
Ada beberapa catatan yang sering muncul:
Pertama, kualitas guru tidak ditentukan oleh banyaknya jam kuliah, melainkan kualitas pembelajaran.
Kedua, praktik mengajar harus didampingi refleksi yang mendalam.
Refleksi membutuhkan waktu, tidak bisa dipaksakan dalam jadwal yang terlalu rapat.
Ketiga, standar internasional pendidikan profesi selalu menyertakan waktu istirahat sebagai bagian integral dari proses belajar.
Keempat, kesehatan mental calon guru merupakan komponen penting dalam profesi ini.
Sistem yang menimbulkan stres tidak akan menciptakan pendidik yang empatik dan stabil secara emosional.
Baca Juga: Popbela Dorong Edukasi Kecantikan yang Lebih Inklusif dan Sehat
Karena itu, desain kalender PPG yang sangat padat perlu dikaji ulang oleh pemangku kebijakan.
Apakah Sistem Ini Benar-Benar Siapkan Guru Profesional?
Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu melihat beberapa ukuran efektivitas:
Apakah peserta memahami materi secara mendalam?
Apakah mereka mampu merencanakan pembelajaran yang baik?
Apakah praktik mengajar berjalan optimal?
Apakah refleksi dilakukan secara bermakna?
Apakah peserta memiliki kesiapan mental yang cukup?
Jika peserta ditempa di bawah tekanan berlebihan, beberapa indikator tersebut berpotensi tidak tercapai.
Guru profesional membutuhkan tiga hal utama, yakni kompetensi, kepekaan sosial, dan kestabilan emosional. Ketiganya sulit terbentuk dalam sistem yang tidak memberi ruang jeda.
PPG Efektif Perlu Keseimbangan, Bukan Tekanan Berlebihan
Program PPG adalah bagian penting dalam pembentukan guru profesional. Namun efektivitasnya tidak ditentukan oleh intensitas jadwal semata.
Libur total yang hanya dua hari dalam dua semester membuka diskusi serius tentang desain pembelajaran.
Baca Juga: Skor PISA Merosot, Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Ada Apa dengan Fondasi Pendidikan Kita?
Agar benar-benar efektif, PPG harus mengoptimalkan, yakni:
1. Kualitas proses belajar, bukan kuantitas jam.
2. Ruang refleksi, bukan sekadar tumpukan tugas.
3. Pembimbingan yang manusiawi.
4. Keseimbangan antara tuntutan dan pemulihan.
Guru masa depan perlu dipersiapkan dengan baik, bukan hanya lewat kurikulum yang ketat, tetapi juga lewat sistem yang mendukung pertumbuhan mental, emosional, dan profesional. ***




