POJOKSATU.ID - Kali membahas tentang studi kasus Perencanaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) pada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025.
LKPD kerap menjadi tantangan nyata dalam proses pembelajaran di berbagai sekolah, khususnya SD.
Berikut contoh soal studi kasus PPG tahun 2025 topik Perencanaan LKPD:
Masalah
Pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025, di SD Negeri 20, guru kelas V, Bu Novi menghadapi tantangan besar dalam proses pembelajaran tematik.
Meskipun ia telah menyusun LKPD untuk mendukung pembelajaran, siswa terlihat kurang aktif, tidak fokus, dan hasil belajar pun tidak memuaskan.
LKPD yang disusun terkesan monoton, terlalu teoritis, dan tidak kontekstual dengan kehidupan siswa. Banyak siswa hanya menyalin tanpa memahami isi LKPD.
Baca Juga: Kenapa 30 Juli Diperingati Sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka? Begini Sejarahnya
Ketika diberi tugas mandiri, mereka kebingungan karena petunjuk dalam LKPD tidak jelas. Guru juga tidak melakukan refleksi atau penyesuaian terhadap LKPD yang sudah dibuat.
Akibatnya, LKPD justru menjadi beban, bukan alat bantu belajar yang bermakna.
Solusi
Untuk mengatasi hal ini, Bu Novi mengikuti workshop perencanaan LKPD berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan diferensiasi belajar.
Baca Juga: 7.569 Siswa Madrasah Ikuti Porseni Jateng 2025 di Purwokerto, Apa Saja Cabang yang Dilombakan?
Ia belajar bahwa LKPD yang baik harus memuat tujuan pembelajaran yang jelas, aktivitas yang bermakna, kontekstual, dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Bu Novi kemudian melakukan evaluasi terhadap LKPD yang telah digunakan. Ia mengubah LKPD menjadi lebih interaktif, dengan menggunakan gambar, studi kasus, pertanyaan terbuka, kolom refleksi siswa.
LKPD juga dirancang berdasarkan hasil analisis gaya belajar siswa (visual, auditori, kinestetik), sehingga satu materi memiliki lebih dari satu bentuk aktivitas.
Selain itu, Bu Novi melibatkan siswa dalam menyusun bagian dari LKPD sebagai bentuk pembelajaran berbasis student voice. Ia juga meminta umpan balik dari rekan sejawat melalui lesson study.
Dampak
Perubahan ini membawa dampak signifikan. Siswa menjadi lebih antusias dalam mengerjakan LKPD karena merasa kegiatan belajar lebih menyenangkan dan sesuai dengan cara belajar mereka.
Mereka mulai berani berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan bekerja sama menyelesaikan tugas.
Hasil penilaian formatif menunjukkan peningkatan dalam pemahaman konsep. Selain itu, guru menjadi reflektif dan kreatif dalam menyusun LKPD.
Kolaborasi antar guru juga meningkat, karena LKPD yang berhasil digunakan kemudian dibagikan kepada rekan guru di kelas lain.
Pelajaran Bermakna
Studi kasus ini memberikan pelajaran bahwa LKPD bukan sekadar kumpulan soal atau tugas. LKPD adalah jembatan antara tujuan pembelajaran dan keterlibatan aktif siswa.
Dalam menyusunnya, guru harus memahami kebutuhan siswa, konteks pembelajaran, serta prinsip-prinsip pedagogi seperti pembelajaran aktif dan diferensiasi.
Guru juga perlu terbuka terhadap umpan balik, baik dari siswa maupun rekan sejawat.
Perencanaan LKPD yang baik harus menjadi bagian dari refleksi terus-menerus dalam praktik pembelajaran.
Dengan perencanaan LKPD yang matang, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membangun proses belajar yang bermakna dan memberdayakan siswa.
Baca Juga: Banyak Pungli di Sekolah Kota Cirebon, Orang Tua Siswa Gruduk Kantor Disdik
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Dalam praktiknya, guru perlu membuka ruang refleksi dan umpan balik agar perencanaan LKPD tidak bersifat statis. Dengan perencanaan yang matang, LKPD dapat menjadi alat pemberdayaan belajar, bukan sekadar tugas tambahan.




