POJOKSATU.id — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa Pramuka kembali menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah sebagai bagian dari strategi nasional membentuk karakter pelajar Indonesia.

Dalam Perkemahan Anak Indonesia Hebat jenjang SMP yang digelar bersama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Fajar menyebut Pramuka sebagai laboratorium kepemimpinan yang membentuk generasi jujur, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Acara ini diikuti oleh 302 peserta dari delapan wilayah Jawa Barat dan Jakarta, dan menjadi momentum penting penguatan nilai karakter lewat kegiatan aktif, kolaboratif, dan disiplin.

“Pramuka melatih anak menjadi manusia yang jujur dan siap menghadapi era digital. Pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, dan Pramuka adalah medium paling efektif,” ujar Fajar, Minggu (27/7/2025).

Baca Juga: PPG Daljab 2025 Bukan Sekadar Pelatihan: Mampukah Kemenag Menjawab Tantangan Kualitas Guru dengan Skema LMS, RPL, dan Penilaian Kompetensi

Pemerintah pun menerbitkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang menetapkan Pramuka sebagai kegiatan wajib di seluruh satuan pendidikan dasar dan menengah.

Dalam kemah tersebut, diterapkan juga program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang mencakup bangun pagi, ibadah, olahraga, makan sehat, semangat belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

Lewat sesi interaktif, siswa menunjukkan pemahaman tentang nilai Dasa Dharma dan membagikan pengalaman nyata, seperti jujur saat belanja dan berani melawan perundungan meski berisiko.

Fajar menegaskan bahwa integritas di masa depan akan lebih penting daripada sekadar ijazah, dan pembiasaan karakter ini menjadi fondasi utama menuju generasi unggul.

Baca Juga: 9 Cara Pola Asuh Orang Tua Jadi Kunci Kesuksesan Anak di Indonesia

Direktur SMP Maulani Mega Hapsari menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk menginternalisasi kebiasaan baik dalam kehidupan siswa sehari-hari, termasuk aksi sosial.

Testimoni siswa memperkuat dampak kegiatan ini, mulai dari perubahan gaya hidup sehat hingga peningkatan semangat kontribusi sosial di lingkungan masing-masing.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso menyatakan karakter tidak bisa dibentuk lewat ceramah semata, melainkan dari pengalaman langsung seperti kemah.

Ia pun mengingatkan bahaya narkotika dan dampak negatif teknologi digital yang hanya bisa dilawan dengan karakter kuat dan moral yang kokoh.

Gerakan Pramuka, lanjut Budi, akan terus diperluas ke seluruh wilayah Indonesia untuk menjadi benteng moral generasi muda.

Baca Juga: Kronologi dan Penyebab Kebakaran Hebat Pasar Taman Puring: Kerugian Miliaran Rupiah

Sebagai penutup, Fajar mengajak peserta menjadi pelopor kebaikan dan membawa nilai positif ke sekolah maupun lingkungan sekitar.

“Tidak semua harus jadi Presiden, tapi semua bisa jadi manusia yang bermanfaat. Jadilah pemimpin jujur, tangguh, dan berintegritas,” ujarnya.

Program ini diyakini sebagai model pembinaan karakter nasional demi mewujudkan Indonesia Emas 2045, dengan generasi yang unggul secara akademis sekaligus kuat secara moral dan spiritual.***