POJOKSATU.ID — Menjelang akhir tahun 2025, sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dibuat tercengang ketika saldo Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) mereka tiba-tiba melonjak tinggi.
Laporan dari berbagai daerah menyebutkan bahwa lonjakan saldo ini bukan sekadar bantuan rutin, melainkan hasil rapelan PKH, BPNT, serta bonus penebalan Rp 400 ribu sekaligus.
Berdasarkan pengamatan dan laporan media lokal, KPM yang baru saja beralih dari mekanisme pencairan via PT Pos ke bank Himbara kini bisa menerima beberapa komponen bantuan sekaligus.
Sebagian dari mereka mendapat PKH tahap 4, BPNT tahap 4, serta tambahan penebalan BPNT senilai Rp 400 ribu.
Baca Juga: Sidang KIP Memanas, Arsip Ijazah Jokowi Hilang, Pengamat Kritik UGM dan KPU Surakarta
Kemensos dan pendamping sosial juga membenarkan bahwa penebalan Rp 400 ribu sudah mulai dicairkan sejak Oktober 2025 bagi KPM pemegang KKS baru melalui mekanisme burekol (rekening kolektif).
Laporan dari Radar Bogor menyebut bahwa pada 1 Oktober 2025, saldo bansos PKH, BPNT, dan bonus penebalan sudah masuk ke banyak rekening KKS milik KPM peralihan Pos.
Sementara itu, media lain seperti Radar Bogor juga melaporkan bahwa pada 17 Oktober 2025, sejumlah KPM melihat banjir rapelan di rekening mereka.
Nominal yang dilaporkan sangat bervariasi ada KPM yang saldo KKS-nya mencapai Rp 970 ribu, Rp 1,2 juta, bahkan Rp 1,6 juta.
Indikasi kuat bahwa dana dari berbagai periode telah diakumulasi sekaligus.
Beberapa faktor menjadi penyebab lonjakan saldo ini:
1. Peralihan Pos → Bank: Dengan KKS baru via bank Himbara, aliran dana bantuan lebih cepat dan terintegrasi.
2. Rapelan Multi-periode: Karena proses transisi, KPM bisa menerima bantuan yang sebelumnya belum disalurkan (rapelan) sekaligus.
3. Bonus Penebalan: Tambahan Rp 400 ribu untuk KPM peralihan yang belum mendapat penebalan ini menjadi magnet tambahan.
Baca Juga: Najib Hamas Tegaskan Proyek PSEL Serang Masih Jalan, Hanya Tertunda
Meski banyak yang senang, lonjakan saldo ini juga menimbulkan kebingungan di kalangan KPM:
Tidak semua KPM tahu tentang status SI (Standing Instruction).
Sebab, meski cek rekening sudah berhasil, artinya belum tentu dana sudah turun secara penuh.
Ada KPM yang belum menyadari bahwa mereka harus aktif cek saldo lewat ATM atau mobile banking, karena banyak pencairan rapelan terjadi tanpa pemberitahuan khusus.
Potensi kesalahan data jika data di SIKS-NG belum diperbarui atau rekening kolektif belum tervalidasi, pencairan bisa tertunda atau bahkan gagal.
Lonjakan saldo ini bukan hanya cerita uang tiba-tiba banyak, tetapi juga menunjukkan beberapa hal positif.
Baca Juga: Tak Ada Kepastian THR untuk Peserta Magang Nasional Kemnaker Tahun 2026? Intip Faktanya
Efisiensi & transparansi: Sistem perbankan memungkinkan penyaluran bansos yang lebih akurat dan cepat dibandingkan distribusi tunai di Pos.
Kesejahteraan KPM meningkat: Dengan dana rapelan dan bonus, banyak KPM bisa menutup kebutuhan penting seperti pangan, pendidikan, atau kesehatan di akhir tahun.
Reformasi digital bansos membuahkan hasil: Kebijakan peralihan ke KKS bank terlihat efektif, terutama bagi penerima yang sebelumnya menggunakan Pos.
Segera cek saldo KKS lewat ATM, internet banking, atau mobile banking terutama di akhir tahun.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Regional JBB dan Pemkot Depok Lakukan Pemeriksaan Kualitas dan Takaran BBM di Dua SPBU
Pastikan status di SIKS-NG sudah mencapai SI atau tahap yang memang berarti dana akan diteruskan.
Jika belum cair, hubungi pendamping sosial lokal atau petugas Desa/Kelurahan untuk verifikasi data dan status rekening kolektif (burekol).
Dokumentasikan struk saldo masuk besar sebagai bukti jika diperlukan aduan atau klarifikasi ke Dinas Sosial setempat.***




