POJOKSATU.id - Untuk mempercepat pemerataan tenaga medis di wilayah timur Indonesia, Kemdiktisaintek terus memperkuat komitmennya melalui Sistem Kesehatan Akademik (SKA) Wilayah V.

Wilayah V ini mencakup Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Langkah ini menjadi bagian dari Program Akselerasi Pemenuhan Tenaga Medis dan Kesehatan, program nasional yang berfokus pada peningkatan akses dan mutu pendidikan kedokteran.

Baca Juga: Kemenag Kucurkan Dana untuk Riset dan Beasiswa Dosen PTK, Berapa Jumlahnya

Pertemuan koordinasi SKA Wilayah V yang digelar di Universitas Mataram (Unram), Jumat (24/10), dihadiri oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, Rektor Unram, perwakilan Gubernur NTB, Dekan Fakultas Kedokteran, Direktur Rumah Sakit Pendidikan, hingga perwakilan mahasiswa kedokteran dari ISMKI.

Dalam sambutannya, Khairul Munadi menegaskan bahwa percepatan pemenuhan dokter spesialis hanya bisa dicapai lewat kerja sama lintas sektor.

“Tidak ada jalan lain selain melalui pendekatan kolaboratif dan gotong royong. Pemenuhan kebutuhan tenaga medis dan kesehatan tidak bisa dilakukan secara sektoral, tetapi harus bersama-sama,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Satgas Program Akselerasi Pemenuhan Tenaga Medis telah menetapkan tiga strategi utama hingga 2025:

Penambahan prodi dan kuota mahasiswa dokter spesialis/subspesialis melalui kemitraan antara kampus dan rumah sakit.

Baca Juga: Pengkinian Luaran Penelitian untuk Dosen Penerima BOPTN 2024, Segera Lakukan Sebelum Tenggat 30 November 2025

Penempatan residen senior di rumah sakit pendidikan prioritas.

Penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian, dan sektor terkait agar dukungan lebih menyeluruh.

Unram menjadi salah satu perguruan tinggi yang sigap menindaklanjuti arahan ini.

Saat ini, kampus tersebut telah memiliki lima program studi dokter spesialis dan tengah menyiapkan pembukaan empat prodi baru.

Rektor Unram, Bambang Hari Kusumo, mengungkapkan bahwa distribusi tenaga kesehatan di NTB masih belum merata.

Baca Juga: Jumlah Pesantren Muhammadiyah Paling Banyak di Indonesia

“Sebagian besar tenaga kesehatan masih terkonsentrasi di Kota Mataram, sementara kabupaten lainnya kekurangan signifikan. Kami berharap pertemuan ini menghasilkan langkah konkret untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis di NTB,” ujarnya.

Senada dengan itu, Dekan FK Unram, Arfi Syamsun, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung pendidikan kedokteran dengan menurunkan biaya studi spesialis.

Ia juga menyoroti peran penting pemerintah daerah dalam mendukung beasiswa dan memperkuat rumah sakit pendidikan.

Sekretaris Dinas Kesehatan NTB, Eli Ramlan, menambahkan bahwa Pemprov NTB siap memperkuat sinergi dengan Unram, termasuk melalui bantuan biaya pendidikan bagi calon dokter spesialis.

Kemdiktisaintek juga tengah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk menyiapkan kebijakan pembiayaan peserta didik di rumah sakit daerah yang menjadi wahana pendidikan, termasuk meninjau ulang tarif agar biaya studi lebih terjangkau.

Dirjen Khairul berharap Unram bisa menjadi pelopor di NTB dengan membuka empat program studi baru, yaitu Ilmu Penyakit Dalam, Anestesiologi dan Terapi Intensif, Jantung dan Pembuluh Darah, serta THT.

“Tanpa semangat kolaborasi, mustahil kita bisa mewujudkan cita-cita Bapak Presiden untuk menuju Indonesia Sehat 2045,” tegasnya.

Melalui sinergi SKA dan AIPKI Wilayah V, Kemdiktisaintek berharap terbangun budaya gotong royong yang kuat antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan pemerintah daerah untuk mengatasi tantangan pendidikan kedokteran dan distribusi dokter spesialis di Indonesia bagian timur.***