POJOKSATU.id, PERNAHKAH kamu mendengar kata-kata seperti “meong”, “kring-kring”, atau “gemericik” dan langsung membayangkan benda yang dimaksud?

Kata-kata itu disebut onomatope, yaitu kata-kata yang meniru bunyi alam, suara benda, atau suara makhluk hidup.

Dalam bahasa Indonesia, onomatope tidak hanya memperindah bahasa, tetapi juga membantu kita menyampaikan emosi, menggambarkan fenomena, dan membuat komunikasi sehari-hari lebih jelas dan hidup.

Baca Juga: Kurang dari 24 Jam! Polres Purwakarta Bekuk Pembunuh Majikan di Jatiluhur

Apa Itu Onomatope?

Onomatope adalah kata yang dibentuk dari tiruan bunyi yang terdengar di sekitar kehidupan manusia.

Misalnya, kata “meong” meniru suara kucing, “gemericik” meniru air mengalir, dan “bruumm” meniru suara mobil.

Kata-kata ini lahir dari kebutuhan manusia untuk menamai bunyi dengan cara yang mudah dimengerti dan alami.

Baca Juga: Selamat Hari Pramuka! Sandi Morse Lengkap untuk Latihan Komunikasi di Kegiatan Pramuka

Menurut J.G. Herder, bahasa manusia muncul dari tiruan bunyi alam yang kemudian dijadikan nama untuk benda atau peristiwa.

Dengan kata lain, manusia sejak awal menggunakan suara untuk memahami dan menjelaskan lingkungan sekitar.

D. Whitney menambahkan bahwa banyak kata baru lahir karena meniru suara yang ada di sekitar manusia, seperti kendaraan, alat, atau binatang.

Sementara itu, Kridalaksana menegaskan bahwa onomatope adalah kata yang menamai benda atau perbuatan melalui tiruan bunyi yang diasosiasikan dengan objek atau perbuatan tersebut.

Baca Juga: Magang Kamu Tidak Dibayar? Ini Hak Lengkap Peserta Magang Sesuai Aturan Pemerintah yang Wajib Kamu Ketahui!

Fungsi Onomatope dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Memperkuat komunikasi verbal

Dengan onomatope, pendengar dapat langsung membayangkan bunyi yang dimaksud.

Misalnya, kata “tik-tok” langsung membuat kita membayangkan bunyi jam, sementara kata “ding-dong” mengingatkan pada bunyi bel pintu yang ringan dan cepat.

2. Menyampaikan ekspresi dan emosi

Onomatope juga mengekspresikan perasaan. Kata seperti “hahaha” menunjukkan tawa, “ugh” mengekspresikan lelah atau jijik, dan “aww” menandakan rasa gemas atau terpesona.

Kata-kata seperti “huh” dan “oh” menunjukkan heran atau mengerti.

Baca Juga: Dua Cabang Baru Hadir di Medan, EMADOS Sajikan Cita Rasa Timur Tengah yang Menggoda Lidah

3. Membantu memahami lingkungan

Kata-kata onomatope membuat manusia lebih cepat mengenali fenomena sekitar.

Misalnya, “gemericik” menandakan air mengalir, “gemuruh” untuk guntur, “gemerisik” daun bergesekan, dan “cipratan” untuk air yang terpercik.

Dengan kata-kata ini, kita bisa “mendengar” dunia melalui bahasa.

Contoh Onomatope dalam Bahasa Indonesia

1. Suara hewan: meong (kucingg), gonggong (anjing), kokok (ayam)

2. Suara benda & aktivitas manusia: ding-dong (bel pintu), kring-kring (bel sepeda), cekrek (kamera), bruuum (mobil), tik-tok (jam), klik (mouse atau tombol)

3. Suara alam: gemericik (air mengalir), derek (angin kencang), gemuruh (guntur), gemerisik (daun bergesekan)

Baca Juga: Kereta Cepat Memanfaatkan Konsep Sains Ini, Mengenal Apa Itu Levitasi Magnetik

4. Suara ekspresi manusia: hahaha (tertawa), huh (heran), shh (diam), ugh (jijik/lelah), aww (gemas), hmm (berpikir), ouch (terluka)

Mengapa Onomatope Penting dalam Bahasa?

Onomatope membuat percakapan lebih hidup, membantu menyampaikan emosi, dan mempermudah pemahaman lingkungan.

Dalam cerita anak-anak atau komik, onomatope membuat adegan menjadi lebih nyata dan menarik, misalnya kata-kata seperti “bam!”, “swoosh!”, atau “crash!” memberikan efek visual dan suara yang langsung bisa dibayangkan pembaca.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Dengan onomatope, bahasa Indonesia menjadi lebih ekspresif, komunikatif, dan menyenangkan.

Kata-kata ini memungkinkan kita “mendengar” lingkungan hanya melalui bahasa, dari suara alam, hewan, benda, hingga ekspresi manusia sehari-hari. ***