POJOKSATU.id — Mahasiswa Ushuluddin kerap dihadapkan pada istilah teknis seperti takhrij, tahqiq, dan syarah.

Ketiganya merupakan metode penting dalam khazanah keilmuan Islam klasik maupun kontemporer, terutama dalam studi hadis dan literatur keislaman.

Lantas, apa perbedaan di antara ketiganya dan bagaimana peran ketiganya dalam pengembangan ilmu?

Takhrij: Menelusuri Asal dan Validitas Hadis
Takhrij berasal dari bahasa Arab kharraja-yukhriju, yang secara teknis berarti melacak sumber asal sebuah hadis yang dikutip dalam suatu kitab.

Baca Juga: Mengenal Kategori atau Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia Secara Lengkap dan Contoh Penerapannya

Tujuan utamanya adalah:
- Mengetahui perawi dan sanad hadis
- Menentukan tingkat maqbul atau mardud-nya hadis (diterima atau ditolak)
- Menyebutkan kitab-kitab sumber asli yang memuat hadis tersebut

Seorang yang melakukan takhrij akan menyebutkan jalur sanad, mengutip hadis dari sumber primer seperti Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Dawud, dan lain-lain, serta menilai derajat hadis berdasarkan ilmu rijal dan musthalah.

Baca Juga: Lanal Cirebon Tegaskan Seleksi Prajurit TNI AL Bebas KKN, Pakta Integritas Ditandatangani

Misalnya, jika ditemukan kutipan hadis dalam kitab fikih atau tafsir, maka peneliti akan menelusuri hadis tersebut ke kitab asalnya.

Proses ini menuntut kemampuan menggunakan kitab-kitab indeks seperti Miftah Kunuz Sunnah, Mu’jam Mufahras, hingga perangkat digital seperti Maktabah Syamilah.

Tahqiq: Memverifikasi dan Menyunting Teks Klasik
Tahqiq berasal dari kata haqqaqa, artinya menguak kebenaran atau memverifikasi.

Baca Juga: Inilah Semua Varian GPT-5, Harga, dan Keunggulannya di Berbagai Bidang

Dalam konteks keilmuan, tahqiq adalah proses menyunting naskah manuskrip atau kitab kuning agar valid secara ilmiah.

Langkah-langkah umum tahqiq meliputi:
1. Menemukan manuskrip atau edisi paling otoritatif dari kitab

2. Membandingkan antar-naskah bila ada beberapa salinan

3. Mengoreksi kesalahan penulisan, harakat, atau cetakan

4. Menyisipkan penjelasan (ta’liq) bila ada istilah rumit

5. Menyusun takhrij untuk hadis atau ayat yang dikutip

Baca Juga: DPRD Tangerang Selatan Desak Pencopotan Kepsek SDN Ciledug Barat Imbas Kasus Pungli

Tahqiq biasanya menghasilkan naskah edisi kritis (nuskhat muhaqqaqah) yang digunakan dalam akademik, terutama oleh mahasiswa pascasarjana di bidang studi Islam klasik.

Syarah: Menjelaskan dan Memperluas Makna Teks
Syarah berarti penjelasan atau komentar terhadap teks induk.

Berbeda dengan takhrij dan tahqiq yang lebih berorientasi pada keaslian dan sumber, syarah bertujuan memahami makna dan konteks suatu teks.

Baca Juga: Sosok Nur Febri Susanti, Orang Tua Siswa SDN Ciledug Barat Jadi Korban Pungli Kepsek Ira Hoeriah

Syarah dapat dilakukan terhadap hadis, kitab fikih, atau bahkan teks filsafat.

Contoh klasik dari kitab syarah adalah:
- Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai syarah dari Shahih Bukhari

- Syarah al-Aqidah al-Tahawiyah karya Ibnu Abil ‘Izz

- Syarah Nahwu Wadhih dalam bidang bahasa Arab

Baca Juga: KUMPULAN SOAL Bahasa Inggris Semester Ganjil Kelas 7 SMP, Buat Kamu Paham Teks, Dialog, dan Vocabulary!

Seorang penulis syarah akan:

- Menjelaskan istilah teknis dalam teks

- Memberikan konteks historis dan teologis

- Menyambungkan isi teks dengan kitab lain

- Kadang menyisipkan pendapat pribadi atau ulama lain

Baca Juga: Kabar Terbaru OTT Madina, KPK Sering Periksa Kirun dan Anaknya Telusuri Aliran Dana ke APH Pejabat

Hubungan Ketiganya: Saling Melengkapi dalam Studi Islam
Takhrij, tahqiq, dan syarah tidak berdiri sendiri.

Dalam praktik ilmiah, ketiganya bisa dilakukan dalam satu proyek keilmuan.

Misalnya, ketika seorang mahasiswa mengedit sebuah manuskrip klasik:
- Ia melakukan tahqiq terhadap naskah tersebut

Baca Juga: Wali Kota Tangsel Sebut Kepsek SDN Ciledug Barat Pelaku Pungli Terancam Dicopot: Hukuman Paling Berat

- Ia menyisipkan takhrij untuk hadis atau ayat yang dikutip

- Ia membuat syarah untuk menjelaskan istilah yang sulit atau interpretasi

Ketiganya memperkaya kajian dan menjaga keutuhan tradisi keilmuan Islam yang bersumber dari nash-nash primer.

Baca Juga: KUMPULAN SOAL IPS Kelas 9 Semester Ganjil yang Bisa Bikin Kamu Makin Jago Menjawab Ujian!

Bagi mahasiswa Ushuluddin, memahami takhrij, tahqiq, dan syarah bukan hanya penting untuk tugas akademik, tetapi juga sebagai bekal kontribusi ilmiah dalam pelestarian khazanah Islam.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Ketiganya adalah jembatan menuju pemahaman teks secara menyeluruh: dari sumbernya, keasliannya, hingga maknanya.***