POJOKSATU.id — Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan Hajjah Rahmah El Yunusiyah sebagai Pahlawan Nasional berkat jasanya mendirikan sekolah Islam khusus perempuan pertama di Indonesia.

Tokoh asal Sumatera Barat ini dikenal luas sebagai pendiri Diniyyah Puteri School, lembaga pendidikan Islam perempuan pertama di Indonesia yang berdiri sejak 1923 di Padang Panjang.

Rahmah lahir pada tahun 1900 di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, dari keluarga ulama terpandang dan tumbuh dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi.

Baca Juga: Kemendiktisaintek Umumkan Peserta Lolos FGD Talent Scouting Gelombang 2 Tahun 2025, Cek Nama Kamu

Melihat pendidikan yang tertutup bagi perempuan di masa kolonial, Rahmah terdorong membuka akses belajar setara antara laki-laki dan perempuan melalui Diniyyah Puteri.

Pada usia 23 tahun, ia mendirikan sekolah tersebut dengan dukungan kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusiy, dan berhasil menarik puluhan murid perempuan pada tahun pertama.

Sekolah yang ia dirikan menggabungkan pelajaran agama dan umum, mencetak generasi perempuan berilmu dan berakhlak untuk berperan dalam kemajuan bangsa.

Baca Juga: Letjen Zamroni Jadi Ketua Dewas UTA '45 Jakarta, Bakal Perkuat Disiplin Ala Militer Organisasi

Pola pendidikan Diniyyah Puteri kemudian menyebar ke berbagai daerah, bahkan hingga Malaysia dan Singapura, menjadi inspirasi pendidikan Islam perempuan di Asia Tenggara.

Rahmah juga mendirikan Menyesal School bagi perempuan buta huruf serta sekolah guru perempuan untuk meningkatkan keterampilan kaum wanita.

Atas kiprahnya, Universitas Al-Azhar Mesir menganugerahkan gelar kehormatan “Syaikhah”, penghormatan langka bagi tokoh perempuan non-Mesir di dunia Islam.

Baca Juga: CPNS 2026 Siap Dibuka? Catat 15 Formasi Keren untuk Lulusan SMA atau SMK

Selain di bidang pendidikan, Rahmah aktif memperjuangkan kemerdekaan dengan mendirikan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang menentang eksploitasi perempuan pada masa penjajahan Jepang.

Setelah kemerdekaan, Rahmah dipercaya menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan ikut membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Sumatra Barat.

Ia juga menjadi salah satu pendiri Partai Masyumi dan menjabat sebagai anggota DPP Masyumi di Jakarta pada tahun 1952 hingga 1954.

Baca Juga: Purbaya Temukan Barang Rp100 Ribu di Dokumen, Padahal Harganya Rp40 Juta

Rahmah El Yunusiyah wafat pada Februari 1969 di Padang Panjang dalam usia 68 tahun dan dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana pada tahun 2013.

Lima puluh enam tahun setelah wafatnya, perjuangannya kini diakui negara melalui gelar Pahlawan Nasional tahun 2025 dari Presiden Prabowo Subianto.

Namanya abadi sebagai simbol keberanian perempuan Indonesia dalam menuntut ilmu dan memperjuangkan kesetaraan gender di bidang pendidikan. ***