POJOKSATU.id - Tes Substantif PPG Calon Guru 2025 memuat berbagai bentuk soal, salah satunya pilihan ganda kompleks.

Jenis soal yang makin sering muncul dalam seleksi akademik guru.

Pemahaman terhadap cara kerja skor pilihan ganda kompleks sangat penting.

Format ini tidak menilai jawaban dengan model benar-salah sederhana.

Sistem penilaiannya memiliki mekanisme tersendiri sehingga peserta perlu memahami cara kerja skornya dengan tepat.

Jenis penilaian seperti ini juga telah digunakan di beberapa asesmen nasional dan pelatihan profesi guru.

Karena itu, prediksi terhadap sistem skornya dapat dianalisis berdasarkan praktik resmi yang pernah diterapkan di Indonesia.

Pengalaman tersebut menjadi dasar yang cukup kuat untuk memahami kemungkinan mekanisme penilaiannya.

# Apa Itu Soal Pilihan Ganda Kompleks

Pilihan ganda kompleks adalah bentuk soal yang memungkinkan lebih dari satu jawaban benar dalam satu nomor.

Formatnya dapat hadir dalam beberapa bentuk.

Ada soal yang menyajikan empat atau lima pernyataan, lalu peserta diminta memilih seluruh pernyataan yang benar saja.

Ada juga bentuk soal yang menggunakan kombinasi benar–salah untuk setiap pernyataan.

Selain itu, beberapa soal disusun dalam format mencocokkan pernyataan dengan pilihan jawaban yang tersedia.

Jenis soal ini biasa ditemukan pada asesmen pendidikan di Indonesia.

Misalnya pada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) di bawah Kemdikbudristek, serta pada UKMPPG/UKIN di tahun-tahun sebelumnya.

edoman penilaiannya juga pernah dijelaskan dalam Panduan Penilaian Pembelajaran oleh Puskurjar Kemendikbud.

Dokumen tersebut menyebutkan bahwa soal dengan lebih dari satu jawaban benar digunakan untuk mengukur kemampuan analisis peserta.

Penilaian ini juga bertujuan menilai ketepatan peserta saat memilah informasi dari beberapa pernyataan yang tersedia.

Dengan kata lain, model pilihan ganda kompleks tidak hanya menuntut peserta mengetahui jawaban yang benar.

Format ini juga meminta ketelitian tinggi saat memilah setiap pernyataan.

Peserta perlu memilih hanya pernyataan yang benar-benar tepat agar memperoleh skor yang sesuai.

Kesalahan memilih satu opsi saja bisa berdampak pada penilaian, tergantung sistem skor yang digunakan.

# Bagaimana Sistem Skornya Bekerja

Sampai saat ini, belum terdapat penjelasan resmi dari Ditjen GTK Kemendikbudristek mengenai mekanisme skor pilihan ganda kompleks.

Belum ada pula informasi yang secara khusus membahas penerapannya pada Tes Substantif PPG 2025.

Kondisi ini membuat peserta perlu memahami kemungkinan sistem penilaian berdasarkan praktik yang pernah diterapkan di asesmen pendidikan sebelumnya.

Namun, pola penilaian yang pernah digunakan di asesmen nasional dapat menjadi acuan awal.

Model serupa juga ditemukan pada pelatihan profesi guru dan beberapa panduan penilaian resmi.

Contohnya terlihat dalam Panduan AKM 2020, Panduan Penilaian Kurikulum 2013 revisi, serta contoh penilaian UKMPPG.

Berdasarkan rujukan-rujukan tersebut, terdapat dua kemungkinan mekanisme skor yang mungkin digunakan.

# Kemungkinan 1: Skor Nol Jika Ada Pilihan Salah

Pada skema ini, peserta harus memilih seluruh pernyataan yang benar.

Jika terdapat satu saja opsi yang dipilih padahal salah, seluruh jawaban dinilai tidak tepat.

Model seperti ini pernah diterapkan dalam beberapa ujian kompetensi berbasis komputer.

Penerapannya dilakukan untuk menjaga konsistensi penilaian.

Selain itu, sistem tersebut juga membantu memastikan objektivitas karena proses koreksi berlangsung secara otomatis.

Namun mekanisme ini berisiko tinggi.

Dalam konteks seleksi berskala nasional seperti PPG, sistem nol poin karena satu kesalahan kecil dinilai kurang adil.

Pendekatan seperti ini juga berpotensi menurunkan akurasi penilaian kemampuan peserta.

Akibatnya, kualitas pemetaan kompetensi menjadi tidak maksimal.

