POJOKSATU.id, SEKOLAH Alam Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta menghadirkan pendekatan unik dalam dunia pendidikan.

Tidak seperti sekolah formal pada umumnya, SALAM membebaskan para murid untuk memilih sendiri pelajaran dan proyek yang ingin mereka tekuni.

Di sekolah ini, tidak ada kurikulum baku yang mengikat proses belajar-mengajar secara kaku.
Baca Juga: 5 Contoh Doa Upacara Hari Pramuka 14 Agustus 2025, Bikin Upacara Makin Khidmat

Pendekatan yang diterapkan SALAM berpijak pada prinsip bahwa pendidikan dasar seharusnya difokuskan pada upaya membangun struktur berpikir dan pemahaman sebab-akibat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi SALAM, belajar bukan sekadar menghafal teori atau mengejar nilai, melainkan proses menelusuri hubungan antarperistiwa yang ada di sekitar.

Oleh karena itu, seluruh desain proses pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan riset sejak dini.

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Perang Dayak Desa, Kisah Perlawanan Gagah Berani Suku Dayak Melawan Jepang di Tanah Borneo

Sejak duduk di bangku kelas 1 SD, para siswa di SALAM sudah dikenalkan dengan riset.

Riset yang dimaksud bukan dalam arti formal yang penuh teori, tetapi riset sebagai metode yang menghadirkan peristiwa nyata di kehidupan mereka.

Setiap anak didorong untuk mencari tahu sendiri tentang berbagai fenomena, mulai dari lingkungan rumah masing-masing hingga lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Baca Juga: 5 Rahasia Biar Anak MI Semangat Belajar dan Jadi Anak Sholeh

Menariknya, proses riset ini tidak dipusatkan di ruang kelas. Sebaliknya, para siswa membangun riset mereka di tempat masing-masing.

Dari rumah, mereka diajak untuk melakukan observasi, bertanya, mencari data, dan menemukan jawaban atas hal-hal yang mereka temui sehari-hari.

Dengan metode ini, pusat-pusat pengetahuan tersebar di sekitar kehidupan anak-anak, bukan hanya terpaku di meja belajar atau buku teks.

Baca Juga: 5 Rahasia Biar Anak MI Semangat Belajar dan Jadi Anak Sholeh

Di Sekolah Alam SALAM, semua orang dipandang sebagai subyek pengetahuan. Bukan hanya guru yang menjadi sumber ilmu, melainkan setiap individu—anak, orang tua, tetangga—memiliki potensi untuk menjadi pusat pengetahuan.

Proses belajar menjadi dinamis, di mana setiap orang saling berbagi, menelusuri, dan menemukan bersama-sama.

Pendekatan ini memberi ruang seluas-luasnya bagi anak untuk mengembangkan kepekaan, kemandirian, dan pemahaman yang lebih kontekstual terhadap dunia di sekitarnya. 

Baca Juga: MASIH DIBUKA! Program Beasiswa Sinar Mas untuk Jurusan Agronomi dan Mill Tahun 2025

Bagi SALAM, inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya, yaitu mencetak generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta kehidupan mereka. ***