POJOKSATU.id - Kemampuan numerasi kembali menjadi sorotan setelah berbagai asesmen seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dilakukan.
Hasil asesmen tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam mengolah angka masih rendah, termasuk pemahaman terhadap data juga masih terbatas.
Selain itu, banyak siswa belum mampu memecahkan masalah yang berbasis matematika dengan baik.
Namun, numerasi tidak melulu harus diajarkan melalui soal-soal rumit di kelas.
Baca Juga: Benarkah KUHAP Baru Izinkan Penyadapan Tanpa Izin? Ini Penjelasan Lengkap Komisi III Soal KUHAP Baru
Aktivitas sehari-hari, termasuk bermain game, ternyata bisa menjadi sarana efektif untuk meningkatkan keterampilan ini jika diarahkan dengan tepat.
Numerasi Itu Bukan Sekadar Matematika di Buku Pelajaran
Numerasi sering dianggap sebagai kemampuan menghitung saja.
Padahal, menurut Kemendikbudristek, numerasi adalah kemampuan menggunakan konsep bilangan dan simbol matematika untuk memecahkan masalah dalam berbagai konteks.
Di kehidupan sehari-hari, keterampilan ini muncul dalam banyak aktivitas.
Misalnya saat membandingkan harga barang, memperkirakan waktu tempuh perjalanan, membaca grafik cuaca, atau menentukan takaran bumbu ketika memasak.
Kemampuan numerasi yang kuat membantu siswa mengambil keputusan dengan lebih logis.
Selain itu, keterampilan ini juga membuat pelajaran lain seperti IPA dan IPS terasa lebih mudah.
Hal ini menunjukkan bahwa numerasi bukan sekadar teori dalam buku, tetapi bagian dari pola pikir praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
Numerasi dalam Keseharian, Lebih Dekat dari yang Dibayangkan
Aktivitas harian sebenarnya penuh dengan momen pembelajaran numerasi.
Saat seseorang pergi ke minimarket, kemampuan membandingkan harga dan menghitung diskon adalah bentuk numerasi.
Saat memasak, ada keterampilan mengukur bahan, memperkirakan porsi, dan memahami perbandingan.
Di jalan raya, numerasi muncul saat memperkirakan waktu perjalanan.
Penggunaan map digital juga melibatkan pembacaan angka jarak dan kecepatan.
Baca Juga: Guru ASN Menahan Napas, SKTP 27–31 Oktober Tak Kunjung Cair! Ada Apa Sebenarnya?
Sementara itu, kegiatan seperti mengatur jam belajar, membagi tugas kelompok, atau mengatur uang jajan turut melatih kemampuan berpikir kuantitatif secara alami.
Semua kegiatan ini membantu membangun kepekaan terhadap angka tanpa tekanan akademik. Numerasi pun menjadi kebiasaan, bukan kewajiban.
Dari Game ke Pembelajaran, Manfaat Media Digital untuk Numerasi
Game digital menjadi salah satu alat paling dekat dengan kehidupan pelajar masa kini.
Banyak game yang memuat unsur numerasi, meskipun tidak disadari oleh pemainnya.
Game berbasis strategi mengharuskan pemain menghitung sumber daya, mengatur durasi waktu, dan menentukan prioritas.
Game puzzle melatih pengenalan pola, logika, dan kecepatan berpikir.
Baca Juga: Terkait Putusan MK soal Polisi Dilarang Duduki Jabatan Sipil, Begini Reaksi Ketua DPR
Sementara itu, platform resmi seperti Rumah Belajar Kemendikbudristek menyediakan game numerasi interaktif yang aman, gratis, dan edukatif.
Media seperti ini membantu siswa memahami angka dalam situasi yang menyenangkan.
Penggunaan game juga bisa meningkatkan motivasi belajar.
Menurut berbagai studi pendidikan, pembelajaran berbasis gim mampu memperkuat problem solving, meningkatkan fokus, dan menumbuhkan ketekunan.
Menerapkan Numerasi Melalui Aktivitas Rumah
Lingkungan rumah dapat menjadi ruang praktik numerasi yang sangat efektif.
Saat memasak, seseorang belajar menentukan takaran dan memahami skala.
Baca Juga: Benarkah PPPK Paruh Waktu Punya NIP? Ini Penjelasan Resmi soal NIP vs NI PPPK
Ketika mengatur uang jajan mingguan, ada proses perencanaan, penghitungan, dan evaluasi sederhana.
