POJOKSATU.id — Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan Tuan Rondahaim Saragih Garingging sebagai Pahlawan Nasional 2025 di Istana Negara, Senin (10/11).

Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK Tahun 2025 tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional.

Penetapan ini menjadikan Rondahaim sebagai pahlawan nasional pertama asal Simalungun, Sumatera Utara.

Ia dikenal sebagai raja ke-14 Kerajaan Raya yang berani melawan penjajahan Belanda demi mempertahankan kedaulatan wilayahnya.

Baca Juga: Tambahan Kuota Haji 20 Ribu Jemaah Jadi ‘Lahan Basah’ Oknum Pejabat?

Perjuangan “Napoleon-nya Orang Batak”
Keberaniannya membuat Belanda menjulukinya Napoleon der Bataks atau “Napoleon-nya orang Batak” karena strategi militernya sangat taktis.

Antara tahun 1880 hingga 1891, Rondahaim memimpin perang besar mempertahankan Simalungun dari intervensi kolonial Belanda.

Belanda berupaya membuka perkebunan di wilayah Simalungun tanpa izin, namun Rondahaim segera melakukan perlawanan.

Baca Juga: Dikenal Sakti dan Rendah Hati, KH. Syaikona Kholil Akhirnya Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Ia mendatangkan guru perang dari Aceh, Tanah Gayo, dan Alasa untuk memperkuat kemampuan militer pasukannya.

Dukungan datang dari tokoh besar seperti Si Singamangaraja XII dan Tengku Muhammad dari Aceh.

Strategi Perang dan Diplomasi
Selain perang, Rondahaim membangun diplomasi dengan kerajaan tetangga seperti Padang, Asahan, Batubara, dan Bajalinggei.

Baca Juga: Kemendiktisaintek Umumkan Peserta Lolos FGD Talent Scouting Gelombang 2 Tahun 2025, Cek Nama Kamu

Ia menerapkan strategi gerilya di hutan Simalungun untuk memutus logistik musuh dan melindungi rakyatnya.

Pertahanan kuat membuat Belanda kesulitan menembus Kerajaan Raya hingga akhir hidup Rondahaim.

Hingga wafat pada 1891, Rondahaim tidak pernah tunduk kepada kekuasaan kolonial Belanda.

Latar Belakang dan Masa Awal Kehidupan
Tuan Rondahaim lahir tahun 1828 di Juma Simandei, Pamatang Raya, dari pasangan Tuan Jinmahadim Saragih dan Puang Ramonta boru Purba Dasuha.

Baca Juga: Letjen Zamroni Jadi Ketua Dewas UTA '45 Jakarta, Bakal Perkuat Disiplin Ala Militer Organisasi

Sejak kecil hidup sederhana, namun bakat kepemimpinannya tumbuh di bawah bimbingan para bangsawan Kerajaan Raya.

Setelah ayahnya wafat, Rondahaim belajar pemerintahan di Kerajaan Padang dan menimba ilmu kepemimpinan.

Saat dewasa, ia memimpin pertempuran besar seperti di Dolok Merawan (1887) dan Bandar Padang (1889).

Kedua pertempuran itu berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari wilayah Simalungun.

Baca Juga: Permintaan Pemulangan Reynhard Sinaga Dinilai Abaikan Korban

Akhir Hidup Sang Raja Pejuang
Menjelang akhir hayat, Rondahaim menghadapi pemberontakan internal serta kondisi kesehatan yang menurun.

Ia wafat pada Juli 1891 di Rumah Bolon Raya dan dimakamkan dengan upacara kerajaan.

Rakyat mengenangnya sebagai raja pemberani yang melindungi rakyat sampai akhir hayatnya.

Baca Juga: CPNS 2026 Siap Dibuka? Catat 15 Formasi Keren untuk Lulusan SMA atau SMK

Penghargaan dan Warisan Sejarah
Atas jasa besar itu, Presiden B.J. Habibie menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Rondahaim pada 13 Desember 1999.

Namanya kini diabadikan pada Rumah Sakit Umum Daerah Tuan Rondahaim Saragih di Pematangsiantar.

Salah satu ruas jalan utama kota juga dinamai sesuai nama sang pahlawan.

Baca Juga: Purbaya Temukan Barang Rp100 Ribu di Dokumen, Padahal Harganya Rp40 Juta

Gelar Pahlawan Nasional menjadi penghormatan tertinggi bagi perjuangan Rondahaim di tanah Batak.

Semangat juangnya menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia dalam mencintai bangsa dan tanah air. ***