POJOKSATU.id — Perpustakaan Jalanan Jakarta mulai dikenal publik ketika komunitas ini rutin menggelar lapak baca dengan tikar dan buku-buku di ruang terbuka publik.

Tujuannya sederhana, biarkan siapapun dapat duduk dan membaca hingga mewujudkan ruang baca publik yang mudah diakses, tanpa syarat, tanpa biaya, dan di mana masyarakat dapat hadir dengan sukarela.

Buku-buku yang tersedia dalam lapak tersebut kebanyakan buku cerita anak-anak. Komunitas ini pun menyediakan fasilitas untuk menggambar.

Baca Juga: Menaker Yassierli Tegaskan BSU Tahap Dua Tidak Ada, Rp600 Ribu Sudah Cair Semua

Perpustakaan jalanan seperti ini dapat menjadi alternatif yang efektif dalam meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat.

Dengan hadir di ruang terbuka yang ramai, seperti taman, trotoar, dan sudut kota, komunitas ini memanfaatkan keberadaan publik yang "berada di luar" sebagai bagian dari strategi.

Buku bukan lagi barang yang eksklusif, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Lapak baca Perpustakaan Jalanan Jakarta biasanya digelar pada hari-hari tertentu, di lokasi yang mudah diakses publik, dan dibuka untuk segala rentang usia.

Baca Juga: Profil Rizki Rifai, Anggota DPRD Langkat Viral Gelar Pesta di Kapal Mewah Danau Toba

Gerakan literasi ini menemui berbagai rintangan, antara lain;

1. Meskipun di ruang publik, pihak pengelola taman maupun pemerintah daerah kadang memberikan batasan terkait kerumunan atau penggunaan fasilitas publik.

Biasanya komunitas ini membuka lapaknya di Taman Literasi Blok M atau di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.

2. Fasilitas yang terbatas, penerangan malam, tempat duduk, koleksi buku yang cukup.

Semuanya memerlukan dukungan lebih agar lapak baca tetap nyaman dan aman.

Keberlanjutan kegiatan ini sangat bergantung pada relawan dan donasi buku.

Menjaga konsistensi aktivitas dan koleksi menjadi tantangan tersendiri.

Baca Juga: Waktu Semakin Dekat, Inilah Cara Jitu Menghadapi Tes Substantif PPG Calon Guru 2025

Beberapa kali kegiatan ini dianggap sebagai “kerumunan yang tidak berizin” atau menghadapi administrasi yang belum sepenuhnya mendukung.

Gerakan seperti Perpustakaan Jalanan Jakarta membuktikan bahwa literasi juga bisa dipelihara melalui inovasi ruang publik.

Perpustakaan Jalanan Jakarta juga mengingatkan kita, bahwa literasi bukan hanya soal akses buku, tetapi soal ruang bersama, interaksi, membaca, lalu berbagi pengetahuan. ***