POJOKSATU.id — Banyak santri ingin menjadi penghafal Al Quran atau tahfidz, tapi tidak sedikit yang mengeluh sering lupa.

Bisa jadi bukan karena kurang semangat, melainkan karena belum menemukan metode hafalan yang cocok.

Salah satu metode klasik yang masih digunakan di banyak pesantren adalah metode bin nathar, yaitu menghafal dengan cara melihat langsung mushaf secara berulang.

Metode ini sangat cocok untuk santri yang memiliki gaya belajar visual.

Baca Juga: Seru dan Bermakna! Begini Contoh Kegiatan P5RA yang Bisa Dilakukan di Madrasah atau Pesantren

Mereka tidak langsung menutup mushaf dan mencoba menghafal, melainkan membaca dan memandangi ayat-ayat tersebut berulang-ulang.

Bahkan bisa lebih dari sepuluh kali dalam satu sesi. Tujuannya agar memori visual terhadap posisi dan bentuk ayat di halaman mushaf tertanam kuat dalam ingatan.

Tidak seperti metode sima’an yang lebih mengandalkan pendengaran, bin nathar melatih ketajaman mata dan kekuatan memori visual.

Santri dilatih untuk mengingat ayat beserta letaknya, apakah di bagian atas atau bawah halaman, di sisi kiri atau kanan.

Pendekatan ini sangat membantu ketika ingin menyambung hafalan dari ayat sebelumnya tanpa harus mengandalkan hafalan bunyi saja.

Baca Juga: KUNCI JAWABAN Latihan Pemahaman Modul 2 FPPN 1 PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 2, LENGKAP SEMUA SUB MATERI

Dalam praktiknya, santri biasanya tidak diperbolehkan pindah ke halaman berikutnya sebelum halaman sebelumnya benar-benar dikuasai.

Pendekatan ini memang tidak instan, tapi hasilnya terbukti lebih tahan lama dan minim kelupaan.

Lebih dari sekadar metode menghafal Al Quran, bin nathar juga menjadi bagian dari pembentukan karakter.

Karena mengulang berkali-kali membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan tinggi.

Di beberapa pesantren, bahkan cukup satu halaman per hari asalkan hafalan tersebut benar-benar kuat dan tidak mudah hilang.

Prinsipnya bukan seberapa cepat menghafal, tetapi seberapa kuat hafalan itu bisa dijaga.

Metode bin nathar juga bisa diterapkan oleh siapa saja yang sedang berjuang menjadi hafiz, tidak hanya santri di pesantren.

Baca Juga: Jangan Sampai Salah! Ini Bedanya BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang Wajib Diketahui Pekerja

Dengan niat yang lurus, waktu yang teratur, dan konsistensi yang dijaga, hafalan tidak hanya selesai tapi juga tertanam kuat dalam memori.

Kalau kamu merasa sering lupa hafalan, mungkin sekarang saatnya mencoba bin nathar dengan sungguh-sungguh.

Mulailah dari satu halaman. Ulangi terus sampai kamu merasa ayat Al Quran itu benar-benar lekat di kepala. Selamat mencoba dan semoga istiqamah.***

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami berikut ini:

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov