POJOKSATU.id — Tahun 2024 menjadi catatan penting bagi perkembangan riset Indonesia.
Jumlah publikasi ilmiah yang terindeks Scopus meningkat tajam, menunjukkan semangat tinggi kalangan akademisi dan peneliti untuk berkontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan global.
Namun, di balik pencapaian itu, para pakar menyoroti persoalan mendasar: kualitas riset yang belum sejalan dengan lonjakan kuantitas.
Baca Juga: Suami Tahu Istri Anti Puspitasari Selingkuh, Namun Dimaafkan, Ternyata Diulangi dan Berakhir Tragis
Banyak publikasi yang masih didominasi oleh prosiding konferensi, yang umumnya memiliki dampak ilmiah rendah.
Pemerintah kini mulai menekankan pentingnya publikasi di jurnal bereputasi tinggi agar Indonesia memiliki posisi kuat dalam peta riset dunia.
Analisis dari SINTA V3 memperlihatkan bahwa peningkatan publikasi banyak didorong oleh kategori Scopus Non-Article (A6), sebagian besar berupa laporan konferensi atau prosiding.
Baca Juga: Suami Tahu Istri Anti Puspitasari Selingkuh, Namun Dimaafkan, Ternyata Diulangi dan Berakhir Tragis
Volume dari kategori ini bahkan setara dengan total artikel jurnal di kuartil Q3 dan Q4.
Ketergantungan terhadap prosiding dianggap sebagai bentuk kerentanan strategis.
Dokumen jenis ini umumnya memiliki bobot kredit rendah dan jarang mendapatkan sitasi berkelanjutan.
Laporan dari Elsevier menunjukkan bahwa dalam kurun 2012–2022, jumlah publikasi ilmiah oleh penulis asal Indonesia tumbuh dengan laju tahunan rata-rata (CAGR) 26%.
Pertumbuhan ini membuat target kuantitas yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024 berhasil dilampaui jauh.
Namun, kuantitas tidak otomatis berbanding lurus dengan dampak ilmiah. Berdasarkan data Scimago Journal & Country Rank hingga 2022, rata-rata sitasi per artikel di Indonesia hanya mencapai 18,3.
Angka ini jauh tertinggal dari Malaysia yang mencatat rata-rata 76,5 sitasi per artikel.
Baca Juga: Ibu Hamil Anti Puspitasari Diduga Jual Diri di Palembang, Motif Pelaku Kesal Disuruh Keluar Kamar
Artinya, meski publikasi Indonesia meningkat pesat, kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan global masih minim.
1. Tantangan Kualitas (Kesenjangan Sitasi Regional)
Meskipun jumlah publikasi Indonesia menempati posisi tertinggi di ASEAN, kualitasnya belum mampu menandingi negara tetangga.
Riset yang dipublikasikan sering kali kurang mendapat rujukan (sitasi) dari peneliti global.
Baca Juga: Jangan Hanya Andalkan Teknologi! Ini 10 Kemampuan yang Tetap Dicari Perusahaan di Masa Depan
Kondisi ini menunjukkan bahwa penelitian yang dihasilkan belum sepenuhnya memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan ilmu pengetahuan internasional.
2. Intervensi Kebijakan dan Peningkatan Kualitas 2024
Tahun 2024 menjadi momentum penting dalam perbaikan sistem publikasi ilmiah Indonesia.
Beberapa langkah konkret mulai diterapkan:
- Pengetatan Global
Basis data Scopus melakukan pembersihan terhadap sejumlah jurnal yang dianggap predator atau bermasalah. Langkah ini berdampak langsung pada akademisi yang perlu lebih selektif dalam memilih tempat publikasi.
- Kriteria Nasional Ketat
Kenaikan pangkat dosen melalui kebijakan POPAK 2024 kini menekankan aspek kualitas, seperti transparansi dewan editorial, penggunaan bahasa resmi PBB, serta kolaborasi lintas negara.
- Peningkatan Mutu Jurnal Domestik
Beberapa kampus menunjukkan hasil menggembirakan. Universitas Sebelas Maret (UNS), misalnya, pada Juni 2024 melaporkan sejumlah jurnalnya berhasil naik peringkat ke Scimago Journal Rank (SJR) Q1 dan Q2.
3. Strategi Menuju Dampak Ilmiah Nyata
Agar publikasi ilmiah Indonesia tidak hanya banyak tetapi juga berdampak, sejumlah rekomendasi strategis disarankan:
- Beralih ke Target Kualitatif
Pemerintah disarankan fokus pada peningkatan persentase publikasi di jurnal Q1 dan Q2. Insentif untuk publikasi di prosiding sebaiknya dikurangi.
- Verifikasi Berlapis
Institusi pendidikan perlu menerapkan sistem verifikasi yang ketat sebelum peneliti mengirimkan naskah ke jurnal tertentu, guna menghindari publikasi di jurnal yang berisiko dihentikan Scopus.
Baca Juga: Masih Bingung Isi Deskripsi Diri di CV? Ini Rumus Simpelnya Biar Terlihat Keren dan Meyakinkan
- Investasi pada Jurnal Nasional Berkualitas
Peningkatan investasi dan pendampingan penting untuk mendorong lebih banyak jurnal nasional terakreditasi SINTA S1/S2 agar naik ke Q1 atau Q2 Scopus.
Langkah ini akan membangun reputasi ilmiah nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Kisah publikasi ilmiah Indonesia tahun 2024 adalah cerita tentang kuantitas yang sudah melesat tinggi, tetapi kualitas yang perlu segera dikejar.
Fokus baru kini bukan lagi sekadar jumlah, melainkan dampak.
Dengan pengetatan global dan kebijakan nasional yang lebih selektif, publikasi di jurnal bereputasi tinggi menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia di ranah riset internasional.
Di tengah tantangan ini, Publikasi Indonesia menawarkan diri sebagai mitra strategis bagi akademisi dan peneliti.
Lembaga ini berkomitmen membantu peneliti menghasilkan karya ilmiah yang bukan hanya terbit, tetapi juga berdampak secara global.
Melalui pendampingan menyeluruh — mulai dari penulisan naskah, pemilihan jurnal bereputasi, hingga proses publikasi yang etis — Publikasi Indonesia mendukung peningkatan kualitas riset nasional.
Sejak berdiri pada 2021, lembaga ini telah berbadan hukum dengan nomor 03/CV/IX/2021 dan NPWP 43.527.731.4-455.000.
Dengan tim ahli berpengalaman, Publikasi Indonesia membantu dosen, akademisi, dan profesional dalam publikasi di jurnal nasional terakreditasi (SINTA) maupun jurnal internasional (Scopus, DOAJ, EBSCO, dan Copernicus).
Bagi mereka, kualitas penelitian bukan sekadar angka, tetapi cermin kemajuan bangsa.
Baca Juga: Om Zein Panggil Pengawas Proyek, Tegaskan Pembangunan yang Tidak Sesuai Spesifikasi Tak Akan Dibayar
Karena itu, langkah menuju ekosistem riset yang kuat, berintegritas, dan diakui dunia harus terus dilanjutkan. ***




