POJOKSATU.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi tantangan nyata bagi aparatur sipil negara (ASN) di Indonesia.

Pemerintah menegaskan bahwa ASN tidak boleh gagap teknologi.

Tetapi harus meningkatkan kompetensi, literasi digital, dan kemampuan adaptif agar tidak tertinggal dalam menghadapi era birokrasi modern.

Pesan tersebut disampaikan dalam berbagai forum resmi kementerian dan lembaga.

Baca Juga: Bukan Sekadar Normalisasi, Begini Cara Selamatkan Kali Krukut dari Banjir

Termasuk pelatihan nasional bertema AI for Government Transformation yang digelar Kemenko PMK awal Oktober 2025 lalu.


Pelatihan AI untuk ASN Jadi Program Nasional

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), pelatihan literasi AI bagi ASN diselenggarakan mulai 6 Oktober 2025.

Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas ASN dalam menghadapi revolusi teknologi yang kian cepat.

Plh. Sekretaris Kemenko PMK, Iwan Eka Setiawan, dalam sambutannya menegaskan:

Baca Juga: Belum Lulus UKPPPG Guru Tertentu Tahap 2? Jangan Khawatir, Ini yang Harus Dipersiapkan

perkembangan kecerdasan artifisial yang bergerak sangat cepat dan luas. Hal ini mengharuskan ASN untuk siap beradaptasi dan meningkatkan kapasitasnya.

Peluncuran pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan ASN menghadapi era digital. Pernyataan tersebut dapat diakses melalui laman resmi kemenkopmk.go.id.

Iwan menambahkan, kompetensi ASN tidak lagi cukup dengan kemampuan administratif semata.

Setiap pegawai dituntut memahami analisis data, sistem digital, dan kemampuan berkolaborasi lintas platform agar bisa melayani publik dengan efisien dan inovatif.

Kompetensi Adaptif Jadi Kunci ASN di Era Digital

Menurut analisis Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), tantangan terbesar ASN bukan lagi soal kecepatan kerja, tetapi kemampuan beradaptasi terhadap perubahan digital.

Birokrasi yang lamban dan konvensional harus bertransformasi menjadi birokrasi yang agile, data-driven, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dari publikasi resmi Kemenkumham, disebutkan bahwa “kesigapan, literasi, dan kemampuan adaptif ASN akan menentukan apakah Indonesia menjadi bangsa yang tangguh di tengah disrupsi digital.”

Baca Juga: Wajib Tau! Cara Cek Formasi CPNS 2026 di Portal SSCASN BKN, Lengkap dengan Panduan Resminya

Artinya, ASN yang mampu menguasai teknologi dan beradaptasi dengan sistem berbasis AI akan menjadi tulang punggung pelayanan publik di masa depan.


Pemerintah Dorong Literasi AI dan Soft Skill ASN

Selain pelatihan teknis, pemerintah juga menekankan pentingnya penguatan soft skill bagi ASN.

Mengutip dari laman PTA Kemenag (31/10/2025), kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, serta kerja kolaboratif menjadi faktor yang harus ditumbuhkan bersama literasi digital.

Pelatihan “Garuda AI” yang digelar bekerja sama dengan Microsoft dan Binar Academy menjadi salah satu program unggulan.

Baca Juga: 7 Tempat Rekreasi Murah di Jakarta! Cocok Buat Healing Cepat Tanpa Cuti Panjang

Ratusan ASN dari berbagai kementerian dilibatkan dalam pelatihan ini untuk memahami dasar-dasar penggunaan AI di sektor publik.

Mulai dari manajemen data hingga pembuatan keputusan berbasis teknologi.


AI Bukan Ancaman, Tapi Peluang untuk ASN

Pakar transformasi digital dari LAN (Lembaga Administrasi Negara), Dr. Andi Sudirman, menjelaskan bahwa AI seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman bagi ASN.

“AI itu alat bantu, bukan pengganti manusia. ASN harus menjadi pengendali teknologi, bukan korban disrupsi,” ungkap Andi dalam seminar nasional “Digital Governance 2025” di Jakarta, Jumat 1/11/2025.

Baca Juga: Lolos UKPPPG Guru Tertentu? Ini Tahapan Selanjutnya yang Harus Anda Siapkan

Ia menilai, dengan penggunaan AI secara bijak, ASN justru bisa meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pelayanan publik di semua level pemerintahan.

Peningkatan kompetensi, literasi digital, dan mental adaptif menjadi kunci agar ASN tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan global yang cepat.

Ke depan, ASN yang mampu memahami dan mengelola teknologi AI dengan etika dan inovasi akan menjadi motor utama transformasi pemerintahan menuju Indonesia Emas 2045.***