POJOKSATU.id - Nora Sirait, adalah Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Kota Medan.
Dari anak petani hingga jadi penulis AKMI Nasional, Nora Sirait memiliki perjuangan yang tidak mudah.
Keterbatasan ekonomi tidak membuat perjuangan Nora runtuh, hingga ia berhasil bersinar di panggung pendidikan Nasional.
Inilah kisah inspiratif Nora Siroit yang lahir di Porsea pada 3 Mei 1989, dilansir dari Laman Kementerian Agama Republik Indonesia.
Baca Juga: BKD Wonosobo Akui Tak Punya Kewenangan Menindak Guru SD Viral yang Dituding Selingkuh Istri Sah
Latar Belakang Ekonomi
Nora adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, yang hidup sederhana di keluarga petani padi.
Tumbuh dalam keluarga petani padi yang hidup sederhana. Namun, keterbatasan ekonomi tak pernah menjadi penghalang bagi mimpinya.
Meski ayah seorang petani dan ibu seorang IRT, keduanya selalu menanamkan pesan untuk mencapai pendidikan setinggi mungkin.
Pesan itulah yang kemudian membakar semangat Nora hingga ia bisa sukses seperti saat ini.
Perjalanan Karier
Nora mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), jurusan FKIP Matematika.
Lulus tahun 2011, Nora menerima predikat wisudawan terbaik.
Menunda cita-cita untuk lanjut S2 dan S3 karena ekonomi, Nora akhirnya mengabdi jadi honorer di SD Muhammadiyah 03 Medan sampai tahun 2018.
Prestasi Nora
Mendapat panggilan hati sebagai pengajar, Nora berniat ingin lebih dari itu, yakni jadi fasilitator yang bisa menginspirasi dan meningkatkan kualitas para pendidik di Indonesia.
Tahun 2019, Nora lulus Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dan tahun 2021, terpilih sebagai Fasilitator Numerasi (Fasda) MI.
Berhasil jadi fasilitator, Nora mendampingi 25 Kelompok Kerja Guru (KKG).
Tak berhenti di situ, memasuki tahun 2024, Nora lolos seleksi sebagai penulis soal Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) Numerasi MI tingkat nasional.
Nora jadi satu-satunya perwakilan dari Sumatera Utara yang terpilih sebagai penulis soal.
Sulitnya Perjalanan Nora
Kesuksesannya saat ini bukanlah hal yang mudah, tak jarang ia merasa lelah dan menangis namun ia tak berhenti.
Bahkan saat sudah berhasil jadi bagian dari tim AKMI pun, ia masih kesulitan dengan penyusunan soal yang menantang, proses seleksi yang ketat, serta tuntutan membuat soal berkualitas.
Perjalanan Nora Sirait dari guru honorer hingga fasilitator jadi kisah inspiratif bagi para pendidik di Indonesia.***




