POJOKSATU.id — Jelang pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025, beberapa daerah seperti Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Selatan mulai menggenjot berbagai persiapan.
Tak hanya skema pendaftaran, fokus utama juga diarahkan pada pencegahan kecurangan, pengaturan ulang kuota jalur masuk, serta memunculkan kembali sekolah unggulan berbasis prestasi.
Jabar Perketat Proses untuk Cegah Kecurangan
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, memastikan bahwa pelaksanaan SPMB tahun ini harus berjalan jujur dan transparan.
Ia menyebut Gubernur Dedi Mulyadi telah memberikan instruksi tegas untuk menjaga integritas seluruh tahapan seleksi.
"Pendataan yang akurat jadi kunci, dan kesadaran kolektif dari semua pihak dibutuhkan agar proses ini benar-benar bersih," ujar Herman.
Langkah antisipatif yang disiapkan meliputi penggunaan teknologi informasi, pengawasan baik dari internal maupun eksternal, serta kampanye edukatif kepada masyarakat.
Salah satu potensi kecurangan yang masih menjadi sorotan ialah praktik manipulasi domisili melalui pemindahan kartu keluarga (KK) demi mengakses sekolah favorit.
Proses verifikasi dan evaluasi sistem pun terus diperkuat.
Domisili Menyusut, Prestasi Naik
SPMB 2025 membawa perubahan mencolok dalam skema kuota jalur masuk.
Jalur zonasi—yang kini berganti nama menjadi jalur domisili—dipangkas dari 50 persen menjadi hanya 30–35 persen.
Sebaliknya, jalur prestasi mengalami lonjakan besar dari 5 persen menjadi 25–30 persen, sebagai upaya untuk mengedepankan capaian akademik dan non-akademik siswa.
Jalur afirmasi tetap mendapat porsi signifikan sebesar 30 persen, ditujukan bagi siswa dari keluarga tidak mampu serta penyandang disabilitas.
Adapun jalur perpindahan orang tua atau mutasi hanya mendapat alokasi 5 persen dan wajib dibuktikan dengan dokumen resmi.
Di Provinsi Sulawesi Selatan, tersedia total 126.498 kursi untuk jenjang SMA dan SMK.
Rinciannya, sebanyak 80.040 kursi dialokasikan untuk SMA dan 46.908 untuk SMK.
Khusus di Kota Makassar, hanya tersedia 8.508 kursi SMA negeri dari total 23.000 kursi negeri dan swasta, menandakan bahwa kompetisi masuk sekolah negeri tetap sangat ketat.
Sekolah Unggulan Dihidupkan, Tes Terbuka Jadi Syarat
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan dukungannya untuk menghidupkan kembali sekolah-sekolah unggulan.
Sekolah tersebut nantinya tidak terikat pada sistem zonasi dan akan memberlakukan tes terbuka bagi seluruh calon siswa.
“Kita bentuk kembali SMA unggulan, tidak ada zonasi. Masuknya pakai tes,” tegas Sudirman.
Kebijakan ini didukung penuh oleh Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin.
Ia mengungkapkan bahwa sekolah unggulan akan lebih banyak menggunakan jalur prestasi, termasuk melalui Tes Potensi Akademik (TPA) sebagai mekanisme seleksi utama.
Dinas Pendidikan Sulsel juga tengah memetakan sekolah-sekolah negeri berkinerja tinggi yang dinilai layak dijadikan sebagai sekolah unggulan, antara lain SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5, dan SMAN 17 Makassar.
Perubahan arah kebijakan ini menjadi sinyal bahwa seleksi penerimaan siswa baru ke depan tak lagi hanya berpijak pada lokasi domisili, tetapi juga menuntut kesiapan dan kualitas siswa secara lebih menyeluruh.
Pertanyaannya, apakah bapak ibu di lapangan masih menemukan praktik kecurangan di daerahnya? Jangan takut untuk melaporkan. Karena jika dibiarkan, banyak pihak yang akan dirugikan.
Tulis di kolom komentar, di bagian bawah artikel ini dan bagikan informasi ini.
Informasi lain berkaitan dengan SPMB 2025 dapat diikuti di pojoksatu.id melalui link berikut: [INFO SPMB]. ***




