POJOKSATU.id — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memperkenalkan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) dengan tema “Mahir Numerasi, Majukan Negeri”.
Program ini hadir sebagai langkah nyata untuk menyiapkan generasi muda Indonesia agar lebih percaya diri menghadapi masa depan, lewat kemampuan numerasi yang menjadi bekal penting bersaing di era global.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan bahwa anak-anak Indonesia perlu melihat Matematika dan numerasi bukan sekadar pelajaran di kelas.
Lebih dari itu, numerasi menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan lain yang akan membuka jalan bagi kemajuan bangsa.
Peluncuran GNN juga diisi dengan sejumlah kegiatan, mulai dari Bimbingan Teknis bagi Calon Fasilitator Nasional Matematika GEMBIRA, hingga peresmian Taman Numerasi yang dilakukan serentak di 16 provinsi, 156 sekolah, serta 13 desa.
Meski baru tahap awal, inisiatif ini diharapkan bisa terus meluas dan menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia.
Numerasi sering kali dianggap sekadar urusan Matematika di sekolah.
Padahal, keterampilan ini jauh lebih dalam: ia adalah bekal hidup yang membuat seseorang mampu berpikir logis, kritis, serta mengambil keputusan cerdas setiap hari.
Lewat GNN, Kemendikdasmen mengajak seluruh pihak—guru, orang tua, tokoh masyarakat, hingga keluarga—untuk bersama-sama menumbuhkan budaya numerasi sejak dini.
Tiga buku saku resmi sudah diterbitkan, dan bisa langsung diunduh gratis.
1. Numerasi di Sekolah
Sekolah menjadi pusat gerakan, sementara rumah dan masyarakat menjadi ruang praktik nyata.
Di jenjang PAUD, anak-anak bisa belajar numerasi sambil menghitung jari, mengelompokkan mainan, hingga berburu angka di sekitar sekolah.
Sedangkan di SD, kegiatan bisa berupa menghitung kehadiran teman, mengelola uang saku, membuat denah sekolah, hingga menganalisis harga jajanan kantin.
Baca Juga: Tips Numerasi Menyenangkan di Rumah: Kolaborasi Guru dan Orang Tua untuk Membantu Pembelajaran Anak
Numerasi juga bisa terintegrasi dengan olahraga dan seni, misalnya siswa berlari mengelilingi lapangan sambil menghitung putaran, atau membuat taman numerasi berisi angka dan bentuk geometri.
Dengan pendekatan kreatif ini, numerasi terasa menyenangkan, bukan beban.
DOWNLOAD Buku Saku GNN di Sekolah
Numerasi di Masyarakat: Mahir Angka untuk Hidup Lebih Baik
Budaya numerasi juga penting di tengah masyarakat.
Dari mengatur belanja rumah tangga, membaca data kesehatan, hingga memahami tagihan listrik—semuanya butuh keterampilan numerasi.
Gerakan ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja: arisan, posyandu, pengajian, gotong royong, atau pertemuan warga.
Tokoh masyarakat, kader PKK, hingga warga biasa pun bisa jadi pendamping numerasi.
Salah satu inovasi menarik adalah Taman Numerasi, ruang belajar terbuka yang berisi mural angka, alat ukur sederhana, hingga permainan edukatif seperti ular tangga berhitung atau engklek angka.
DOWNLOAD Buku Saku GNN di Masyarakat
Numerasi di Keluarga
Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Karena itu, ayah, ibu, kakak, hingga kakek-nenek bisa menjadi pendamping numerasi.
Aktivitas sederhana sehari-hari bisa jadi sarana belajar, seperti mengukur tinggi badan anak, menakar bahan masakan, membandingkan harga barang, hingga membuat rencana kegiatan harian.
Buku Saku GNN di Keluarga juga memberi contoh kreatif: bermain puzzle, memilih botol minum, sampai percakapan ringan tentang pola dan data.
Yang penting, pendamping menciptakan suasana positif dan tidak menekan anak. Dengan begitu, pengalaman numerasi akan terasa hangat dan berkesan.
Baca Juga: 7 Jenis Upacara Pasukan Penggalang dan Tujuannya, Panduan Lengkap bagi Pramuka Penggalang
DOWNLOAD Buku Saku GNN di Keluarga
Cerdas, Logis, dan Percaya Diri
Gerakan Numerasi Nasional bukan sekadar mencetak anak yang pandai berhitung.
Lebih dari itu, ia membentuk generasi yang percaya diri, logis, kritis, serta bijak dalam mengambil keputusan.
Jika budaya numerasi terus ditumbuhkan di sekolah, masyarakat, dan keluarga, maka cita-cita “Mahir Numerasi, Majukan Negeri” bukan lagi slogan, melainkan kenyataan untuk memperkuat masa depan bangsa.
Baca Juga: Pemprov Riau Buka Beasiswa Lanjutan 2025, Cek Syarat dan Jadwal Lengkapnya
Bagaimana menurut bapak ibu? Adakah tanggapan atau pengalaman di lapangan yang bisa dibagi? Tulis di kolom komentar ya.
Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Rifki Setiadi




