POJOKSATU.id - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie membuka kenyataan pahit tapi penting. 

Ia menyampaikan, sangat sedikit orang Indonesia yang berhasil menembus program S3 di kampus-kampus top dunia. 

Pernyataan ini ia sampaikan dalam Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 di Graha Unesa, Jumat (21/11/2025).

Baca Juga: Terbaik di Indonesia, IPB University Melonjak ke Peringkat 42 Dunia di THE Interdisciplinary Science Rankings 2026

Stella menjelaskan, hambatan terbesar calon mahasiswa doktor Indonesia adalah minimnya pengalaman riset.

"Kita lihat bahwa kenapa kita sulit diterima di top PhD program di universitas itu? Karena banyak dari kita yang tidak mempunyai research experience," ungkapnya. 

Ini jadi persoalan mendasar karena kampus internasional menilai rekam jejak riset sebagai syarat utama.

Baca Juga: Terbaik di Indonesia, IPB University Melonjak ke Peringkat 42 Dunia di THE Interdisciplinary Science Rankings 2026

Bukan cuma itu, banyak calon mahasiswa juga belum memiliki topik riset yang sesuai dengan fokus kampus tujuan. 

Stella menyebutnya sebagai kurangnya “exposure terhadap tier satu research topics”. 

"Artinya, kita tidak terekspos terhadap research topic yang juga digeluti oleh mereka yang melakukan research secara internasional," ujarnya.

Baca Juga: GEMARIKAN Perkuat Ketahanan Gizi Keluarga di Sukabumi 2025

Jadi, jurang pengetahuan pun makin terasa.

Masalah lain? Publikasi ilmiah. Menurut Stella, masih banyak publikasi calon mahasiswa yang masuk ke jurnal yang tidak dikenal secara internasional. 

"Bukan di jurnal yang dibaca oleh mereka yang berada di lingkungan internasional," tambahnya.

Akibatnya, karya ilmiah kita kurang diperhatikan oleh para akademisi global.

Baca Juga: Kiprah Syaiman Noerikhsan Apriliyan, Membangun Education Nusantara Indonesia, Bertumbuh Jadi Ekosistem Kolaboratif hingga Menembus Ranah Global

Persentase Dosen Bergelar Doktor Masih Rendah

Selain isu kandidat S3, Stella juga menyoroti kondisi dosen Indonesia. 

Ia menyebut hanya 25,7 persen dosen yang memiliki gelar doktor. 

"Kita tahu bahwa di Indonesia presentasi dari dosen-dosen kita yang mempunyai PhD baru 25,7 persen," ucapnya.

Baca Juga: 20 Rengking Kampus di Asia Tenggara Terbaik versi QS 2026, Perguruan Tinggi di Indonesia Apa Saja?

Angka ini tertinggal jauh dari negara lain di kawasan. Malaysia misalnya, punya 37,6 persen dosen bergelar doktor. Bahkan India mencapai 87,5 persen, jauh di atas Indonesia. Wah, kontras banget ya.

Menurut Stella, memiliki dosen dengan kualifikasi doktor bukan sekadar soal gelar. Lebih dari itu, kualitas riset nasional ikut bergerak naik. 

Baca Juga: Kisah Tambang Emas Pongkor, Teknologi, Sejarah, dan Jejak Manusia di Halimun Salak

"Tapi tentu saja PhD ini berkolerasi dengan kualitas riset yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara," jelasnya. ***