Karena itu, kemungkinan ini menjadi opsi yang paling kecil digunakan.

# Kemungkinan 2: Skor Dihitung Berdasarkan Banyaknya Pernyataan Benar

Pada sistem kedua, peserta mendapatkan skor setara jumlah jawaban benar yang dipilih.

Jika ada lima pernyataan, dan tiga di antaranya benar, maka peserta akan memperoleh tiga poin.

Sistem ini lebih adil dan pernah digunakan dalam beberapa asesmen pendidikan nasional.

Contohnya, dalam pedoman penilaian soal multi jawaban pada AKM, setiap pilihan benar dapat diberikan bobot tertentu.

Begitu pula dalam rubrik penilaian soal kompleks di Panduan Penilaian Pembelajaran terbitan Kemendikbud.

Karakteristik ini memungkinkan penilaian yang lebih proporsional.

Peserta tidak kehilangan seluruh poin hanya karena satu pemilihan yang kurang tepat.

Berdasarkan prinsip-prinsip penilaian yang diatur Kemendikbud, penilaian harus valid, objektif, dan adil.

Selain itu, penilaian juga harus berorientasi pada kemampuan nyata peserta.


Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip tersebut, mekanisme kedua dinilai lebih sejalan dengan standar evaluasi guru profesional.

Karena itu, kemungkinan besar sistem kedua yang digunakan pada Tes Substantif PPG.

# Contoh Cara Kerja Sistem Skor

Bayangkan suatu soal terdiri dari lima pernyataan: A, B, C, D, dan E.

Misalnya, pernyataan yang benar adalah A, C, dan D.

Jika peserta memilih A, C, D, maka total skor adalah 3 poin.

Jika memilih A, B, C, maka yang diperhitungkan hanya A dan C, sehingga skor menjadi 2 poin.

Sedangkan jika sistem pertama diterapkan, peserta yang memilih satu opsi salah, misalnya pilihan B akan langsung mendapat 0 poin.

Hal ini tetap terjadi meskipun tiga jawaban lainnya sudah benar.

Melihat dampak kedua sistem, skema berbasis jumlah jawaban benar dinilai lebih masuk akal.

Sistem ini juga lebih sesuai dengan tujuan penilaian yang ingin mengukur kemampuan peserta secara proporsional.

Selain itu, mekanisme tersebut lebih sering digunakan dalam berbagai evaluasi pendidikan modern.

# Tips Menghadapi Soal Pilihan Ganda Kompleks

Untuk menghadapi soal seperti ini, beberapa strategi bisa diterapkan agar hasil lebih maksimal.

Pertama, bacalah seluruh pernyataan secara teliti.

Jangan langsung memilih banyak jawaban hanya karena terasa mirip benar.

Kedua, analisis setiap pernyataan sebagai unit terpisah.

Pastikan sebuah pernyataan benar-benar memiliki dasar konsep yang tepat sebelum dipilih.

Ketiga, pertimbangkan untuk tidak memilih pernyataan yang masih diragukan kebenarannya.

Hal ini terutama bermanfaat jika sistem skor tidak memberikan penalti untuk jawaban kosong.

Keempat, manfaatkan berbagai sumber latihan yang kredibel.

Peserta dapat merujuk pada dokumen resmi UKMPPG untuk memahami pola penilaian yang pernah digunakan.

Selain itu, modul pembelajaran PPG juga menyediakan contoh bentuk soal multi jawaban yang relevan.

Contoh kisi-kisi substantif yang biasanya dirilis melalui kanal resmi GTK atau LPTK pun dapat menjadi acuan tambahan bagi peserta.

Dengan strategi tersebut, peserta akan lebih memahami pola penilaian dan mampu memilih jawaban yang benar dengan lebih presisi.

Pilihan ganda kompleks menjadi salah satu elemen penting dalam Tes Substantif PPG Calon Guru 2025.

Memahami cara kerja skornya merupakan langkah strategis untuk meminimalkan kesalahan dan meningkatkan peluang kelulusan.

Walau belum ada penjelasan resmi mengenai model skornya, analisis berbasis dokumen penilaian di Indonesia dapat menjadi acuan awal.

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa sistem berbasis jumlah jawaban benar adalah yang paling masuk akal.

Model ini juga dianggap paling adil dan paling relevan dengan standar penilaian yang dianut Kemendikbudristek.

Dengan persiapan, latihan, dan strategi yang tepat, peserta dapat menghadapi jenis soal ini dengan lebih percaya diri dan terarah. ***