Membagi porsi makanan, menyusun jadwal kegiatan, atau menghitung penggunaan listrik harian juga melibatkan pemahaman numerasi praktis.
Bahkan kegiatan seperti merapikan lemari berdasarkan jumlah dan kategori pakaian dapat memperkuat kemampuan mengklasifikasi dan mengelompokkan data.
Semua aktivitas ini terjadi tanpa tekanan, sehingga lebih mudah dipahami dan diingat.
Strategi Guru di Kelas dengan Membawa Numerasi ke Situasi Nyata
Pembelajaran numerasi di kelas tidak harus terpaku pada buku.
Baca Juga: Aturan Baru! SKP Bulanan dan RHK Jadi Syarat Wajib Pembayaran TPP ASN Tahun 2025
Guru dapat mengaitkan konsep angka dengan kegiatan nyata di lingkungan sekolah.
Misalnya dengan mengukur panjang meja, mencatat data kehadiran kelas, atau membuat grafik sederhana dari hasil survei kecil-kecilan.
Kegiatan berbasis proyek kecil sangat efektif karena menghadirkan konteks nyata.
Ketika siswa membuat simulasi jual-beli, mereka mempraktikkan konsep operasi hitung, perbandingan, dan logika ekonomi.
Guru juga dapat mengintegrasikan numerasi ke mata pelajaran lain.
Dalam IPA, siswa dapat menghitung perubahan suhu atau mengolah data percobaan.
Dalam IPS, mereka bisa membaca grafik demografi atau tren ekonomi.
Integrasi ini membuat numerasi terasa relevan dan tidak terpisah dari pelajaran lain.
Baca Juga: Gelombang Pensiun Dini Mengguncang Jepang, Ribuan Pekerja Senior Terdampak Restrukturisasi 2025
Kolaborasi Antara Orang Tua dan Sekolah untuk Meningkatkan Numerasi Anak
Peningkatan numerasi membutuhkan kolaborasi antara sekolah, guru, dan keluarga.
Orang tua dapat membantu anak memahami bahwa numerasi bukan sesuatu yang menakutkan.
Sekolah dapat memberikan contoh aktivitas yang bisa dipraktikkan di rumah, sementara guru dapat memantau perkembangannya melalui komunikasi berkala.
Berikut versi yang sudah dipecah menjadi beberapa kalimat agar lebih mudah dibaca:
Kolaborasi sederhana dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas di rumah.
Salah satunya dengan mengerjakan proyek kecil bersama keluarga.
Diskusi tentang harga kebutuhan juga bisa menjadi latihan numerasi yang efektif.
Selain itu, menata jadwal belajar bersama dapat membantu siswa memperkuat keterampilan numerasinya secara konsisten.
Baca Juga: Selama Ini Siapa yang Habiskan Pertalite? Jawabannya Ada di 394 Ribu Nopol Ngaku Miskin
Mengapa Numerasi Masih Lemah?
Salah satu tantangan utama adalah kecemasan matematika, yaitu rasa takut berlebih terhadap angka.
Selain itu, kurangnya contoh nyata membuat siswa sulit memahami fungsi numerasi dalam kehidupan sehari-hari.
Solusinya adalah menghadirkan pembelajaran yang kontekstual.
Kegiatan sederhana yang memanfaatkan objek nyata, alat ukur, grafik lingkungan, atau situasi ekonomi kecil dapat membuat konsep numerasi lebih mudah diakses.
Pembelajaran bertahap, penggunaan permainan, dan pendekatan ramah kesalahan membantu siswa menjadi lebih percaya diri.
Numerasi bukan hanya tentang menghitung dengan cepat.
Baca Juga: Benarkah Ribuan Penyuluh Pertanian PNS dan PPPK Dialihkan ke Kementan? Ini Fakta dan Sumber Resminya
Kemampuan ini berkembang dari interaksi dengan aktivitas sehari-hari.
Mulai dari game, memasak, berbelanja, hingga membuat grafik kecil di kelas, semuanya bisa menjadi sarana untuk membangun fondasi numerasi yang kuat.
Dengan pembiasaan sederhana, keterampilan numerasi dapat berkembang secara bertahap.
Dukungan dari berbagai pihak juga membantu proses ini menjadi lebih maksimal.
Keterampilan numerasi pun bisa tumbuh secara alami.
Pada akhirnya, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran maupun kehidupan di masa depan. ***




