POJOKSATU.id— Bahasa Indonesia kaya akan ungkapan yang membuat percakapan terasa lebih hidup dan berwarna.
Salah satu bentuknya adalah idiom, yaitu ungkapan yang maknanya tidak bisa diartikan secara harfiah dari kata penyusunnya.
Menariknya, banyak idiom kita gunakan sehari-hari tanpa sadar, baik dalam percakapan santai, karya sastra, maupun pemberitaan di media massa.
Apa Itu Idiom?
Idiom adalah gabungan kata yang memiliki makna khusus di luar arti sebenarnya.
Ungkapan ini sering digunakan untuk menyampaikan perasaan, nasihat, atau sindiran dengan cara yang lebih halus dan mudah dipahami.
Karena sifatnya yang kiasan, arti idiom tidak bisa diartikan kata per kata.
Baca Juga: 5 HP Oppo Harga Rp 1 Jutaan Terbaik Pelajar 2025, Hemat Budget, Tunjang Kebutuhan Belajar!
Contoh Idiom Populer dan Penjelasannya
1. Adu domba
Sekilas, ungkapan ini terdengar seperti benar-benar mengadu dua ekor domba. Namun, bukan itu maksudnya.
Idiom ini berarti menghasut agar dua pihak yang semula rukun menjadi bermusuhan.
Contoh: “Jangan mudah percaya gosip, bisa saja itu hanya upaya adu domba.”
2. Angkat tangan
Jika diartikan secara harfiah, angkat tangan berarti mengangkat kedua tangan.
Namun, sebagai idiom, ungkapan ini bermakna menyerah atau tidak sanggup lagi menghadapi sesuatu.
Contoh: “Setelah berjam-jam mencoba memecahkan soal itu, ia akhirnya angkat tangan.”
Baca Juga: DMH Academy Buka Beasiswa Hingga Rp10 Juta per Semester, Tanpa Syarat Ribet!
3. Banting tulang
Tentu saja, orang tidak benar-benar membanting tulangnya.
Idiom ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang bekerja sangat keras, bahkan hingga menguras tenaga.
Contoh: “Ayah rela banting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya.”
4. Anak emas
Kata ini bukan berarti anak yang terbuat dari emas.
Sebagai idiom, artinya adalah orang yang sangat disayang atau diistimewakan oleh seseorang atau suatu kelompok.
Contoh: “Ia disebut anak emas pelatih karena selalu dipercaya tampil di laga penting.”
5. Buah bibir
Bukan buah yang keluar dari bibir, melainkan ungkapan yang berarti topik yang ramai dibicarakan banyak orang.
Contoh: “Pernikahan selebriti itu menjadi buah bibir masyarakat.”
6. Gelap mata
Secara harfiah, mata tidak benar-benar menjadi gelap.
Idiom ini merujuk pada kondisi seseorang yang kehilangan akal sehat karena dikuasai emosi atau nafsu.
Contoh: “Karena gelap mata, ia melakukan perbuatan yang disesali kemudian.”
7. Gulung tikar
Tidak ada kaitannya dengan menggulung tikar secara fisik.
Idiom ini berarti bangkrut atau usaha yang dimiliki terpaksa tutup.
Contoh: “Banyak toko kecil terpaksa gulung tikar akibat persaingan ketat.”
8. Harga diri
Kata ini tidak berkaitan dengan harga dalam bentuk uang.
Sebagai idiom, harga diri bermakna martabat, kehormatan, atau nilai diri yang dijunjung tinggi oleh seseorang.
Contoh: “Ia rela berkorban demi menjaga harga diri keluarganya.”
9. Ibu Pertiwi
Secara harfiah, bukan berarti seorang ibu bernama Pertiwi.
Ungkapan ini dipakai secara puitis untuk menyebut tanah air Indonesia.
Contoh: “Para pahlawan rela berjuang demi Ibu Pertiwi.”
10. Kutu buku
Tentu saja, orang tidak benar-benar menjadi kutu yang hidup di dalam buku.
Idiom ini digunakan untuk menyebut seseorang yang gemar membaca hingga sering menghabiskan waktunya dengan buku.
Contoh: “Sejak kecil, ia dikenal sebagai kutu buku yang selalu betah di perpustakaan.”
Pentingnya Memahami Idiom
Menguasai idiom dapat membuat kita lebih mudah memahami teks sastra, berita, maupun percakapan sehari-hari.
Selain itu, penggunaan idiom bisa memperkaya bahasa dan menambah kesan ekspresif dalam komunikasi.
Dengan mengenal idiom, kita semakin menyadari bahwa bahasa Indonesia penuh keindahan dan kearifan lokal.
Jadi, jangan ragu untuk mempelajari dan menggunakannya agar komunikasi semakin hidup.***




