POJOKSATU.id — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) benar-benar serius melangkah menuju World Class University (WCU).
Hal itu tampak dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Strategi UNJ Menuju World Class University yang digelar pada Senin (4/8/2025) di Gedung Syafei Kampus A UNJ.
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Hermawan Kresno Dipojono, Ketua Tim WCU Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, menyampaikan transformasi menjadi WCU bukan sekadar mengejar peringkat dunia, melainkan menyangkut kualitas riset, kontribusi nyata, dan daya saing global.
Komitmen Serius dari Pimpinan UNJ
Rektor UNJ, Prof. Komarudin, dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh sivitas akademika harus berkomitmen dan bekerja bersama.
Ia menyatakan bahwa masa jabatannya yang tersisa dua setengah tahun ingin dimanfaatkan untuk menyiapkan fondasi kuat menuju WCU.
“Kalau ditanya serius atau tidak, jawabannya adalah serius,” tegasnya.
Prof. Komarudin juga mengingatkan pentingnya akan menjaga identitas UNJ sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), sembari memperkuat keunggulan di bidang lain.
Ia berharap forum ini bisa merumuskan strategi aplikatif untuk menjadikan UNJ bagian dari jajaran universitas top dunia.
WCU Bukan Sekadar Ranking
Dalam pemaparannya, Prof. Hermawan menyatakan bahwa ranking memang bukan segalanya, namun mencerminkan kualitas dan reputasi kampus.
“Universitas hebat bukan hanya punya gedung megah, tapi menghasilkan karya ilmiah yang berdampak,” jelas Guru Besar ITB tersebut.
Ia menyebutkan bahwa UNJ memiliki potensi besar, namun perlu keluar dari zona nyaman. Indikator seperti jumlah publikasi terindeks, kolaborasi global, dan H-index dosen harus ditingkatkan.
“Pemimpin yang ragu-ragu harus diganti. Kita butuh orang-orang yang berani menyalip di tikungan,” tandasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti budaya akademik yang selama ini kurang menghargai pencapaian ilmiah.
Banyak kampus yang lebih mengagungkan jabatan struktural ketimbang karya ilmiah. Karena itu, dosen muda harus dibina dengan semangat pantang menyerah.
“Kegagalan itu bagian dari proses menuju keunggulan,” tambahnya.
Peluang kerja sama internasional juga dibahas dalam forum ini. Negara seperti Jepang, yang saat ini kekurangan mahasiswa, disebut sebagai mitra strategis yang bisa diajak kolaborasi.
Di sisi lain, program seperti sabbatical leave dan pemanfaatan dana riset LPDP bisa jadi akselerator penguatan jejaring dan kapasitas riset dosen.
Baca Juga: Rekrutmen ASN Fokus PPPK, Tapi Hanya Tiga Instansi Buka Formasi PPPK 2025, Kemana Guru Disalurkan?
“Menjadi World Class University bukan mimpi kosong. Kalau tidak ada impian, tidak ada arah. Dan impian itu harus dimulai dari sekarang,” pungkas Prof. Hermawan.***
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:



