POJOKSATU.ID – Majelis Masyayikh menegaskan komitmennya memperkuat rekognisi dan mutu pendidikan pesantren sebagai bagian sah dari sistem pendidikan nasional.
Komitmen itu ditegaskan dalam Konferensi Pendidikan Pesantren Nasional 2025 yang digelar di Hotel Bidakara Jakarta, 5–7 November 2025.
Ketua Majelis Masyayikh, Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, menyebut konferensi ini bukan sekadar forum ilmiah.
Baca Juga: Nafa Urbach Bela Tunjangan DPR Rp50 Juta Rakyat Kaget, Netizen Murka
Tetapi ruang konsolidasi nasional untuk memastikan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren berjalan efektif di semua level.
“Negara harus hadir dengan kebijakan nyata. Rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi tidak boleh berhenti di tataran wacana,” tegas Gus Rozin.
Menurutnya, rekognisi berarti pengakuan negara, afirmasi wujud keberpihakan kebijakan, dan fasilitasi bentuk dukungan negara.
Baca Juga: 3.000 PPPK Paruh Waktu Sudah Lolos Tapi Belum Punya NIP, Begini Penjelasan Resminya
Hal itu agar pesantren mendapat akses pendanaan serta peningkatan mutu.
Majelis Masyayikh Jadi Penjamin Mutu
Majelis Masyayikh berperan sebagai lembaga independen penjamin mutu pendidikan pesantren, yang menjembatani kebutuhan dunia pesantren dengan kebijakan negara.
Baca Juga: 3.000 PPPK Paruh Waktu Sudah Lolos Tapi Belum Punya NIP, Begini Penjelasan Resminya
“Kami menjadi jembatan antara negara dan pesantren dalam memastikan mutu, tanpa mencabut akar tradisi keilmuan yang telah diwariskan para kiai,” ujarnya.
Majelis Masyayikh telah melaksanakan berbagai mandat UU, mulai dari rekrutmen asesor hingga asesmen mutu pesantren.
Namun, tantangan masih ada, terutama terkait rekognisi lulusan pesantren di perguruan tinggi dan dunia kerja, serta sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah.
Pesantren Sebagai Pusat Ilmu dan Kemandirian
Gus Rozin juga menegaskan bahwa pesantren memiliki tiga fungsi utama: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketiganya, kata dia, adalah satu kesatuan nilai dan misi yang menumbuhkan manusia berilmu, berakhlak, sekaligus mandiri secara ekonomi.
“Pesantren bukan sekadar lembaga belajar, tapi pusat peradaban Islam yang membumikan nilai rahmatan lil ‘alamin,” ujar Gus Rozin.***




