POJOKSATU.id - Belakangan ini, publik dihebohkan dengan kontroversi mengenai sumber air yang digunakan oleh merek air minum dalam kemasan (AMDK) ternama, Aqua.
Isu ini mencuat setelah unggahan video Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menunjukkan bahwa sumber air Aqua ternyata berasal dari sumur bor dalam, bukan mata air pegunungan seperti yang selama ini diklaim.
Klarifikasi dari Danone Indonesia pun langsung dikeluarkan untuk menjawab tudingan tersebut.
Baca Juga: Peringati Hari Sumpah Pemuda, Karyawan XLSMART dan PMI Gelar Donor Darah di Pekanbaru
Klarifikasi Danone Indonesia
Menanggapi isu yang berkembang, Danone Indonesia melalui Aqua menegaskan bahwa sumber air mereka berasal dari akuifer dalam yang terletak di sistem hidrogeologi pegunungan.
Akuifer ini terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air, sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia dan tidak mengganggu penggunaan air masyarakat.
Proses seleksi sumber air dilakukan melalui kajian ilmiah ketat, melibatkan ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad), serta mempertimbangkan aspek geologi dan hidrogeologi.
Baca Juga: Mahfud Bela Luhut Pandjaitan di Kereta Cepat Whoosh, Dia Diberi Tugas Sesudah Kasus Bocor
Beberapa titik sumber bahkan bersifat self-flowing atau mengalir secara alami tanpa perlu pompa mekanik
Apa Itu Akuifer Dalam?
Akuifer adalah lapisan batuan atau tanah yang menyimpan air.
Akuifer dalam merujuk pada lapisan air tanah yang berada pada kedalaman yang cukup jauh di bawah permukaan bumi, biasanya lebih dari 60 meter.
Air dari akuifer dalam ini umumnya terlindungi dari kontaminasi karena terletak di bawah lapisan kedap air alami.
Baca Juga: Ketua Peradi: Hakim tak Manusiawi yang Tahan Ibu Menyusui Usir Saja dari Karawang!
Kontroversi yang Muncul
Meskipun telah diberikan klarifikasi, kontroversi tetap muncul. Beberapa pihak mempertanyakan apakah pengambilan air dari kedalaman tersebut dapat mengurangi cadangan air tanah di sekitar area tersebut.
Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang dampak lingkungan jangka panjang dari pengambilan air dalam jumlah besar secara terus-menerus.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Pengambilan air tanah dalam jumlah besar dapat menyebabkan penurunan muka air tanah di sekitar area tersebut.
Baca Juga: Sinergi Kementan dan Pemkot Tarakan Tingkatkan Produksi Pertanian melalui CSR dan Perkebunan
Lapisan akuifer dalam yang terhubung dengan sistem air bawah tanah yang besar, jika banyak yang asal bor, bisa menguras “tabungan air alami” yang tersimpan bertahun-tahun.
Hal ini dapat berdampak pada ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat dan ekosistem sekitar.
Selain itu, jika tidak dikelola dengan baik, pengambilan air yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada struktur tanah dan meningkatkan risiko terjadinya amblesan tanah.
Baca Juga: Diumumkan Mulai Hari Ini? CEK Daftar Nama Peserta yang Lulus PPG Guru Tertentu Tahap 2 Tahun 2025
Langkah Pengelolaan yang Diterapkan
Untuk mengatasi potensi dampak negatif, Danone Indonesia menerapkan berbagai langkah pengelolaan sumber air.
Salah satunya adalah menjaga kelestarian lingkungan sekitar sumber air dengan melakukan reboisasi dan pembatasan pembangunan di area sekitar.
Air bersih bukanlah sumber daya yang bisa diambil seenaknya. Perlindungan lingkungan, pengelolaan sumber daya air, dan kesadaran masyarakat menjadi kunci agar air tetap tersedia untuk generasi mendatang.***




