POJOKSATU.id — Siapa sih yang nggak gemas lihat anak ayam kecil warna-warni di pasar? Anak-anak langsung menjerit minta beli, orang tua kadang luluh karena harganya pun murah.

Tapi tahukah kita bahwa di balik bulu cerah itu, tersembunyi cerita pahit yang berangkat dari industri peternakan unggas?

Fenomena ini bukan sekadar soal anak ayam lucu, tapi sudah masuk ke ranah ilmiah—menyangkut seleksi genetik, teknik industri, sampai etika kesejahteraan hewan.

Yuk, kita kulik satu-satu, tapi jangan kaget ya… karena yang terlihat imut ternyata menyimpan kenyataan yang cukup mengiris hati.

Baca Juga: FAKTA BAHASA: 17 AGUSTUS Sebentar Lagi! Begini Cara Penulisan Ucapan HUT ke-80 Republik Indonesia yang Benar Sesuai Kaidah

Ketika Anak Ayam Jadi “Tidak Berguna”

Dalam dunia peternakan unggas, dikenal istilah limbah penetasan.

Istilah ini bukan sembarangan, karena merujuk pada hasil sampingan dari proses penetasan telur dalam jumlah besar, terutama dari ras ayam petelur (layer).

Dosen Biologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Rury Eprilurahman, menjelaskan bahwa limbah penetasan mencakup telur infertil, cangkang telur bekas menetas, anak ayam lemah, hingga anak ayam jantan yang dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi.

Rury menyebut bahwa anak ayam jantan dari ras petelur tidak akan tumbuh jadi ayam yang bisa bertelur dan juga tidak efisien untuk dijadikan pedaging, sehingga banyak yang dieliminasi sejak dini.

Di banyak negara, proses eliminasi dilakukan dengan metode ekstrem seperti gas CO₂ atau mesin penghancur otomatis.

Tapi di Indonesia?

Sebagian besar anak ayam jantan malah dijual murah ke pasar tradisional—dan di sinilah muncul praktik pewarnaan bulu anak ayam.

Strategi Marketing atau Pelanggaran Etika?

Anak ayam dijual dengan warna-warni mencolok untuk menarik perhatian anak-anak.

Baca Juga: Fakta Bahasa : Kick Off Punya Padanan Resmi dalam Bahasa Indonesia, Cek Juga Istilah Sepak Bola Lain di KBBI

Menurut Rury, pewarnaan ini dilakukan sebagai strategi agar ayam-ayam tersebut tetap bisa dijual.

Namun ia menambahkan bahwa praktik ini berisiko, apalagi jika pewarna yang digunakan bukan dari bahan aman.

Beberapa pedagang memang memakai pewarna makanan. Tapi nggak sedikit juga yang asal pakai pewarna tekstil atau zat kimia murahan.

Akibatnya? Anak ayam bisa stres, suhu tubuhnya terganggu, bulunya rusak, bahkan mengalami iritasi kulit atau mata.

Penelitian dari Raden Intan Lampung (2021) membuktikan bahwa anak ayam yang dicat dengan pewarna tekstil memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibanding yang tidak dicat. Gak kebayang, kan?

Dari Ilmu Genetika sampai Teknologi Sexing

Fakta ini bukan hanya soal etika, tapi juga soal keilmuan modern.

Di dunia internasional, banyak negara sudah mengembangkan teknologi in ovo sexing, yaitu mendeteksi jenis kelamin ayam sebelum menetas.

Baca Juga: Fakta Bahasa : Dua Hari yang Lalu Punya Sebutan Sendiri, Bukan ‘Kemarin Lusa’, Loh!

Artinya, anak ayam jantan bisa disaring lebih awal tanpa harus disiksa setelah lahir.

Mesin seperti “Cheggy” di Amerika Serikat bahkan bisa menyortir 25.000 telur per jam.

Di Eropa, praktik pemusnahan anak ayam jantan sudah dilarang sejak 2022.

Bahkan sekarang, teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah dikembangkan untuk mengenali jenis kelamin ayam dari wajahnya—tanpa perlu menyentuh atau melukai.

Namun, di Indonesia praktik eliminasi belum diatur ketat.

Anak ayam jantan layer tetap dianggap tidak berguna, lalu dijual ke pasar dalam bentuk "mainan hidup" penuh warna, hanya demi terlihat menarik.

Baca Juga: FAKTA UNIK, Balancing Rock, Misteri BATU MELAYANGdi Bukit Bintan, Pesona Unik Pulau Belitung yang Bikin Takjub!

Sudut Pandang Etika dan Kesejahteraan Hewan

Apakah memelihara anak ayam warna-warni adalah hal buruk?

Tidak selalu. Tapi harus disadari bahwa mereka bukan mainan. Mereka makhluk hidup yang butuh makan, tempat hangat, dan perhatian.

Kita mungkin berpikir “hanya ayam”, tapi kalau kita membiarkan penyiksaan terjadi karena bentuknya kecil dan lucu—maka, kapan kita belajar jadi manusia yang lebih baik?

Sampai hari ini, belum ada aturan tegas di Indonesia yang melarang pengecatan anak ayam.

Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri, pilih hewan peliharaan dengan empati, bukan karena impuls sesaat.

Baca Juga: FAKTA UNIK, 10 Tumbuhan Langka dan Unik di Dunia, Ada yang BISA MELEDAK hingga Menari! No 6 Hanya ada di INDONESIA

Ringkasan Ilmiah

Konteks Fakta Ilmiah
Limbah Penetasan Umumnya anak ayam jantan layer; tidak produktif, sering dieliminasi atau dijual murah
Teknologi Sexing In-ovo sexing mendeteksi kelamin sebelum menetas, alternatif etis sudah digunakan di Eropa & AS
Pewarnaan Dilakukan demi menarik pembeli, tapi banyak menggunakan bahan kimia yang berbahaya
Dampak Biologis Pewarna bisa menimbulkan stres, gangguan suhu tubuh, hingga iritasi atau kematian
Status Regulasi Indonesia belum punya larangan khusus, tapi bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan

Di bagian bawah artikel ada kolom komentar, bantu berikan tanggapan dan share artikel ini ya.

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: